6 Mitos Seputar Epilepsi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Banyak masyarakat beranggapan keliru tentang penyakit epilepsi. Mitos yang salah tentang penyakit ini pun terus berkembang di masyarakat. Berikut akan kami ulas secara ringkas beberapa mitos keliru yang banyak tersebar. Mudah-mudahan bisa memberikan persepsi yang benar tentang penyakit epilepsi.

(1). Epilepsi Tidak Menular
Epilepsi bukanlah penyakit menular. Penyakit yang bisa menular adalah penyakit yang disebabkan karena infeksi kuman, sedangkan epilepsi bukanlah penyakit menular. Seseorang tidak akan mengalami epilepsi saat berdekatan dengan penderita epilepsi. Pun demikian orang sehat tidak akan mengalami epilepsi jika bersentuhan dengan pendertia epilepsi, bahkan jika terkena ludahnya sekalipun. Oleh karena itu, tidak ada masalah orang yang sehat berinteraksi dan bergaul dengan penderita epilepsi karena epilepsi bukanlah penyakit menular.

(2). Epilepsi Bukan Penyakit Turunan
Tidak selalu orang yang menderita epilepsi anaknya pasti juga menderita epilepsi. Meskipun ada faktor genetik, namun tidak otomatis setiap orangtua epilepsi akan punya anak yang epilepsi juga. Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya epilepsi. Segala penyebab yang mengganggu aktivitas sel saraf mulai dari perkembangan otak yang tidak normal maupun penyakit atau kerusakan otak dapat menyebabkan epilepsi. Tumor otak, meningitis dan infeksi lain dari otak, stroke, cedera kepala, dan bahkan alkohol juga dapat menyebabkan terjadinya kejang maupun epilepsi.

(3). Epilepsi Bukan Kutukan
Mitos yang lain adalah menganggap epilepsi  sebagai bentuk dari penyakit  sawan atau kekuatan gaib, kesurupan, kemasukan roh jahat, bahkan kutukan Tuhan. Mitos ini masih banyak berkembang di masyarakat . Inilah mitos negatif yang justru memojokkan penderita epilepsi. Ini juga merupakan mitos yang mengakibatkan penderita epilepsi semakin dikucilkan. Fenomena tersebut terlihat pada masih banyaknya kejadian-kejadian pada penderita yang mengalami serangan epilepsi, namun tidak segera ditolong dengan cepat dan bahkan didiamkan atau ditinggal begitu saja, padahal ini bisa berakibat fatal.

(4). Epilepsi Bisa Disembuhkan
Epilepsi bisa diobati dan bahkan bisa sembuh sempurna dan tidak kambuh lagi. Kuncinya adalah pengobatan dan penanganan yang tepat. Dengan pemberian obat yang sesuai epilepsi dapat terkontrol dan bahkan bisa sembuh sempurna tanpa harus minum obat lagi. Tentu saja pasien harus ditangani oleh dokter yang tepat, bukan asal sembarang minum obat/herbal atau mengambil langkah pengobatan alternatif. Hanya saja, prosedur penyembuhannya memang memerlukan waktu yang tidak sebentar.

(5). Penderita Epilepsi Tidak Selalu Cacat Mental
Bisa dikatakan IQ tidak ada kaitannya dengan penyakit epilepsi. Bahkan, jika banyak orang yang menganggap penderita epilepsi adalah bodoh atau IQ jongkok, dalam realitanya sangat banyak penderita epilepsi yang bahkan memiliki IQ yang tingginya di atas rata-rata. Melihat adanya fakta ini, maka kini penderita epilepsi atau keluarga yang memiliki penderita epilepsi haruslah lebih baik dalam melihat potensi apa yang dimiliki sehingga tidak terkena diskriminasi di dalam kehidupan sosial masyarakat. Pada penderita epilepsi, fungsi dari bagian otak dan tubuh lainnya bisa jadi masih normal. Bahkan konon katanya nama-nama terkenal seperti Sir Alfred Nobel, Napoleon, dan Socrates dikenal sebagai penderita epilepsi.

(6). Penderita Epilepsi Tidak Boleh Menikah
Ada pula yang menganggap penderita epilepsi tidak boleh menikah. Orang yang menderita epilepsi masih bisa hidup normal. Mereka juga berhak untuk menikah. Wanita yang menderita epilepsi juga tetap bisa hamil dan punya anak. Namun yang perlu diperhatikan, wanita penderita epilepsi yang akan merencanakan kehamilan hendaknya selalu di bawah pengawasan dokter.
Demikian di antara beberapa mitos yang keliru tentang penyakit epilepsi. Semoga bermanfaat dan bisa mengubah persepsi yang salah tentang penyakit epilepsi.

Penyusun : dr. Adika Mianoki

Share.

About Author

Alumni Ma'had Al 'Ilmi, lulusan Fakultas Kedokteran UGM, saat ini sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi di FK UGM-RSUP Sardjito.

Leave A Reply