5 Ciri Khas Migrain

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Migrain adalah salah satu nyeri kepala yang  cukup sering terjadi. Sebuah data menyebutkan, dari total populasi manusia berusia 18-65 tahun dilaporkan pernah mengalami sakit kepala, dan sekitar 30 persen merupakan sakit kepala migrain.

Ciri Khas Migrain

Apa saja ciri-ciri nyeri kepala jenis migrain ini ?

(1). Terjadi pada sebagian kepala.

Migrain umumnya terjadi pada salah satu sisi bagian kepala saja. Pada kasus tertentu, nyeri dapat muncul di kedua sisi kepala dan bahkan terjadi pada leher.

(2). Nyeri kepala dirasakan berdenyut.

Ini yang membedakan migrain dengan sakit kepala yang lain. Penderita akan mengalami nyeri kepala seperti berdenyut-denyut di satu atau kedua sisi kepala di sekitar area pelipis, dahi hingga ke mata.

(3). Intensitas nyeri sedang-berat.

Jika muncul serangan migrain, maka intensitas nyeri biasanya dirasakan berat sehingga mengganggu aktifitas penderitanya.

(4). Diperberat dengan aktifitas.

Gejala migrain akan semakin berat jika penderita beraktifitas fisik. Tanpa pengobatan, sakit kepala biasanya sembuh sendiri dalam 4 sampai 72 jam.

(5). Disertai gejala penyerta dan aura.

Migrain umumnya disertai dengan gejala penyerta seperti mual, muntah, serta sensitif terhadap cahaya, suara, dan bau.  Pada kondisi tertentu migrain juga bisa disertai gejala aura seperti melihat kilatan cahaya atau kesemutan.

Diagnosis Migrain

Tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis penyakit migrain. Migrain dapat didiagnosis dengan mengidentifikasi pola sakit kepala yang sesuai dengan gejala migrain yang muncul. Selain nyeri kepala, sebagian penderita turut merasakan mual, muntah, dan menjadi jauh lebih peka terhadap cahaya atau suara. Secara umum, ada dua jenis migrain :

  • Migrain tanpa aura: sakit kepala migrain yang terjadi tanpa tanda-tanda atau gejala aura. Migrain tanpa aura didiagnosis setelah pasien diketahui memiliki sejarah serangan migrain sebanyak lima kali.
  • Migrain dengan aura: tanda-tanda yang mengawali sakit kepala migrain disebut aura. Tanda-tanda yang dirasakan sebelum terjadi migrain ini umumnya berupa masalah penglihatan (kilatan cahaya pada mata), kekakuan pada leher dan kesemutan pada anggota tubuh. Migrain dengan aura juga dikenal sebagai migrain klasik. Jenis ini dialami sekitar sepertiga dari pengidap migrain.

Faktor-faktor yang Menjadi Penyebab Migrain

Penyebab migrain masih belum diketahui secara pasti, namun beberapa faktor berikut diduga berperan menjadi penyebabnya :

  • Faktor hormonPerubahan hormon menyebabkan sebagian wanita merasakan migrain pada masa menstruasi. Fakta menunjukkan, wanita lebih sering menderita migrain daripada laki-laki.
  • Pada anak-anak yang memiliki berat badan berlebih memiliki risiko terkena serangan migrain lebih sering.
  • Faktor gen. Sekitar setengah pengidap migrain memiliki keluarga yang juga mengalami migrain.
  • Konsumsi makanan dan minuman tertentu. Kafein, coklat, keju bumbu penyedap masakan, dan alkohol dapat memicu migrain.
  • Faktor pemicu lainnya, seperti stres dan kelelahan fisik juga berpengaruh memicu serangan migrain.

Mencegah Migrain

Kambuhnya migrain dapat dicegah dengan langkah-langkah berikut:

  • Menjalani gaya hidup sehat dengan tidur cukup dan teratur
  • Lakukan aktifitas olahraga secara teratur
  • Atur pola makan yang sehat dan batasi konsumsi minuman keras, dan kafein.
  • Mengenali dan menghindari pemicu migrain, seperti kurang istirahat, stres, dan konsumsi makanan serta minuman tertentu.
  • Menghindari konsumsi obat-obatan tertentu. Pada wanita yang mengidap migrain, disarankan untuk menghindari obat-obatan yang mengandung hormon estrogen, seperti pil KB.

Tetap Waspada

Migrain tergolong penyakit yang umum terjadi sehingga kerap kali dianggap sebagai penyakit yang tidak perlu ditangani secara khusus. Meski begitu, Anda tetap disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter jika mengalami serangan migrain lebih dari lima hari dalam sebulan atau jika rasa sakit yang ditimbulkan sudah tidak dapat ditangani dengan obat-obatan yang dijual bebas di pasaran. Tidak disarankan untuk mengonsumsi terlalu banyak obat pereda rasa sakit secara terus-menerus karena nantinya dapat mempersulit penyembuhan sakit kepala.

Share.

About Author

Alumni Ma'had Al 'Ilmi, lulusan Fakultas Kedokteran UGM, saat ini sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi di FK UGM-RSUP Sardjito.

Leave A Reply