Antara Tahnik dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) (01)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Persalinan merupakan sebuah momentum dramatis bagi kelahiran seorang manusia, dan menjadi sebuah awal mula terbentuknya ikatan cinta kasih antara ibu-anak. Ikatan cinta antara ibu-anak ini sangat penting. Hal ini karena di tahun-tahun pertama kehidupan, sang anak sangat bergantung pada ibunya. Sebagaimana telah kita ketahui, kehamilan membuat tubuh ibu merasa payah, tidak nyaman dan letih yang makin bertambah. Proses persalinan menghadirkan rasa sakit yang luar biasa. Bayi sendiri juga mengalami sebuah proses yang tidak mudah saat harus melalui jalan lahir. Waktu kelahiran ini merupakan masa kritis kondisi kesehatan lahir dan batin seorang manusia hingga di masa depan. Menyusui merupakan salah satu cara yang Allah Ta’ala hadirkan untuk memulihkan rasa sakit dari sebuah perjuangan hebat proses persalinan.

Pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Dunia di dalam rahim sangat aman, steril, penuh kehangatan serta kenyamanan dengan makanan yang hadir selama 24 jam. Sistem peredaran darah yang unik pada plasenta menjalankan fungsi yang sempurna dalam menyediakan oksigen dan nutrisi, serta membuang sisa metabolisme janin. Pencernaan bayi baru lahir belum siap mencerna makanan yang tersedia di dunia luar sehingga butuh sebuah makanan transisi yang aman. ASI merupakan sumber nutrisi yang spesifik bagi setiap spesies sehingga menjadi standar baku emas pemberian makan bayi. Kolostrum merupakan ASI pertama yang diproduksi sejak akhir masa kehamilan dengan nutrisi bergizi. Kolostrum mengandung vitamin A, sel-sel imunitas, dan antibodi dalam kadar yang tinggi, juga mudah dicerna oleh saluran pencernaan bayi. Kolostrum ini berubah menjadi ASI matur setelah 2 minggu pasca persalinan. Proses menyusui menyediakan kehangatan cinta, kenyamanan dan makanan bergizi yang tepat sesuai kebutuhan seorang bayi. Inisiasi menyusui secepatnya dengan pemberian ASI eksklusif mampu menurunkan angka kesakitan dan angka kematian anak.

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan kegiatan yang akan membuat bayi segera menyusu setelah lahir. Bayi mamalia yang lahir di alam akan melakukan perilaku merangkak menuju payudara ibunya yang disebut breast crawl. Para bayi menyusu untuk segera memperoleh kolostrum yang penting untuk bertahan hidup di alam. Perilaku breast crawl ini diatur oleh komponen sensorik dan motorik di bagian sentral di otak. Namun keberhasilan IMD tentunya butuh difasilitasi dengan dukungan oleh semua pihak yang terlibat membantu persalinan ibu.

Tubuh ibu adalah habitat bagi bayi yang baru dilahirkannya. Bayi lahir steril sehingga paparan flora normal dari vagina juga tubuh ibu akan menjadi modal awal terbentuknya flora normal untuk memperkuat imunitas. Mekonium dan kolostrum akan menyuburkan gut microbiome (“bakteri baik”) di saluran pencernaan yang sangat penting bagi kesehatan seorang manusia hingga seumur hidupnya. Setiap bayi baru lahir bugar tanpa komplikasi yang ditaruh di atas perut ibunya memiliki kemampuan insting istimewa bergerak menuju payudara, lalu menyusu atas inisiatif sendiri. Peristiwa ini disebut “inisiasi menyusu dini”.

Inisiasi menyusu dini memfasilitasi kontak ibu dan bayi secepatnya setelah bayi keluar dari perut ibu. Menyusui membantu ibu dan juga bayi agar pulih dari rasa sakit dan kepayahan yang luar biasa saat persalinan. Kontak kulit bersama ibu akan mengurangi stress pada bayi baru lahir sehingga lebih tenang, kalem, gula darah serta denyut jantung dan pernafasannya menjadi stabil. Kehangatan badan ibu akan membuat suhu tubuh bayi baru lahir menjadi stabil. Kehadiran oksitosin “hormon cinta” akan mengurangi rasa sakit sehingga membuat ibu merasa rileks, tenang dan nyaman sehingga memfasilitasi momentum jatuh cinta seorang ibu kepada anaknya. Oksitosin membantu kontraksi rahim menjadi lebih efisien sehingga bisa mencegah perdarahan setelah melahirkan. Oksitosin juga melancarkan produksi ASI. Sehingga ibu yang melakukan IMD akan menyebabkan produksi ASI menjadi lebih lancar, lebih sukses memberikan ASI eksklusif, dan juga akan menyusui bayinya lebih lama. Penelitian di Brazil menunjukkan bahwa IMD dan rawat gabung membuat 77% ibu berhasil menyusui, begitu juga hasil penelitian di Swedia yang menunjukkan efek positif terhadap kualitas bonding antara ibu dan anak.

IMD akan membantu kematangan refleks primitif perilaku biologis bayi yang terprogram secara otomatis. Terjadi pematangan refleks mencari puting (rooting reflex) ketika proses IMD. Terdapat penelitian dimana para bayi dipisahkan segera setelah lahir selama 20 menit dari ibunya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 34 bayi, hanya 7 bayi yang mampu menghisap secara efektif. Pengamatan perilaku oleh Widstorm menunjukkan bahwa gerakan refleks menghisap oleh bayi segera setelah lahir mencapai puncaknya di menit 45, lalu menurun serta menghilang selama 2 – 2,5 jam pasca persalinan.

Momentum ini dimanfaatkan dalam proses IMD, dimana para bayi akan belajar posisi pelekatan menyusu yang baik secara spontan. Ibu dan bayi biasanya akan tidur lama setelah satu-dua jam pasca persalinan sehingga proses pemantapan menyusui akan lebih sulit jika harus ditunda dengan pemisahan bayi baru lahir dari ibunya. Proses menyusui pada IMD akan merangsang pelepasan hormon di tubuh ibu dan bayi, dan juga pematangan mukosa saluran pencernaan bayi. Insting bayi membawanya menuju tempat makanan supaya bertahan hidup. Dan makanan yang saat ini tersedia untuknya memang makanan yang akan membuatnya hidup lebih baik, yaitu kolostrum. Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini dalam waktu 45 menit – 2 jam (WHO). Kontak kulit segera secepatnya setelah melahirkan tetap bermanfaat meskipun bayi tidak berhasil menyusu di payudara ibu.

“The Magic Hour”

Satu jam penuh keajaiban yang sangat layak diperjuangkan. Ibu yang diberikan waktu melakukan kontak dengan bayi segera dalam satu hingga dua jam pertama menunjukkan kedekatan perilaku terhadap bayinya. Hasil observasi penelitian selama 30 tahun menunjukkan bahwa persalinan dan periode perinatal yang difasilitasi secara lembut akan membawa dampak positif bagi ikatan antara ibu dan anak. IMD mampu memenuhi kebutuhan dasar seorang bayi baru lahir. Setiap bayi baru lahir yang tanpa komplikasi direkomendasikan untuk melakukan kontak kulit segera setelah persalinan. IMD bisa dilakukan pada proses persalinan normal maupun operasi caesar. Bayi baru lahir akan dikeringkan (kecuali bagian tangan) kemudian ditaruh tengkurap sehingga bisa melakukan breast crawl di atas perut ibu (jika perlu, ibu dan bayi diberi selimut) dengan diawasi oleh tenaga kesehatan. Berikan kesempatan kepada bayi untuk merangkak menuju payudara. Asuhan perawatan bayi, semacam penimbangan berat badan, dilakukan setelah IMD selesai. Persiapkan diri juga keluarga dengan baik serta bicarakan tentang IMD bersama tenaga kesehatan sejak masa kehamilan supaya persalinan berjalan dengan lancar.

Kesimpulan

  1. IMD sangat bermanfaat bagi ibu dan bayi. Semua bayi baru lahir yang tidak ada komplikasi disarankan untuk diletakkan di perut ibu segera setelah lahir agar merangkak ke payudara ibu sehingga bisa mendapatkan kolostrum.
  2. IMD dilakukan sebelum bayi mendapatkan asuhan keperawatan lainnya seperti penimbangan berat badan atau penyuntikan vitamin K. World Health Organization (WHO) merekomendasikan  pelaksanaan IMD segera dalam setengah jam sejak bayi dilahirkan.
  3. IMD dan rawat gabung akan membantu keberhasilan menyusui sehingga mampu menurunkan angka kesakitan dan angka kematian bayi.
  4. IMD membantu tumbuh suburnya ikatan (bonding) antara ibu dan anak.
  5. Bicarakan IMD bersama tenaga kesehatan yang akan membantu persalinan. Persiapkan diri dan keluarga dengan baik untuk melakukan IMD.

[Bersambung]

***

Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL, 8 Shafar 1439/29 Oktober 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc. dan dr. Annisa Karnadi, IBCLC.

 

Referensi:

Debes AK et al. Time to initiation of breastfeeding and neonatal mortality and morbidity: a systematic review. BMC Public Health. 2013; 13(Suppl 3): S19.

Khan J et al. Timing of breastfeeding initiation and exclusivity of breastfeeding during the first month of life: effects on neonatal mortality and morbidity–a systematic review and meta-analysis. Matern Child Health J. 2015; 19(3): 468-479.

Fact sheet: Breastfeeding – The remarkable first hour in life. UNICEF.  Dapat diakses di: https://www.unicef.org/malaysia/Breastfeeding_First_Hour_of_Life.pdf

Raju TNK. Breastfeeding is a dynamic process – not simply a meal at the breast. Breastfeeding Medicine 2011; 6(5): 257 – 259.

Ten steps to successful breastfeeding. Baby-Friendly Hospital Initiative. Dapat diakses di: http://www.tensteps.org/

Breast Crawl. Initiation of Breastfeeding by Breast Crawl. Dapat diakses di: http://breastcrawl.org/

Evidence for the ten steps to successful breastfeeding. WHO 1998. Dapat diakses di:  http://www.who.int/nutrition/publications/evidence_ten_step_eng.pdf

Andargie G et al. Exclusive breastfeeding is the strongest predictor of infant survival in Northwest Ethiopia: a longitudinal study. J Health Popul Nutr. 2015; 34: 9.

Lawrence RA, Lawrence RM. Breastfeeding: A guide for the medical profession. Seventh Edition. Missouri, USA: Mosby Elsevier, 2011.

Moore ER, Bergman N, Anderson GC, Medley N. Early skin-to-skin contact for mothers and their healthy newborn infants. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2016; Issue 11. Art. No.: CD003519.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply