8 Mitos Seputar Khitan

Dalam masyarakat kita tersebar beberapa kesalahan dan mitos tentang khitan. Ada yang tampaknya berhubungan secara medis, ada pula yang tidak berhubungan sama sekali, bahkan mengarah kepada takhayul dan bertentangan dengan agama. Hal ini disebabkan karena pengetahuan medis yang kurang, kesalahpahaman, dan ada juga yang berhubungan dengan keyakinan yang keliru. Ada beberapa kesalahan dan mitos yang banyak tersebar,  untuk itu kami berupaya meluruskannya.

Pertama. Khitan hanya Sekadar Adat, bukan Ajaran Islam

Di masyarakat Indonesia, khitan memang sudah dikenal sejak lama. Yang perlu dipahami, tatkala seorang muslim melakukan khitan, landasan utamanya hedaknya bukan hanya mengikuti adat saja. Namun hendaknya meyakini bahwa khitan merupakan ajaran Islam dan perintah agama. Sebagian kaum muslimin masih belum menyadari hal ini. Mereka melakukan khitan karena mengikuti adat semata, atau hanya ingin mendapat manfaat secara medis saja. Hal ini kurang tepat. Seorang muslim tatkala melakukan khitan harus disertai niat  bahwa ini merupakan perintah agama dan bagian dari kewajiban yang bernilai ibadah. Dengan demikian seseorang akan mendapat pahala dengan melaksanakan ibadah khitan.

Kedua. “Hari Baik” untuk Khitan.

Sebagian orang memilih waktu-waktu tertentu untuk khitan. Hal ini sering kami temukan selama praktik. Ada yang mengkhususkan waktu khitan berdasarkan hari lahir (Jawa: weton), hari baik yang sudah diperhitungkan, atau hari-hari tertentu lainnya. Perbuatan ini disertai keyakinan bahwa waktu tersebut adalah waktu yang baik untuk melakukan khitan dan tidak boleh melakukan khitan di luar waktu-waktu yang telah ditentukan tadi. Kalau melakukan khitan di luar waktu tadi akan mendapat petaka/celaka. Hal ini tidak benar dan bertentangan dengan ajaran Islam.

Semua waktu adalah waktu yang baik untuk berkhitan. Pemilihan waktu khitan tidak ada hubungannya dengan nasib baik dan buruknya seseorang. Pada hakikatnya nasib baik dan buruknya seseorang merupakan ketetapan dari Allah Ta’ala, tidak ada hubungannya dengan waktu-waktu tertentu. Meyakini bahwa hari-hari tertentu merupakan hari sial atau hari keberuntungan sehingga menyebabkan seseorang melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan termasuk keyakinan yang dilarang dalam Islam, bahkan bisa termasuk dosa syirik.

Ketiga. Tidak Boleh Menangis ketika Khitan

Sebagian orang tua melarang anaknya untuk menangis ketika proses khitan berlangsung. Sebenarnya hal ini sah-sah saja. Namun yang keliru adalah ketika hal ini dikaitkan dengan keyakinan tertentu. Seperti yang tersebar di sebagian masyarakat kalau ketika dikhitan menangis nanti anak tersebut akan mendapat jodoh janda. Mitos dengan keyakinan seperti ini keliru. Seorang muslim hendaknya tidak percaya dengan mitos semacam ini.

Keempat. Tidak Boleh Khitan Bersama Saudara Kandung dalam Waktu Bersamaan.

Terdapat mitos juga yang tersebar di masyarakat bahwa bila saudara kandung bersamaan waktu khitannya maka salah satu di antara mereka ada  yang bermasalah dengan hasil khitannya. Keyakinan seperti ini juga keyakinan yang keliru dan bertentangan dengan agama Islam. Kesembuhan khitan tidak dipengaruhi oleh kondisi khitan bersamaan antara saudara kandung. Kesembuhan khitan dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, perawatan luka, serta faktor nutrisi anak yang dikhitan. Jadi jika ada saudara kandung yang khitan dalam waktu bersamaan, hal ini tidak masalah dan tidak akan mempengaruhi penyembuhan luka pada salah satu anak.

Kelima. Mengubur Bagian Kulit  yang Dipotong.

Sebagian orang tua yang anaknya dikhitan meminta agar bagian kulit penis yang dipotong untuk dibawa pulang. Hal ini juga sering kami dapati tatkala praktik. Ketika ditanya, “Untuk apa Pak?”. “Untuk dikubur Dok” jawabnya. Sebagian yang melakukan perbuatan ini disertai  keyakinan tertentu bahwa dengan mengubur bagian kulit yang dipotong tadi untuk “membuang sial”. Padahal kulit yang dipotong tadi adalah sisa kulit yang biasa, tidak ada hubungannya dengan nasib sial seseorang. Perbuatan dan keyakinan seperti ini juga termasuk keyakinan yang dilarang dalam Islam.

Keenam. Setelah Khitan Pertumbuhan Anak Lebih Cepat

Ada juga anggapan yang tersebar di masyarakat bahwa kalau anak setelah dikhitan kemudian badannya akan tumbuh menjadi lebih cepat besar . Hal ini tidaklah tepat. Pertumbuhan seorang anak tidak berhubungan langsung dengan khitan. Faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan adalah hormon, gizi, dan keturunan. Hanya faktor kebetulan saja kalau misalnya anak setelah dikhitan menjadi lebih cepat besar. Karena kebanyakan anak dikhitan bersamaan dengan usia masa pertumbuhan yang cepat yaitu sekitar usia 10-12 tahun. Jadi bukan karena faktor khitan yang mempengaruhi cepatnya pertumbuhan anak.

Ketujuh. Tidak boleh Makan Daging dan Telur setelah Khitan

Ada satu mitos yang beredar di masyarakat bahwa ketika selesai dikhitan harus menghindari makanan seperti daging, ikan, dan telur. Apabila anak yang baru saja dikhitan makan makanan tersebut akan menyebabkan lukanya lama sembuh. Mitos yang patut dipertanyakan, karena justru makanan tersebut mengandug protein tinggi yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Manfaat protein adalah untuk membentuk jaringan, pengganti sel yang rusak, dan berperan sebagai pembangun tubuh.

Kemungkinan awal beredarnya mitos ini dikarenakan ada anak yang selesai dikhitan memiliki alergi terhadap makanan yang mengandung protein sehingga mengakibatkan anak merasa gatal di daerah luka dan sembuhnya lama. Pada prinsipnya, jika anak tidak ada alergi terhadap makanan tertentu, tidak ada makanan yang harus dipantang setelah khitan.

Kedelapan. Fenomena Dikhitan Jin

Sering tersiar kabar di masyarakat, beberapa anak mengalami hal aneh, yaitu tiba-tiba penisnya mengalami perubahan seperti habis dikhitan. Hal ini diyakini oleh masyarakat bahwa anak tersebut telah dikhitan oleh jin atau makhluk halus. Benarkah demikian? Bagaimanakah tinjauan medis mengenai hal ini?

Fenomena seperti ini bisa dijelaskan secara medis. Anak yang mengalami kejadian seperti dikhitan jin dalam istilah medis disebut parafimosis. Parafimosis adalah  kelainan bentuk penis yang terjadi karena preputium yang tertarik ke belakang dan melipat serta menjerat batang penis sehingga tidak bisa lagi ditarik ke depan yang menyebabkan kepala penis terlihat seolah-olah seperti telah dikhitan. Kondisi yang menyebabkan terjadinya parafimosis antara lain faktor setelah ereksi, menarik penis terlalu kuat pada saat mau kencing, atau karena penis sering dibuat main-main pada anak sehingga menyebabkan kulup yang tertarik tidak bisa kembali lagi.

Anak yang mengalami kondisi ini harus segera dikhitan untuk mencegah agar kulup tidak menjerat penis. Jika tidak dikhitan, dikhawatirkan akan menjerat penis dan mencegah aliaran darah sehingga menyebabkan edema (bengkak) dan kematian jaringan penis. Sebaiknya segera hubungi dokter apabila ada anak yang menagalami kejadian seperti ini.

 

Inilah beberapa mitos yang sering tersebar di masyarakat. Mungkin masih ada mitos-mitos yang lain yang tidak kami sebutkan. Mitos-mitos tersebut terus berkembang karena ketidaktahuan mereka. Semoga penjelasan di atas dapat meluruskan mitos yang keliru yang selama ini tersebar di masyarakat umum.

About Author

dr. Adika Mianoki

Alumni Ma'had Al 'Ilmi, lulusan Fakultas Kedokteran UGM, saat ini sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi di FK UGM-RSUP Sardjito.

View all posts by dr. Adika Mianoki »

26 Comments

  1. agus says:

    berapa dok umur minimal untuk dikhitan

  2. Patudin says:

    Bagaimana untuk khitan akhwat, apa ada reference nya dok? Terima kasih

  3. Dhaniel says:

    Kebanyakan orang mengatakan jika memakan telur akan menyebabkan gatal daerah yg di jahit maka tandanya akan cepat kering,apakah betul dok?

  4. ipay says:

    Dok kalo seandainya sudah dikhitan tetapi kepala penisnya tidak ada atau kulit penis dengan kepala penis sama rata atau sejajar?

    • Coba diobservasi dulu beberapa waktu ke depan. Jika memang kepala penis masih tertutup kulit, ada kemungkinan bagian kulit yang dipotong waktu khitan terlalu sedikit. Untuk lebih yakinnya sebaiknya diperiksakan ke dokter, lebih bagus ke dokter spesialis bedah.

  5. davit says:

    dok klau perban yg terikat di burung yg sdh di kithan sdh lepas,,,,dan kelihatan kulit yg di potong membesar sedikit…itu tanda nya apa dok..?

  6. @momipey says:

    Iya insyaallah khitan bareng2 nggak masalah. Saya baru aja khitanin 3 anak sekaligus. Alhamdulillah lancar.

    https://ipeyphungkee.wordpress.com/2015/01/15/529/

    Triple Sunatan

  7. ana says:

    Dok, anak sy 12 belum khitan dan rencana sehabis ramadhan mau dikhitan. Selama ini dia sudah sholat 5 waktu. Pada saat khitan nanti dan belum sembuh, bagaimanakah wudlu dan sholatnya? Apakah seperti sholat orang sakit (misal tidak mampu duduk antara dua sujud dll) dan dilakukan semampunya? Syukron…

  8. bambang says:

    Assalamu’alaikum dok….

    Langsung saja dok….saya mau nanya apakah boleh khitan dibulan puasa dok…..trimakasih

    Wassalam…

  9. hendra says:

    1. Dok berarti khitan kapan saja boleh ya, termasuk saat hari raya Idul
    Fitri?
    2. Perlukah sesudah dikhitan memakai “celana khitan”, apakah bisa
    mempercepat penyembuhan luka?
    Syukron.

  10. hendra says:

    1. dokter, seberapa efektifkah penggunaan “celana khitan” ?
    2. bolehkah khitan di hari raya idul fitri? terimakasih.

  11. Dewi says:

    Assalamu’alaikum dok..

    Saya perempuan berusia 16 tahun. Saya belum pernah dikhitan, karena waktu saya baru dilahirkan orangtua saya mengatakan kalau dokter yang membantu persalinan ibu saya lupa.
    Yang mau saya tanyakan, apakah ibadah yang saya lakukan sah, jika saya tidak berkhitan? Dan apakah ketidak-khitanan saya ini berpengaruh pada kesehatan saya?

    • Khitan bagi wanita hukunya sunnah, seandainya tidak dikhitan pun tidak mengapa. Ibadah Anda tetap sah meskipun tidak dikhitan dan insyaAllah tidak berpengaruh terhadap kesehatan secara umum.

  12. jerawat.id says:

    makasih dok penjelsan dan pesan mitosnya .

  13. cheko says:

    asalam’mualaikum dok…,,,

    aku ayah satu orang anak. saya maunanya tentang mitos khitan, apa benar dok kalau anak kita baru di khitan. kita gak boleh melakukn hubungan intim karena bisa membuat penis anaknya susah sembuh/jikalau lukanyapun sudah membaik bakal terjadi pembekakkan kembali atau saemacamnya.

    terimakasih dok tolong di jawab

  14. -Menanggapi mitos yang pertama. Saya pernah mendapat pertanyaan dari seseorang yang berpandangan sempit “Sunat itu memotong atau membuang sebagian bagian dari tubuh. Apakah memotong bagian dari tubuh itu diperbolehkan secara hukum islam? . . .” Yah, kebanyakan mereka yang kontra terhadap sunat selalu beralibi seperti itu. Bagaimana seorang dokter menanggapinya? . . . . .

    – Menanggapi mitos yang ketiga. Menurut saya, itu terlihat lucu jika ada yang beranggapan demikian. Sepengalaman saya saat dikhitan, daripada menjerit atau menangis histeris lebih baik mengucap takbir. Itu yang pernah saya lakukan.

    – Menanggapi mitos yang keempat. Saya juga dikhitan dalam waktu yang bersamaan atau berbarengan dengan abang saya. Alhamdulilah, semua baik-baik saja tanpa ada kendala.

    #NamanyaJugaMitos

Leave a Reply