Adakah Konspirasi di Balik Wabah Virus MERS-CoV?? (Bagian Ke tiga)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Unta adalah Hewan yang Tangguh, Tidak Mungkin Menjadi Pembawa Virus MERS

Beberapa waktu yang lalu, tersebarlah pesan melalui jejaring sosial facebook berikut ini [1]:

“Pesan dari ust XXX dari Mekkah.Assalamualaikum … Ditujukan kepada umat Islam di seluruh penjuru dunia umumnya yang ada di Indonesia, khususnya yang mau umrah atau haji. Mengenai isu (fitnah) virus MERS yang katanya dari onta itu sangat bertentangan dengan Al Quran. Tentang fitnah (isu),Al Quran dengan jelas memberi tuntunan pada kita (yang artinya), (Jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita maka memperjelaslah kalian (duduk masalah berita tadi)). Artinya, “kita jangan mudah percaya”. Onta adalah makhluq ALLAH yang langka, yang bisa bertahan hidup di bawah terik matahari di tengah gurun sahara walau sengatan sinar matahari itu sampai di atas 50 derajat celcius dan bisa berjalan 70 mil tanpa berhenti, juga bisa bertahan tidak makan dan minum selama 3 hari 3 malam. Hewan ini pernah dikendarai Nabi Muhammad. Onta diabadikan dalam Al Quran. Firman ALLAH (yang artinya), (Tidakkah mereka memperhatikan bagaimana unta itu diciptakan?) Jika virus MERS memang berasal dari onta, bagaimana dengan pengembala onta yang setiap saat hidup bersamanya? Mengapa bukan pengembala itu yang pertama kali kena? Isu ini bukan penanggulangan virus, tapi penggalangan dana yang sasarannya adalah jamaah umrah dan haji sebagaimana suntik meningitis. Kemana dananya? Bagaimana dengan mereka yang ibadah umrah dan haji tanpa disuntik meningitis? Matikah mereka? Atau sakitkah? Dilarang (haram) bagi semua muslim meyakini, membaca dan menyebarkan fitnah virus MERS. Harap kerjasamanya kepada seluruh umat Islam menyebarkan berita ini sebagai bentuk perlawanan kita kepada mereka yang jelas-jelas memerangi umat Islam. Semoga ALLAH membalas niat jihad kita dengan ridha dan ampunan.” Selesai kutipan dari “ustadz” tersebut yang tidak perlu kami sebutkan namanya.

Begitu mudahnya menyebar isu-isu konspirasi dengan menggunakan dalil agama sebagai pembenaran, tanpa melihat bagaimana fakta ilmiah yang diperoleh melalui hasil penelitian para ahli yang kompeten di bidangnya. Satu hal yang harus dipahami adalah bahwa dunia ilmu pengetahuan (science) dibangun di atas prinsip integritas dan kejujuran. Terlalu mudah untuk mengungkap suatu data penelitian ketika data tersebut adalah data palsu dan data hasil rekayasa. Lalu, bagaimanakah kaitan antara virus MERS dengan unta?

Publikasi pertama penemuan virus MERS-CoV oleh dr. Ali Mohamed Zaki, PhD menunjukkan kemiripan virus MERS-CoV dengan coronavirus yang ditemukan di kelelawar (bat coronavirus)[2]. Akan tetapi, tidak ada satu pun kasus MERS pada manusia yang menunjukkan adanya riwayat kontak dengan kelelawar, dan kemungkinan transmisi (penularan) langsung virus MERS-CoV dari kelelawar ke manusia tampaknya sangat kecil terjadi [3]. Dari sinilah kemudian para peneliti mencari hewan lain yang mungkin menjadi perantara virus MERS-CoV ke manusia.

Pada bulan Oktober 2013, Chantal BEM Reusken et al. [4] mempublikasikan hasil risetnya bahwa semua (100%) dari sampel darah 50 unta yang berasal dari Oman (daerah yang terdampak wabah) dan 15 dari 105 (14%) sampel darah unta yang berasal dari Spanyol (daerah yang belum terdampak wabah) positif mengandung antibodi spesifik terhadap virus MERS-CoV. Antibodi spesifik terhadap virus MERS-CoV tidak dideteksi dalam darah binatang ternak yang lain seperti kambing dan sapi. Meskipun yang dideteksi “hanyalah” antibodi, bukan virus MERS-CoV sendiri, penemuan ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa unta telah terinfeksi virus MERS-CoV sehingga di dalam darahnya dapat dideteksi antibodi spesifik terhadap virus MERS-CoV. Ini adalah publikasi penelitian pertama kali yang menunjukkan kemungkinan “peran” unta sebagai pembawa virus MERS-CoV ke manusia.

Tidak lama kemudian, bulan Desember 2013, grup peneliti dari Belanda, Inggris, dan Qatar (yang dipimpin oleh peneliti dari Erasmus Medical Center, Belanda) berhasil mendeteksi virus MERS-CoV dari apusan hidung unta yang diperoleh dari peternakan unta di Qatar [5]. Ini adalah konfirmasi pertama kali bahwa memang benar virus MERS-CoV yang menyerang manusia ditemukan di unta. Bahkan, virus MERS-CoV yang ditemukan di apusan hidung unta ini identik dengan virus MERS-CoV yang menyerang 2 orang pasien dari peternakan unta yang sama (satu orang sebagai pemilik peternakan dan satu orang sebagai pekerja di peternakan tersebut). Belum dapat disimpulkan apakah virus MERS-CoV tersebut menular dari unta ke manusia ataukah tidak (atau sebaliknya), karena mungkin saja manusia dan unta terinfeksi bersamaan dari perantara (hewan) lain yang belum bisa diidentifikasi. Jika pengusung teori konspirasi menganggap bahwa ini adalah kebohongan, maka mungkin mereka tidak mengetahui bahwa sebagian ilmuwan yang tergabung dalam grup penelitian ini adalah muslim, seperti Mohamed Al-Thani, Salih A Al-Marri, Abdullatif Al Khal, Mohd M Al-Hajri, dan lain-lain. Silakan para pengusung teori konspirasi menanyakan langsung ke Dr. Mohd M Al-Hajri ([email protected]) apabila menganggap hal ini sebagai sebuah kebohongan dan konspirasi.

Belum lama ini, bulan April 2014, grup peneliti lainnya yang dipimpin oleh Universitas Bonn (Jerman) menemukan bahwa 632 dari 651 (97,1%) sampel darah unta yang diperoleh pada tahun 2003 (jauh sebelum wabah terjadi) dan tahun 2013 (ketika wabah sudah terjadi), positif mengandung antibodi spesifik terhadap virus MERS-CoV [6]. Sampel penelitian ini adalah dari peternakan unta di Uni Emirat Arab (UEA).Lagi-lagi, penelitian ini menunjukkan informasi penting bahwa sebenarnya unta telah terinfeksi virus MERS-CoV sejak beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum wabah MERS-CoV terjadi saat ini. Dari sini para pembaca dapat melihat bahwa konfirmasi bahwa unta mungkin sebagai pembawa virus MERS-CoV didapatkan melalui penelitian dengan mengambil sampel dari peternakan unta di berbagai negara, yaitu Oman, Spanyol, Qatar, dan UEA. Juga dilakukan oleh para peneliti yang independen dari berbagai negara (Inggris, Belanda, Jerman, Spanyol, Swedia, Austria), termasuk negara muslim sendiri (UEA, Oman, Qatar). Sehingga tidak mungkin bahwa hal ini merupakan data palsu atau data hasil rekayasa.

Bahkan kalau kita mau berpikir sejenak, bukankah hal ini secara tidak langsung menunjukkan “kehebatan” unta itu sendiri? Meskipun mereka terinfeksi virus MERS-CoV (sejak beberapa tahun yang lalu), mereka tetap bertahan hidup dan survive, berbeda dengan manusia. Namun sekali lagi, apakah virus MERS-CoV yang berasal dari unta inilah yang kemudian menular ke manusia dan menimbulkan wabah, hal ini belum dapat dipastikan. Juga belum dapat diungkap faktor apakah yang memicu terjadinya wabah virus MERS-CoV di manusia saat ini. Namun, sebagai salah satu bentuk pencegahan, hendaknya menghindari kontak langsung dengan unta untuk mencegah atau memperkecil kemungkinan penularan virus MERS-CoV. [Bersambung]

[Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc]

 

Referensi:

[1] Dikutipdengan sedikit penyesuaian ejaan dan tanda baca tanpa mengubah makna.

[2]Zaki AM, van Boheemen S, Bestebroer TM, Osterhaus AD, Fouchier RA. Isolation of a novel coronavirus from a man with pneumonia in Saudi Arabia. N Engl J Med 2012; 367: 1814-1820.

[3]de Wit E and Munster VJ. MERS-CoV: the intermediate host identified? Lancet Infect Dis2013; 13: 827-828.

[4] Reusken CBEM, Haagmans BL, Muller MA, et al.Middle East respiratory syndrome coronavirus neutralising serum antibodies in dromedary camels: a comparative serological study. Lancet Infect Dis2013; 13: 859-866.

[5]Haagmans BL, Al Dhahiry SHS, Reusken CBEM, et al.Middle East respiratory syndrome coronavirus in dromedary camels: an outbreak investigation. Lancet Infect Dis2014; 14: 140-145.

[6] Meyer B, Muller MA, Corman VM, et al.Antibodies against MERS coronavirus in dromedaries, United Arab Emirates, 2003 and 2013. Emerg Infect Dis2014; 20(4): 552-559.

 

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc

Seorang penulis buku, Dosen di Fak. Kedokteran UGM

Alumni Mahad Ilmi Yogyakarta

Master of Infection and Immunity

di Erasmus University Medical Centre Rotterdam, Netherlands

 

Artikel www.kesehatanmuslim.com

 

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

jika ingin konsultasi gratis, silahkan kirim pertanyaan di sini

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply