Apakah “Bahan Alami” selalu sama dengan “Aman”?

 

Di antara salah kaprah yang berkembang di masyarakat awam adalah anggapan mereka bahwa bahan-bahan alami yang ditemukan di alam selalu aman dan tidak membahayakan kesehatan. Menurut mereka, nenek moyang kita telah menggunakan bahan-bahan alami tersebut selama bertahun-tahun tanpa ada efek samping sedikit pun. Berdasarkan anggapan ini, mulai gencarlah kampanye dengan slogan ”back to nature” (kembali kea lam), dan “say no to drugs” (katakan tidak pada obat-obat kimia). Benarkah anggapan ini? Setidaknya, apa yang terjadi dengan aristolochia, obat herbal Tiongkok, menjadi salah satu bukti kekeliruan anggapan tersebut.

Mimpi buruk itu bernama aristolochia

Aristolochia adalah sejenis tanaman (genus) yang terdiri dari ~500 spesis yang berbeda. Aristolochia digunakan secara luas dan turun-temurun dalam bidang pengobatan herbal, bahkan sejak zaman Mesir atau Romawi kuno. Aristolochia mengandung asam aristolokhat, suatu zat yang diketahui bersifat nefrotoksik (beracun bagi ginjal) dan karsinogenik (memicu terjadinya kanker). Meskipun telah digunakan selama ratusan tahun, dampak negatif dari konsumsi aristolochia baru menjadi topik heboh pada tahun 1990-an di Brussel, Belgia. Sejumlah perempuan mengikuti suatu program menggunakan kombinasi bahan herbal asal Tiongkok untuk menurunkan berat badan di satu klinik di Brussel. Program tersebut telah berlangsung selama 15 tahun tanpa laporan efek samping merugikan. Akan tetapi, di awal tahun 1990, perusahaan penyedia bahan herbal tersebut mengganti komponen Stephania tetrandra dalam suplemen diet dengan aristolochia (Aristolochia fangchi).

Sebagai dampak konsumsi aristolochia dalam program pelangsing tubuh selama 2 tahun (1990-1992), 105 perempuan pelanggan klinik tersebut mengalami penurunan drastis fungsi ginjal yang kemudian berkembang menjadi gagal ginjal dan harus menjalani dialisis (cuci darah) atau transplantasi (cangkok) ginjal. Sebagian dari pelanggan lain mengalami kanker saluran kencing bagian atas. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa asam aristolokhat dapat menyebabkan kerusakan pada DNA yang berpotensi menyebabkan kanker. Sebuah penelitian yang melibatkan 39 pasien di Belgia yang menjalani pembedahan akibat kerusakan ginjal karena konsumsi aristolochia menunjukkan bahwa 46% pasien mengalami kanker saluran kencing dan dari 54% pasien sisanya, 90% di antaranya sudah berada dalam tahap pre-kanker.

Pelajaran penting dari kasus Belgia di atas adalah bahwa efek samping merugikan dari penggunaan obat herbal bisa jadi baru terpikirkan ketika terjadi kasus yang sama dan bersifat berkelompok (kluster), seperti sekelompok perempuan yang mendatangi satu klinik herbal yang sama di atas. Sangat mungkin, kasus-kasus lain yang bersifat individu juga terjadi namun tidak terpikirkan atau tidak terlacak karena pasien tidak melaporkan (karena tidak merasa perlu menyampaikan ke dokter) atau dokter dan pihak berwenang lainnya yang kurang melakukan investigasi secara menyeluruh.

Masyarakat tidak menyadari efek berbahaya dari aristolochia karena bahan ini sudah digunakan selama ratusan tahun di berbagai belahan dunia. Hal ini terjadi karena efek merugikan asam aristolokhat tidak terjadi seketika, kerusakan baru terjadi jauh di kemudian hari sehingga masyarakat bisa jadi tidak sampai berpikir bahwa kerusakan tersebut akibat dari konsumsi bahan tersebut selama bertahun-tahun.

Oleh karena itu, masyarakat hendaknya mencari informasi yang menyeluruh tentang profil keamanan suatu produk herbal, sebelum membeli produk herbal tertentu di pasaran apalagi mengkonsumsinya secara rutin selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Apabila ragu-ragu, hendaknya bertanya kepada pihak-pihak yang ahli dan memiliki kompetensi di bidang tersebut. Perlu diketahui bahwa tanaman dapat mensintesis berbagai jenis bahan kimia dalam hidupnya, dan ratusan jenis bahan kimia itu juga memiliki efek tersendiri dalam tubuh, baik efek menguntungkan ataupun efek yang berpotensi merugikan kesehatan manusia. Bukankah sebagian tanaman membentuk toksin untuk melindungi diri dari predator? Lalu bandingkan dengan “obat-obat kimia” dokter yang hanya mengandung 1-2 bahan kimia aktif saja.

[dr. M. Saifudin Hakim, MSc]

Referensi:

  1. Krell D dan Stebbing J. 2013. Aristolochia: the malignant truth. Lancet Oncol 14(1): 25-26.
  2. Schmeiser, et al. 2009. Chemical and molecular basis of the carcinogenicity of Aristolochia plants. Curr Opin Drug Discov Devel 12(1): 141-148.
  3. Nortier, et al. 2000. Urothelial carcinoma associated with the use of a Chinese herb (Aristolochia fangchi). N Engl J Med 342(23): 1686-1692.
  4. Kabat G. 2012. Natural does not mean safe, herbal supplmenets are unregulated, overhyped, and poteantially deadly. [http://www.slate.com/articles/health_and_science/medical_examiner/2012/11/herbal_supplement_dangers_fda_does_not_regulate_supplements_and_they_can.2.html (diakses tanggal 30 Oktober 2013)]

 

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

About Author

dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

View all posts by dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc »

2 Comments

  1. Parthenia says:

    I see a lot of interesting content on your blog. You have to spend a lot of time writing, i
    know how to save you a lot of work, there is a tool that creates unique, google friendly posts in couple of seconds, just search in google –
    k2 unlimited content

  2. Aaman, selagi kita sesuai aturan dan anjuran.

Leave a Reply