Apa yang Diucapkan Saat Ditimpa Musibah?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Pembicaraan kita disini tentang bacaan yang yang disyariatkan untuk setiap muslim ketika ditimpa musibah, baik musibah itu pada dirinya, anaknya, hartanya, atau yang lain.

Pertama-tama hendaklah seorang hamba mengetahui bahwa Sunnatullah berlaku bagi setiap hamba-Nya, yaitu Allah akan menguji mereka dalam kehidupan ini dengan berbagai macam ujian dan cobaan. Kadangkala Allah menguji mereka dengan kemiskinan dan kadangkala dengan kekayaan. Sewaktu-waktu Allah menguji mereka dengan penyakit dan sewaktu-waktu dengan kesehatan. Terkadang Allah menguji mereka dengan kesenangan dan terkadang dengan kesusahan. Tidak ada seorangpun kecuali pernah mendapat ujian, mungkin dengan kematian orang yang dicintai, atau terjadi sesuatu yang tidak disukai, atau hilangnya sesuatu yang diharap-harapkan.

Kesenangan di dunia ini hanyalah seperti mimpi kosong saat tertidur atau seperti naungan awan yang segera pergi. Jika dunia membuat orang tertawa sedikit, duniapun membuat orang menangis lebih banyak. Jika dunia membuat orang  gembira sehari, duniapun membuat orang bersedih seribu tahun. Jika dunia memberi kesenangan sebentar, duniapun menahan kesenangan itu dalam waktu yang lama. Tidaklah sebuah rumah dipenuhi kegembiraan melainkah rumah itu dipenuhi pula dengan kesedihan dan air mata, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,

لِكُلِّ فَرْحَةٍ تَرْحَةٌ، وَمَا مُلِئَ بَيْتٌ فَرَحًا إِلَّا مُلِئَ تَرَحًا،

Pada setiap kegembiraan terdapat kesedihan. Tidaklah sebuah rumah dipenuhi dengan kegembiran melainkan rumah itu dipenuhi juga dengan kesedihan.

Namun  bagi hamba Allah yang muslim, semua keadaanya selalu menjadi kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَجَباً لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ فَصَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌلَهُ،   

“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan tidaklah hal tersebut terjadi kecuali bagi orang beriman. Apabila mendapat kesenangan dia bersyukur, maka bersyukur itu baik baginya. Dan apabila ditimpa kesusahan dia bersabar maka bersabar itu baik baginya.” (H.R. Muslim)

Sungguh Allah telah menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya perkara  yang seharusnya mereka lakukan saat mendapat musibah. Allah juga menunjukkan zikir yang sepantasnya dibaca oleh orang yang tertimpa musibah. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157) [البقرة: 155-157]

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Allah mengabarkan dalam ayat yang mulia ini bahwa Dia akan menguji hamba-hamba-Nya supaya jelas orang jujur dan orang yang dusta, orang yang tergesa-gesa dan orang yang sabar, orang yang yakin dan orang yang ragu.

Allah juga menyebutkan beberapa bentuk ujian. Allah menguji mereka dengan sedikit ketakutan, yaitu ketakutan terhadap musuh. Allah menguji mereka dengan kelaparan, yaitu kekurangan bahan makanan dan pangan. Allah menguji mereka dengan kekurangan harta, meliputi berbagai hal yang menyebabkan berkurangnya harta, baik berupa datangnya paceklik, atau harta itu digunakan untuk membayar hutang, atau harta tersebut hilang, atau dicuri, atau yang lain. Allah juga menguji mereka dengan kekurangan jiwa dengan meninggalnya orang-orang yang dicintai; anaknya, keluarganya, atau sahabatnya. Termasuk dalam hal ini adalah ujian berupa penyakit yang mengenai tubuhnya. Demikian pula Allah menguji mereka dengan kekurangan buah-buahan, biji-bijian, buah kurma dan yang lain.

Semua ujian ini pasti terjadi, karena Allah Yang Maha Mengetahui telah mengabarkan hal tersebut. Bagian manusia dari musibah ini tergantung bagaimana dia menyikapi musibah tersebut. Barangsiapa ridha maka dia mendapat keridhaan Allah. Sebaliknya barangsiapa marah maka dia mendapatkan kemurkaan Allah. Oleh karena itu, seorang yang mendapat musibah harus tahu bahwa Dzat yang mengujinya dengan musibah itu adalah Dzat yang paling bijaksana dan Dzat yang paling penyayang di antara semua penyayang. Allah Yang Maha Suci tidak memberikan ujian maupun cobaan untuk membinasakan ataupun mengazabnya. Namun Allah memberi cobaan itu untuk menguji kesabaran, keridhaan, dan keimanannya, supaya Allah mendengar doa dan permohonannya, supaya Allah melihatnya merebahkan diri di pintu-Nya, berlindung kepada-Nya, hancur hatinya di hadapan-Nya, mengangkat kedua tangan sembari berdoa dengan khusyuk mengadukan kesusahan dan kesedihannya. Maka ketika itu dia akan memperoleh janji Allah, pemberian-Nya yang banyak, serta nikmat-Nya yang melimpah,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157) [البقرة: 155-157] 

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Maka alangkah besarnya keutamaan ini dan alangkah mulianya pemberian ini. Karena itu Umar bin Khattab berkata,

نِعْمَ الْعَدْلَانِ وَ نِعْمَتِ الْعَلَاوَةُ،

Alangkah nikmatnya dua balasan ini (yaitu keberkahan yang sempurna dan rahmat Allah) dan alangkah menyenangkan anugerah tambahan ini (yaitu mendapat petunjuk_ed).”

Sungguh Allah telah menjadikan kalimat ini sebagai kalimat Istirja’, yakni ucapan orang yang mendapat musibah,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ،

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.

Allah menjadikan kalimat ini sebagai tempat berlindung bagi orang yang mendapat musibah dan ujian. Apabila orang yang mendapat musibah berlindung dengan kalimat ini yang mencakup seluruh kebaikan dan keberkahan maka hatinya akan tenang, jiwanya akan tenteram, pikirannya akan damai, dan Allah akan mengganti musibahnya dengan kebaikan.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam Kitab Shahihnya, dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ:مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيْبُهُ الْمُصِيْبَةُ فَيَقُوْلُ: إِنَّا لِلَّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ, اللَّهُمَّ أَجِرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا آجَرَهُ اللهُ فِيْ مُصِيْبَتِهِ وَ أَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا، قَالَتْ: فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُوْ سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ ، فَأَخْلَفَ اللهُ لِيْ خَيْرًا مِنْهُ, رَسُوْلَ اللهِ

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah kemudian dia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah aku pengganti yang lebih baik darinya,” melainkan Allah pasti memberikan pahala dalam musibahnya itu dan memberinya pengganti yang labih baik.” Ummu Salamah berkata, “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku mengucapkan (doa ini) sebagaimana diperintahkan  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku, maka Allah memberiku pengganti yang lebih baik dari beliau, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah memuliakan Ummu salamah, beliau menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Barangsiapa merenungkan kalimat yang agung ini, yakni kalimat Istirija’, maka dia akan mendapati kalimat ini mengandung obat yang besar bagi orang yang tertimpa musibah. Bahkan dalam kalimat ini terdapat obat yang paling baik dan paling bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Betapa banyak pengaruh terpuji, akibat yang baik, hasil yang besar dari kalimat ini, baik di dunia maupun di akhirat. Cukuplah dalam hal ini firman Allah Ta’ala,

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ [البقرة: 157] 

Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 157)

Akan tetapi disamping mengucapkan kalimat ini, seorang hamba harus memahami artinya dan merealisasikan maksudnya, agar dia memperoleh janji yang mulia dan pahala yang besar ini. Apabila seorang hamba merealisasikannya secara ilmu maupun amal, maka dia akan terhibur dari musibahnya, dia akan memperoleh pahala yang besar dan tempat kembali yang baik (surga).

Adapun pokok yang pertama, hendaklah seorang hamba menyadari bahwa dirinya, keluarganya, hartanya, dan anak-anaknya adalah milik Allah. Allah yang menciptakan mereka dari sebelumnya tidak ada. Allah merubah-rubah keadaan mereka sebagaimana Dia kehendaki, dan Allah mengatur mereka bagaimanapun Dia inginkan. Tidak ada yang dapat melawan ketetapannya dan tidak ada yang dapat menolak takdirnya. Faidah ini diambil dari firman Allah, (إنا لله)Sesungguhnya kami adalah milik Allah..” (Al-Baqarah: 185)

Maksudnya, kami adalah milik Allah, kami berada di bawah pengaturannya. Dialah Rabb kami dan kami adalah hamba-hamba-Nya. Semua yang terjadi pada kami adalah ketentuan dan takdir-Nya.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ [الحديد: 22]

Tidak ada satu musibahpun menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mafuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22).

Pokok yang kedua, hendaklah seorang hamba mengetahui bahwa dia akan kembali kepada Allah, sebagaimana firman Allah,

وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [النحم: 42]

Dan bahwasanya kepada Rabb-mu lah kesudahan (segala sesuatu).” (An-Najm: 42)

Dan Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى [العلق: 8]

Sesungguhnya hanya kepada Rabb-mu lah kembalimu.” (Al-‘Alaq: 8)

Seorang hamba pasti akan meninggalkan dunia ini dan dia akan mendatangi Rabbnya pada hari kiamat seorang diri sebagaimana dia diciptakan pertama kalinya, tanpa keluarga, tanpa harta, dan tanpa teman. Sesungguhnya dia mendatangi Rabbnya dengan membawa kebaikan-kebaikan sekaligus keburukan-keburukannya. Faidah ini diambil dari firman Allah, (وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ)Dan kepada-Nya lah kami kembali.

Kalimat ini merupakan pengakuan seorang hamba bahwa dia akan kembali kepada Allah dan Allah yang akan membalas perbuatannya semasa hidup di dunia. Oleh karenanya, dia akan menyibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat yang akan dia bawa saat bertemu dengan Rabbnya. Apabila orang yang tertimpa musibah mengucapkan Istirja’ seperti ini, yaitu dengan menghadirkan maknanya dan mewujudkan tujuan dan konsekuensinya , maka dia akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.

Abu Nu’aim  meriwatkan dalam Kitab al-Hilyah dari Hasan bin Ali al-‘Abidy beliau berkata, Fudhail bin ‘Iyadh berkata kepada seorang laki-laki, “Berapa tahun umur yang sudah engkau lewati?

“Enam puluh tahun,” Jawab orang itu.

Beliau berkata, “Engkau semenjak enam puluh tahun silam sedang berjalan menuju Rabb-mu, dan engkau hampir sampai.”

Orang itu berkata, “Wahai Abu Ali, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.”

Beliau berkata,”Apakah engkau tahu apa yang engkau ucapkan itu?”

Orang itu menjawab, “Aku mengucapkan, ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.”

Beliau bertanya, “Tahukah engkau apa arti kalimat itu?”

Orang itu menjawab, “Jelaskanlah kepada kami wahai Abu Ali!”

Beliau berkata, “Perkataanmu ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah,’ berarti engkau berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan kepada Allah aku kembali.’ Barangsiapa tahu bahwa dirinya adalah hamba Allah dan kepada Allah dia akan kembali berarti dia tahu bahwa dirinya akan dibawa ke hadapan Allah. Barangsiapa tahu bahwa dirinya akan dibawa ke hadapan Allah berarti dia tahu bahwa dirinya akan ditanya oleh Allah. Barangsiapa tahu bahwa dirinya akan ditanya, maka hendaklah dia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.”

Orang tersebut bertanya, “Bagaimana triknya?”

“Mudah,” jawab beliau.

“Apa itu?” Tanya orang itu.

Beliau menjawab, “Engkau perbaiki umur yang masih tersisa maka akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu. Namun apabila engkau berbuat dosa pada sisa umurmu, maka engkau akan disiksa disebabkan dosa-dosamu terdahulu dan yang akan datang.”

Dalam riwayat ini terdapat dalil bahwa para salaf  Rahimahumullah sangat mementingkan makna zikir-zikir yang mereka ucapkan, mengetahui artinya, merealisasikan maksud dan tujuannya, dan sangat memperhatikan perkara yang agung ini, agar seorang hamba dapat memetik buahnya, melihat secara nyata pengaruhnya, dan dia mendapatkan kebaikan dan keberkahan doa tersebut yang melimpah ruah.

Sebagai penutup, inilah doa-doa bagi orang sakit dan yang tertimpa musibah yang telah selesai kita ambil saripatinya. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia agar menyembuhkan orang-orang sakit di antara kita dan orang-orang sakit dari kalangan kaum muslimin, semoga Allah menghilangkan duka cita kaum muslimin yang tengah bersedih, dan menghilangkan kesusahan dan kesempitan mereka yang mendapat musibah, sesungguhnya Rabb-ku Maha Mendengarkan doa. Dialah tempat berharap. Cukuplah Allah sebagai penolong kita dan Dialah sebaik-sebaik pelindung.

وَ صَلَّ اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ آِلهِ وَصَحْبِهِ،

Penerjemah : dr. Supriadi

Artikel www.kesehatanmuslim.com

 *****

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

Share.

About Author

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Alhamdulillah di sela-sela kuliah bisa ikut belajar Bahasa Arab di Madrasah Imam Ahmad bin Hambal Semarang. Aktivitas saat ini sebagai dokter umum di RSUD Propinsi di Sumbawa Besar dan aktif menulis artikel kesehatan Islam.

1 Comment

Leave A Reply