Adakah Konspirasi di Balik Wabah Virus MERS-CoV?? (Bagian Pertama)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Middle East Respiratory Syndrome(MERS) telah menjadi sebuah masalah kesehatan yang populer saat ini. Penyakit yang pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada tahun 2012 ini telah menyerang 536 orang dengan korban jiwa 145 orang (laporan dari bulan April 2012 – 9 Mei 2014) [1]. Tidak hanya menimbulkan ancaman kesehatan yang serius, wabah MERS-CoV juga menyebabkan kerugian dari sisi bisnis dan ekonomi. Beberapa rencana perjalanan umroh harus ditunda, terutama untuk calon jamaah berusia lanjut, sehingga menyebabkan kerugian agen dan biro perjalanan umroh. Beberapa jamaah umroh di Indonesia yang baru pulang dari Arab Saudi mengalami gejala yang diduga MERS, sehingga memerlukan perawatan dan isolasi khusus di rumah sakit.

Namun, yang membuat kami terkejut adalah dihembuskannya isu konspirasi oleh sebagian orang -bahkan yang mengaku ustadz- yang berkaitan dengan virus MERS-CoV. Virus MERS-CoV, menurut mereka, adalah virus buatan Yahudi atau Amerika (baca: senjata biologis) untuk melemahkan umat Islam, karena wabah terutama terjadi di negara-negara Timur Tengah yang notabene merupakan pusat dakwah dan syiar agama Islam. Sebagian mereka percaya bahwa virus MERS-CoV sengaja “diciptakan” sebagai alat bisnis untuk menjual vaksin MERS-CoV (terutama kepada jamaah haji dan umroh) sehingga mendapatkan keuntungan finansial dalam jumlah besar. Virus MERS-CoV dan vaksinnya, menurut mereka, diciptakan dalam “satu paket” oleh “ilmuwan” yang sama. Yang lebih parah lagi adalah isu bahwa virus MERS-CoV itu tidak ada, alias “virus fiktif”, karena tidak mungkin unta yang merupakan hewan tangguh di padang pasir justru dikatakan sebagai pembawa utama virus MERS-CoV, menurut anggapan mereka.

Tulisan serial ini kami susun untuk sebagai telaah kritis untuk menanggapi isu konspirasi tersebut untuk memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat, terutama kepada umat Islam.

Salah Satu Penemu Virus MERS-CoV adalah Ilmuwan dari Rumah Sakit di Jeddah, Arab Saudi

Dunia science atau ilmu pengetahuan, khususnya virologi (ilmu berkaitan dengan virus), adalah suatu bidang ilmu yang sangat dinamis dan berkembang dengan demikian pesatnya. Banyak penemuan baru bermunculan, meskipun masih banyak pula hal-hal yang belum berhasil diungkap karena keterbatasan ilmu manusia. Setiap ilmuwan berlomba-lomba menjadi ilmuwan atau institusi (laboratorium) yang terdepan dan pertama kali mempublikasikan suatu penemuan penting di komunitas dunia ilmiah internasional. Jurnal-jurnal top dan terkemuka, seperti Cell, Science, Nature, atau The New England Journal of Medicine (NEJM) menjadi target utama untuk mempublikasikan penemuan-penemuan penting mereka tersebut. Bahkan, sedemikian dinamisnya “persaingan” tersebut, terkadang suatu penemuan atau hasil riset yang sama, dipublikasikan oleh dua institusi yang berbeda, dalam dua jurnal ilmiah yang berbeda pula, dalam waktu yang hampir bersamaan. Hal ini bukanlah suatu aib, karena ketika suatu penemuan dihasilkan melalui dua atau lebih institusi yang independen, maka hal ini menunjukkan semakin validnya kesimpulan yang diambil.

Satu hal yang tidak atau belum diekspos berkaitan virus MERS-CoV adalah bahwa salah satu ilmuwan yang pertama kali mempublikasikan penemuan virus MERS-CoV adalah dokter dan ilmuwan (virologist) [2] muslim berkebangsaan Mesir bernama dr. Ali Mohamed Zaki, PhD dari Rumah Sakit Dr. Soliman Fakeeh di Jeddah, Arab Saudi. Beliau berhasil mempublikasikan virus temuannya tersebut di salah satu jurnal terkemuka, yaitu The New England Journal of Medicine (NEJM) pada bulan Oktober tahun 2012, bersama dengan beberapa ilmuwan (virologist) dari Belanda [3]. Ketika itu, beliau melaporkan seorang pasien laki-laki berusia 60 tahun dengan gejala demam, batuk, dan kesulitan bernapas. Pemeriksaan selanjutnya menunjukkan adanya proses infeksi di paru-paru. Pasien tersebut akhirnya meninggal dunia meskipun telah mendapatkan perawatan yang intensif. Sayangnya, pemeriksaan di RS. Soliman Fakeeh di Jeddah tidak dapat mengungkap agen penyebab infeksi pasien tersebut.

Oleh karena itu, sampel yang berasal dari pasien tersebut kemudian dikirim ke Departemen (laboratorium) Viroscience, Erasmus Medical Center (EMC), Rotterdam, Belanda, salah satu laboratorium virologi terkemuka di dunia. Di laboratorium inilah akhirnya diketahui bahwa penyebab infeksi  pasien tersebut adalah virus varian baru dari jenis coronavirus. Karena virus tersebut diisolasi pertama kali di EMC, virus tersebut kemudian diberi nama HCoV EMC (Human CoronaVirus Erasmus Medical Center).Analisis molekuler menunjukkan bahwa virus HCoV EMC tersebut sangat dekat kekerabatannya dengan coronavirus yang ditemukan di kelelawar (bat coronavirus, yaitu BatCoV-HKU5 dan BatCoV-HKU4). Meskipun demikian, pada saat itu belum diketahui bagaimana cara atau mekanisme penularannya ke manusia. Kasus ini mengingatkan kita kepada wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang terjadi pada tahun 2002-2003 di Cina dan Hongkong, yang disebabkan oleh jenis virus yang sama, yaitu SARS Coronavirus (SARS-CoV). Oleh karena itu, virus MERS-CoV sering disebut juga dengan SARS-like virus. Institusi yang sama (EMC) adalah institusi yang pertama kali mengkonfirmasi bahwa coronavirus adalah penyebab wabah SARS 2002-2003 tersebut. [4, 5]

Kini, setiap ilmuwan di seluruh dunia yang membicarakan dan mempublikasikan kasus-kasus atau hasil riset berkaitan dengan virus MERS-CoV pasti merujuk pada artikel NEJM yang ditulis oleh dr. Ali Mohamed Zaki, PhD tersebut. “Cerita” di balik penemuan virus MERS-CoV ini sedikit banyak dapat membantah isu konspirasi yang dihembuskan sebagian orang. Jika benar bahwa virus tersebut “diciptakan” oleh ilmuwan Yahudi-Amerika (baca: ilmuwan non-muslim) untuk melemahkan umat Islam, mengapa justru yang pertama kali mempublikasikannya adalah ilmuwan (dan dokter) muslim? Mengapa tidak mereka sendiri yang mempublikasikannya pertama kali karena setiap ilmuwan pasti ingin menjadi yang terdepan di komunitas dunia ilmiah internasional? Bukankah mereka sendiri yang menciptakannya? Mengapa mereka justru rela “menyerahkan” publikasi pertama kali virus tersebut kepada seorang ilmuwan muslim? Kecuali jika para penganut teori konspirasi berkeyakinan bahwa dr. Ali Mohamed Zaki, PhD adalah bagian (aktor dan otak) dari konspirasi itu sendiri.

[Bersambung]

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc

Seorang penulis buku, Dosen di Fak. Kedokteran UGM

Alumni Mahad Ilmi Yogyakarta

Master of Infection and Immunity

di Erasmus University Medical Centre Rotterdam, Netherlands

 

Catatan kaki:

  1. http://www.who.int/csr/disease/coronavirus_infections/MERS_CoV_Update_09_May_2014.pdf?ua=1
  2. Virologist: ilmuwan yang ahli di bidang virus.
  3. Zaki AM, van Boheemen S, Bestebroer TM, Osterhaus AD, Fouchier RA. Isolation of a novel coronavirus from a man with pneumonia in Saudi Arabia. N Engl J Med 2012; 367: 1814-1820.
  4. Fouchier RA, Kuiken T, Schutten M, et al. Aetiology: Koch’s postulate fulfilled for SARS. Nature 2003; 423(6937): 240.
  5. Kuiken T, Fouchier RA, Schutten M, et al. Newly discovered coronavirus as the primary cause of severe acute respiratory syndrome. Lancet 2003; 362(9380):263-270.
Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply