Adakah Konspirasi di Balik Wabah Virus MERS CoV?? (Bagian Ke empat – Selesai)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Setelah membahas teori konspirasi yang berkaitan dengan wabah virus MERS-CoV, pada edisi terakhir serial tulisan ini kami ingin membahas dampak dan bahaya mempercayai teori konspirasi yang disebarkan oleh para penganutnya, dengan mengambil contoh teori konspirasi virus HIV/AIDS.

Akibat Mempercayai Teori Konspirasi

Salah satu teori konspirasi yang terkenal adalah teori konspirasi virus HIV/AIDS. Teori konspirasi virus HIV diciptakan oleh seorang dokter gay berkebangsaan Amerika Serikat bernama Alan Cantwell, dalam bukunya “The Secret Origin of AIDS and HIV: How scientist produced the most horrifying plague of all time – and then covered it up”.Alan Cantwell “menikah” dengan “pasangan hidupnya” bernama Frank A. Sinatra pada tahun 2008 di Hollywood. Alan Cantwell adalah seorang penganut dan pemuja “teori Orgone”, yang menyatakan bahwa terdapat energi “gaib” kehidupan ketika seseorang mengalami (maaf) orgasme seksual. Energi “gaib” yang disebut “Orgone” ini kemudian menyebar dan merasuk ke seluruh alam kehidupan. Kepercayaannya terhadap teori Orgone ini dia ungkapkan dalam bukunya yang berjudul, “Dr. Wilhelm Reich: Scientific Genius – or Medical Madman?”

Alan Cantwell dan para “pengikutnya” percaya bahwa virus HIV sengaja “diciptakan” oleh pemerintah Amerika Serikat atau CIA untuk “menghabisi” warga AS keturunan Afrika. Selain itu, Alan Cantwell menyatakan bahwa virus HIV sengaja dibuat untuk menghabisi kaum gay dengan dimasukkan ke dalam vaksin hepatitis B pada tahun 1970-an di New York. Mungkin saat itu Alan Cantwell menyaksikan perlakuan diskriminatif atau tidak menyenangkan terhadap kaum gay di Amerika, atau mungkin dirinya sendiri yang mengalami perlakuan seperti itu, sehingga dia pun menciptakan teori konspirasi HIV tersebut untuk lebih menggambarkan tentang betapa kejinya penindasan terhadap kaum gay.

Padahal, kalau benar mereka sengaja menciptakan virus untuk mengambil keuntungan, seharusnya alur cerita menjadi: ciptakan virus HIV, buat wabah (epidemi) HIV di mana-mana, tidak lama kemudian luncurkan vaksin, menjualnya ke negara-negara yang mengalami epidemi, dan akhirnya keuntungan besar berhasil didapat. Padahal sekarang ini, epidemi HIV/AIDS sudah terjadi di berbagai wilayah, namun peneliti masih berkutat untuk mencari vaksinnya. Padahal untuk meneliti vaksin sejak puluhan tahun lalu sampai saat ini, tentu sudah menghabiskan biaya banyak sekali. Jadi, bukannya mendapatkan uang (alias “untung”) dengan menjual vaksin HIV, tetapi mereka justru mengeluarkan dan menghabiskan uang untuk meneliti vaksin HIV (alias “buntung”).

Ini di antara sebab mengapa para ilmuwan enggan jika berdiskusi dengan orang-orang penganut teori konspirasi. Bagaimana tidak, usaha dan kerja keras mereka untuk meneliti virus HIV dengan segala risiko yang ada, yang menghasilkan penemuan-penemuan penting dalam usaha pengembangan vaksin atau obat HIV, seolah-olah runtuh tidak ada nilainya di mata orang-orang penganut teori konspirasi!!

Selain kepercayaan yang telah kami sebutkan, masih banyak lagi kepercayaan-kepercayaan yang berkembang karena pengaruh teori konspirasi HIV/AIDS. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat, sebagian penduduk AS keturunan Afrika percaya bahwa terdapat obat untuk HIV, tetapi disembunyikan bagi orang miskin; obat untuk HIV saat ini sebenarnya menyebabkan HIV itu sendiri; obat HIV yang diresepkan dokter adalah racun; orang yang mau menjalani pengobatan HIV hanyalah kelinci percobaan pemerintah; dan dokter menyebar virus HIV melalui penggunaan kondom [1]. Keyakinan-keyakinan seperti ini tentu berakibat fatal. Penderita HIV/AIDS enggan melakukan tes HIV untuk diagnosis dini[2], menjadi tidak patuh terhadap proses pengobatan[3], dan melakukan hubungan seksual tanpa pengaman (kondom) sehingga semakin meningkatkan risiko penularan[4].

Dalam skala nasional, pemerintah Afrika Selatan di bawah Presiden Thabo Mbeki pun terpengaruh dengan isu-isu konspirasi ini. Thabo Mbeki percaya bahwa obat-obat HIV adalah racun berbahaya dan bahwa virus HIV tidak menyebabkan AIDS. Thabo Mbeki tidak percaya bahwa virus HIV benar-benar ada dan menyebabkan AIDS. Padahal, Afrika Selatan adalah salah satu negara yang paling parah terkena wabah HIV, dengan angka kejadian (prevalensi) HIV pada usia dewasa mencapai 18,8% dan ±5,5 juta orang terinfeksi virus HIV. Akibat pengaruh isu konspirasi, pemerintah Afrika Selatan kemudian tidak menyediakan obat-obat HIV standar (medis) kepada rakyatnya; dan justru menyediakan vitamin, jus lemon, dan bawang putih sebagai obat alternatif untuk HIV. Selain itu, Thabo Mbekijuga menolak dana bantuan internasional untuk mengatasi wabah HIV di negaranya. Lalu, apa dampaknya bagi Afrika Selatan ketika memiliki presiden penganut teori konspirasi? Selama kurun waktu tahun 2000-2005, diperkirakan lebih dari 330.000 warga Afrika Selatan meninggal akibat wabah HIV/AIDS. Ditambah lagi, lebih dari 35.000 bayi (baru lahir) terinfeksi virus HIV yang didapat dari ibunya karena tidak diterapkannya metode dan kebijakan untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS dari ibu ke anak [5].

Dari pembahasan ini bisa kita saksikan bahaya mempercayai teori konspirasi, baik bagi individu, apalagi bagi satu negara secara keseluruhan. Namun sekali lagi, ketika seseorang terlanjur percaya terhadap isu teori konspirasi, maka sangat sulit untuk dihilangkan meskipun dilakukan pendekatan dengan cara-cara edukasi yang intensif. Menurut mereka, teori konspirasi bagaikan (maaf) “kentut”, tidak bisa dilihat (baca: dibuktikan), namun sangat mudah dirasakan (baunya). Lalu, bagaimana jika pemerintah kita –Indonesia– percaya dengan isu-isu konspirasi virus MERS-CoV, virus HIV/AIDS, dan lain-lain yang dihembuskan oleh para penganut teori konspirasi di Indonesia ini?

Semoga tulisan serial ini dapat membuka wawasan kaum muslimin untuk lebih kritis terhadap isu-isu teori konspirasi yang dihembuskan oleh para penganutnya [6]. [Selesai]

[Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc]

Seorang penulis buku, Dosen di Fak. Kedokteran UGM

Alumni Mahad Ilmi Yogyakarta

Master of Infection and Immunity

di Erasmus University Medical Centre Rotterdam, Netherlands

 

 

Referensi:

[1]   Bogart LM dan Thorburn S.Are HIV/AIDS conspiracy beliefs a barrier to HIV prevention among Africans Americans? J Acquir Immune Defic Syndr 2005; 38(2): 213-218.

[2]   Bogart LM, Kalichman SC, Simbayi LC. Endorsement of a genocidal HIV conspiracy as a barrier to HIV testing in South Africa. J Acquir Immune Defic Syndr 2008; 49(1): 115-116.

[3]   Bogart LM, Wagner G, Galvan FH, Banks D.Conspiracy beliefs about HIV are related to antiretroviral treatment nonadherence among African American men with HIV. J Acquir Immune Defic Syndr 2010; 53(5): 648-655.

[4]   Bogart LM, Galvan FH, Wagner GJ, Klein DJ. Longitudinal association of HIV conspiracy beliefs with sexual risk among black males living with HIV. AIDS Behav 2011; 15: 1180-1186.

[5]   Chigwedere P, Seage GR, Gruskin S, Lee TH, Essex M. Estimating the lost benefits of antiretroviral drug use in South Africa. J Acquir Immune Defic Syndr  2008; 49(4): 410-415.

[6]   Bagian ke empat ini disarikan dari buku kami, “Imunisasi: Lumpuhkan Generasi? Menjawab Tuduhan Ummu Salamah, SH, Hajjam”, saat ini sedang dalam tahap pra-cetak oleh penerbit Pustaka Muslim, Yogyakarta.

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply