Adakah Konspirasi di Balik Wabah Virus MERS-CoV?? (Bagian Ke dua)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Apakah Terjadinya Wabah selalu Diikuti dengan Penjualan Vaksin?

Salah satu isu yang dihembuskan oleh penganut teori konspirasi adalah keyakinan bahwa wabah MERS-CoV sengaja “diciptakan” sebagai jalan masuk untuk menjual vaksin MERS-CoV terutama kepada calon jamaah haji dan umroh. Dengan cara inilah, “pencipta” virus dan vaksin MERS-CoV dapat mengambil keuntungan sebesar-besarnya [1]. Seolah-olah, membuat vaksin adalah pekerjaan mudah yang bisa dilakukan dalam waktu cepat. Keyakinan seperti ini tentu bertolak-belakang dengan fakta selama ini.

Wabah dalam skala yang besar atau bahkan lebih besar dari wabah MERS-CoV telah berulang kali terjadi dalam kurun waktu yang telah lampau. Namun, sampai saat ini, belum ada vaksin yang disetujui penggunaannya pada manusia untuk mencegah berulangnya wabah-wabah tersebut di masa mendatang. Kalau semua wabah adalah bagian dari konspirasi untuk menjual vaksin secara besar-besaran, tentu saat ini sudah ada vaksin untuk mengatasi wabah-wabah berikut ini:

  1. Wabah virus hepatitis E

Wabah virus hepatitis E berulang kali terjadi di India, Cina, Somalia, dan Uganda. Pada wabah hepatitis E di Uganda tahun 2007-2009, tercatat >10.196 orang terinfeksi virus hepatitis E dengan 160 kematian [2]. Belum lama ini, wabah hepatitis E berulang di tempat pengungsian di Maban County, Sudan Selatan. Relawan internasional yang tergabung dalam Médecins Sans Frontières (MSF) telah merawat 3.991 pasien dan mencatat 88 kematian, termasuk 15 orang wanita hamil (laporan sampai 6 Februari 2013) [3]. Virus hepatitis E saat ini juga menjadi ancaman kesehatan di negara maju. Sampai saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus hepatitis E. Jangankan vaksin, obat anti-virus spesifik untuk hepatitis E pun belum ada.

  1. Wabah SARS Coronavirus (SARS-CoV) di Cina dan Hongkong

Wabah SARS coronavirus yang terjadi pada tahun 2002-2003 ini menginfeksi 8.437 orang, dengan angka kematian mencapai 813 orang. Wabah ini meluas sampai ke Eropa, Kanada, Amerika Serikat, dan Amerika Selatan. Kurang lebih empat institusi pendidikan terkemuka berlomba-lomba untuk meneliti dan menemukan vaksin SARS-CoV seperti UniversitasToronto (1), UniversitasMcMaster (2), UniversitasPittsburgh (3),dan UniversitasBritish Columbia (4).Tidak ketinggalan pula, setidaknya ada enam perusahaan farmasi yang berasal dari Cina, Perancis, Austria, dan Amerika Serikat yang juga ikut menginvestasikan dana penelitian yang tidak sedikit untuk meneliti kandidat vaksin SARS-CoV, yaituperusahaan Sinovac/CAMS (5), Aventis Pasteur (6), Baxter Healthcare (7), Protein Sciences (8), US Vaccine Research Center (9), dan Chiron Vaccines (10) [4]. Sampai wabah SARS-CoV berahir dan sampai saat ini, tidak ada satu pun dari 10 kandidat vaksin-vaksin tersebut yang disetujui penggunaannya pada manusia (!!) [5].

  1. Wabah virus dengue (demam berdarah)

Virus dengue saat ini mewabah (endemis) di lebih dari 100 negara tropis dan sub-tropis. Setiap tahun diperkirakan ±50 juta orang terinfeksi di seluruh dunia, setengah juta orang di antaranya memerlukan perawatan di rumah sakit dan ±20.000 orang meninggal dunia. Proses pengembangan vaksin dengue bahkan telah dimulai ±70 tahun silam, namun sampai saat ini belum ada satu pun yang lolos untuk disetujui penggunaannya pada manusia [6, 7]. Apakah penganut teori konspirasi juga menganggap bahwa wabah demam berdarah adalah konspirasi untuk menjual vaksin? Padahal, berapa banyak biaya yang telah dikeluarkan untuk meneliti vaksin dengue selama ±70 tahun?

  1. Pandemi virus HIV

Virus HIV saat ini menjadi salah satu masalah kesehatan di banyak negara di seluruh dunia, dan menjadi pandemi sejak 30 tahun yang lalu. Lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia terinfeksi virus HIV, dengan >2 juta orang meninggal dunia setiap tahun. Penelitian untuk mencari dan menemukan vaksin HIV telah berlangsung sejak lebih dari 25 tahun yang lalu, namun belum ada satu pun yang disetujui penggunaannya pada manusia hingga saat ini [8]. Meskipun demikian, sebagian orang ternyata percaya bahwa virus HIV hanyalah virus konspirasi, virus fiktif yang tidak pernah ada! Hal ini akan kami jelaskan pada edisi berikutnya.

Lalu Mengapa Saat Ini Sudah Ditemukan Vaksin untuk Virus MERS-CoV?

Para penganut teori konspirasi kemudian menyebarkan berita bahwa saat ini vaksin untuk virus MERS-CoV telah ditemukan oleh ilmuwan di Amerika Serikat [9]. Informasi yang mereka kutip dari salah satu situs berita tersebut menunjukkan bahwa ilmuwan dari Maryland University dan perusahaan vaksin Novavax berhasil menemukan vaksin MERS-CoV dan siap menjualnya ke pasar dalam jutaan dosis. Hal ini semakin menguatkan dugaan mereka bahwa virus MERS-CoV diciptakan dalam bentuk “satu paket” dengan vaksinnya. Namun, setelah kami mengecek langsung ke publikasi aslinya di jurnal Vaccine, ternyata penelitian ini baru dilakukan di binatang coba (tikus), belum dalam tahap uji klinis di manusia, apalagi disetujui penggunaannya pada manusia dan boleh dijual ke pasaran [10]. Mengutip dari situs resmi WHO dan CDC, bahwa sampai saat ini belum ada vaksin (yang disetujui) untuk mencegah infeksi virus MERS-CoV [11, 12]. Jadi, masih panjang tahapan yang harus dilalui oleh kandidat vaksin MERS-CoV tersebut sebelum disetujui penggunaannya pada manusia. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua informasi yang kita dapatkan dari situs berita online adalah informasi atau berita yang benar, akurat, dan valid. Selain itu, yang harus dicatat adalah grup peneliti dari negara-negara lain (Belanda, Jerman, Cina, dan lain-lain) juga sedang berlomba-lomba menemukan vaksin MERS-CoV [13, 14]. Dan bisa jadi, tidak ada satu pun yang berhasil seperti sejarah kandidat vaksin SARS-CoV beberapa tahun yang lalu. [Bersambung]

[Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc]

 

Referensi:

[1]     http://baruselalu.wordpress.com/2014/05/10/virus-mers-sejata-kimia-baru-konspirasi-pabrik-farmasi-yahudi/

[2]     Teshale, et al. Hepatitis E epidemic, Uganda. Emerg Infect Dis2010; 16(1): 126-129.

[3]     http://www.msf.org/article/south-sudan-hepatitis-e-outbreak-escalating-refugee-camps

[4]     Marshall E and Enserink M. Medicine. Caution urged on SARS vaccine. Science 2004; 303(5660): 944-946.

[5]     Jiang S, Lu L, Du L. Development of SARS vaccines and therapeutics is still needed. Future Virology 2013; 8(1): 1-2.

[6]     Wallace D, Canouet V, Garbes P, et al. Challenges in the clinical development of a dengue vaccine. Curr Opin Virol2013; 3: 352-356.

[7]     Coller BG and Clements DE. Dengue vaccines: progress and challenges. Curr Opin Immunol2011; 23: 391-398.

[8]     Munier CM, Anderson CR, Kelleher AD.HIV vaccines, progress to date. Drugs2011; 71(4): 387-414.

[9]     http://m.liputan6.com/health/read/2048587/vaksin-mers-berhasil-diciptakan-di-amerika-serikat

[10Coleman CM, Liu YV, Mu H, et al. Purified coronavirus spike protein nanoparticles induce coronavirus neutralizing antibodies in mice. Vaccine 2014; 32: 3169-3174.

[11] http://www.who.int/csr/disease/coronavirus_infections/faq/en/

[12] http://www.cdc.gov/coronavirus/mers/faq.html

[13Ma C, Li Y, Wang L, et al. Intranasal vaccination with recombinant receptor-binding domain of MERS-CoV spike protein induces much stronger local mucosal immune responses than subcutaneous immunization: Implication for designing novel mucosal MERS vaccines. Vaccine 2014; 32: 2100-2108.

[14]    Song F, Fux R, Provacia LB, et al. Middle East respiratory syndrome coronavirus spike protein delivered by modified vaccinia virus Ankara efficiently induces virus-neutralizing antibodies. J Virol 2013; 87(21): 11950-11954.

 

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc

Seorang penulis buku, Dosen di Fak. Kedokteran UGM

Alumni Mahad Ilmi Yogyakarta

Master of Infection and Immunity

di Erasmus University Medical Centre Rotterdam, Netherlands

 

Artikel www.kesehatanmuslim.com

 

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

jika ingin konsultasi gratis, silahkan kirim pertanyaan di sini

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply