Kanker Serviks Mengancam Kaum Hawa

kanker serviks

Salah satu jenis kanker yang menjadi momok bagi kaum hawa adalah kanker serviks atau kanker leher rahim. Kanker ini merupakan jenis penyakit kanker paling umum kedua di seluruh dunia yang biasa diderita wanita di atas usia 15 tahun. Faktanya, di dunia sekitar 500 ribu wanita didiagnosa menderita kanker serviks dan rata-rata 270.000 kematian terjadi setiap tahunnya atau dengan kata lain setiap dua menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan  setiap harinya terjadi 41 kasus baru kanker serviks dan 20 perempuan meninggal  dunia karena penyakit tersebut. Tingginya angka ini biasanya disebabkan oleh  rendahnya pengetahuan dan kesadaran akan bahaya kanker serviks. Menurut survei yang melibatkan 5.423 wanita Asia dan dilakukan pada 9 negara, termasuk Indonesia, terbukti hanya 2 persen wanita yang mengetahui bahwa infeksi HPV merupakan penyebab kanker serviks. Jadi pengetahuan perempuan mengenai penyebab kanker serviks masih sangat minim. Semoga tulisan ringkas ini memberikan ilmu yang bermanfaat.

Mengenal Kanker Serviks

Kanker serviks atau kanker leher rahim (sering juga disebut kanker mulut rahim) merupakan salah satu penyakit kanker yang sering menyerang kaum wanita.  Kanker ini terjadi di bagian organ reproduksi seorang wanita. Serviks (leher rahim) adalah bagian yang sempit di sebelah bawah antara vagina dan rahim seorang wanita. Di bagian inilah tempat terjadi dan tumbuhnya kanker serviks. Tidak kurang 99,7% kasus disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim.

Penyebab Kanker Serviks

Penyebab paling umum kanker serviks adalah serangan virus HPV (Human Papilloma Virus). Ada 100 tipe virus HPV yang teridentifikasi dan kebanyakan tidak berbahaya serta tidak menunjukkan gejala. Sebanyak 40 tipe HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Sasarannya adalah alat kelamin dan digolongkan menjadi dua golongan yaitu tipe HPV penyebab kanker (HPV onkogenik) dan HPV beresiko rendah.

Terdapat 15 jenis tipe yang menyebabkan kanker yang dapat mengarah kepada kanker serviks. HPV 16, 18, 45 dan 31 merupakan penyebab lebih dari 80 persen kasus kanker di Asia Pasifik dan dunia. HPV 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di seluruh dunia.  Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini seringkali tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker sebagian besar berlangsung tanpa gejala.

Infeksi HPV paling sering terjadi pada kalangan dewasa muda (18-28 tahun). Perkembangan HPV ke arah kanker serviks pada infeksi pertama tergantung dari jenis HPV-nya. HPV tipe
risiko rendah atau tinggi dapat menyebabkan kelainan yang disebut pra-kanker. Tipe HPV
yang berisiko rendah hampir tidak berisiko, tetapi dapat menimbulkan genital warts (kutil di kelamin). Walaupun sebagian besar infeksi HPV akan sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 tahun karena adanya sistem kekebalan tubuh alami, namun infeksi yang menetap yang disebabkan oleh HPV tipe tinggi dapat mengarah pada kanker serviks.

Gejala Kanker Serviks

Kebanyakan infeksi HPV berlangsung tanpa gejala, sehingga kebanyakan wanita tak akan menyadari dirinya sedang terinfeksi HPV. Adapun gejala kanker leher rahim adalah;
– Perdarahan vagina (namun tidak berarti setiap wanita yang mengalami perdarahan terkena kanker leher rahim). Biasanya perdarahan terjadi setelah hubungan seksual.
– Keputihan bercampur darah dan berbau
– Nyeri panggul
– Tidak dapat buang air kecil dan sakit ketika buang air kecil
– dll

Faktor Risiko Kanker Serviks

Risiko tinggi penderita kanker serviks adalah wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat dini, sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan. Risiko sudah dimulai dari kontak seksual pertama kali yang dilakukan oleh wanita. Diperkirakan 50-80 persen wanita mendapatkan infeksi HPV melalui kontak kelamin dalam hidup mereka dan sampai dengan 50 persen infeksi tersebut berpotensi menyebabkan kanker.

Sering kali, pria yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi HPV itulah yang menularkannya kepada pasangannya. Seorang pria yang melakukan hubungan seks dengan seorang wanita yang menderita kanker serviks, akan menjadi media pembawa virus ini. Selanjutnya, saat pria ini melakukan hubungan seks dengan istrinya, virus tadi dapat berpindah kepada istrinya dan menginfeksinya.Namun, ini tak menutup kemungkinan penularan terjadi pada wanita yang melakukan hubungan seksual dengan satu pasangan saja, masih terdapat faktor-faktor lain yang bisa menularkan virus HPV. Antara lain jika kita duduk di toilet umum yang sebelumnya diduduki oleh penderita kanker serviks.

Buruknya gaya hidup seseorang dapat menjadi penunjang meningkatnya jumlah penderita kanker ini. Kebiasaan merokok,  kurang mengkonsumsi vitamin C, vitamin E dan asam folat dapat menjadi penyebabnya. Mengkonsumsi makanan bergizi akan membuat daya tahan tubuh meningkat dan dapat mengusir virus HPV. Faktor penyebab kanker serviks lainnya adalah penggunaan pil KB dalam jangka waktu lama atau berasal dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit kanker.

Deteksi Dini Kanker Serviks

Cara mendeteksi kanker serviks secara dini yang populer adalah dengan melakukan Pap smear. Tes ini dapat mendeteksi awal kanker serviks dimana perubahan sel dapat diidentifikasi di leher rahim.Seperti sifat kanker pada umumnya, tak akan terlihat gejala apapun (secara fisik) pada stadium awal dari kanker serviks. Namun deteksi dini penting untuk dilakukan karena dapat membantu mendeteksi perkembangan kanker serviks, meski tak dapat mencegah terjadinya infeksi HPV.Risiko berkembangnya kanker serviks pada wanita yang tidak melakukan screening (deteksi awal) secara teratur adalah lima kali lebih tinggi dibandingkan yang teratur. Maka adanya deteksi sejak dini amatlah penting. Jika kanker serviks ditemukan dalam tahap pra kanker, maka masih terdapat potensi untuk kesembuhan. Tes lain yang bisa dilakukan untuk mengetahui kemungkinan kanker serviks adalah dengan melakukan tes HPV-DNA (tes biomolekuler), Kolposkopi (alat pemeriksaan berupa teropong), dan tes IVA (tes menggunakan asam asetat 3-5 persen).

Selain itu, penggunaan vaksin juga penting. Saat ini sudah ada suatu vaksin yang menargetkan HPV tipe 16 dan 18..Vaksin ini akan meningkatkan kemampuan sistem kekebalan untuk mengenali dan menghancurkan virus ketika masuk ke dalam tubuh, sebelum membentuk infeksi. Berdasarkan penelitian, terbukti bahwa vaksin yang menargetkan HPV tipe 16 dan 18 berpotensi mencegah lebih dari 70 persen kasus kanker serviks di dunia.Vaksin HPV ditujukan untuk perempuan usia 10 tahun sampai dengan 55 tahun, dengan jadwal pemberian 3 dosis, yaitu bulan ke-0, bulan ke-1, dan bulan ke-6. Kendalanya adalah harga vaksin yang masih mahal. Di masa mendatang, diharapkan vaksinasi bersama deteksi dini dapat mengurangi resiko terkena kanker serviks dibandingkan hanya dengan deteksi dini saja.

Penanganan Kanker Serviks

Jika terinfeksi HPV, jangan cemas, karena saat ini tersedia berbagai cara pengobatan yang dapat mengendalikan infeksi HPV. Beberapa pengobatan bertujuan mematikan sel-sel yang mengandung virus HPV. Cara lainnya adalah dengan menyingkirkan bagian yang rusak atau terinfeksi dengan pembedahan listrik, pembedahan laser, atau cryosurgery (membuang jaringan abnormal dengan pembekuan).

Jika kanker serviks sudah sampai ke stadium lanjut, maka akan dilakukan terapi kemoterapi. Pada beberapa kasus yang parah mungkin juga dilakukan histerektomi yaitu operasi pengangkatan rahim atau kandungan secara total. Tujuannya untuk membuang sel-sel kanker serviks yang sudah berkembang pada tubuh.

Hidup Sehat Tanpa Kanker Serviks

Mencegah lebih baik daripada mengobati.. Meski kanker serviks menakutkan, namun kita semua bisa mencegahnya. Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan program skrinning dan pemberian vaksinasi. Di negara maju, kasus kanker jenis ini sudah mulai menurun berkat adanya program deteksi dini melalui pap smear. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah kanker serviks antara lain:

  • Lakukan  pola makan sehat, yaitu kaya dengan sayuran dan buah untuk merangsang sistem kekebalan tubuh. Misalnya mengkonsumsi berbagai makanan yang mengandung karoten, vitamin A, C, dan E, dan asam folat dapat mengurangi risiko terkena kanker leher rahim.
  • Hindari merokok. Banyak bukti menunjukkan penggunaan tembakau dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks.
  • Hindari seks sebelum menikah atau di usia sangat muda.
  • Menghindari berhubungan seks selama masa haid terbukti efektif untuk mencegah dan menghambat terbentuknya dan berkembangnya kanker serviks.
  • Hindari berhubungan seks dengan banyak partner.
  • Secara rutin menjalani tes Pap smear secara teratur. Saat ini tes Pap smear bahkan sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas dengan harga terjangkau.
  • Alternatif tes Pap smear yaitu tes IVA dengan biaya yang lebih murah dari Pap smear. Tujuannya untuk deteksi dini terhadap infeksi HPV.
  • Pemberian vaksin atau vaksinasi HPV untuk mencegah terinfeksi HPV.
  • Melakukan pembersihan organ intim atau dikenal dengan istilah vagina toilet. Ini dapat dilakukan sendiri atau dapat juga dengan bantuan dokter ahli. Tujuannya untuk membersihkan organ intim wanita dari kotoran dan penyakit.

Demikian penjelasan ringkas tentang kanker serviks. Semoga dapat bermanfaat.

 

About Author

dr. Adika Mianoki

Alumni Ma'had Al 'Ilmi, lulusan FK UGM, saat ini sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis di FK UGM-RSUP Sardjito.

View all posts by dr. Adika Mianoki »

2 Comments

  1. dhea says:

    Assalamu ‘alaikum, lalu bagaimana dengan batasan aurat antar wanita, apakah pendeteksian dini dengan papsmear termasuk keadaan darurat?

    • Memang tidak termasuk kondisi darurat. Akan tetapi jika itu memang diperlukan, dan dilakukan oleh dokter dan tim medis wanita yang amanah, insyaAllah ini termasuk menampakkan aurat yang diperbolehkan. Wallahu a’lam.

Leave a Reply