ASI Eksklusif selama Dua Tahun Penuh: Tinjauan Syariat dan Kesehatan (02)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +
Showing 1 of 1

ASI Eksklusif dalam Tinjauan Kesehatan

Masalah ASI eksklusif termasuk masalah yang terkait dengan kesehatan atau tumbuh kembang anak. Tidak terkait secara langsung dengan masalah ibadah kepada Allah Ta’ala. Adapun kewajiban seorang ibu adalah menyusui sang anak, baik dengan atau tanpa makanan tambahan lainnya. Selama dia menyusui anaknya, maka kewajibannya sebagai seorang ibu telah tertunaikan. Oleh karena itu, masalah ASI eksklusif ini kembali kepada masalah (manfaat) duniawi sehingga dikembalikan permasalahannya kepada para pakar kesehatan atau pakar tumbuh kembang anak yang kompeten dalam masalah ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim no. 2363)

Kalau kita membaca pendapat dan rekomendasi para ahli di bidang ini, yang direkomendasikan adalah memberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. Setelah bayi mencapai usia 6 bulan, hendaknya diberikan makanan tambahan lain selain ASI, yang disebut dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Dalam periode tersebut, ASI sebaiknya tetap diberikan hingga usia anak minimal 2 tahun, atau bahkan lebih dari itu jika memang sang bayi atau sang ibu masih menghendaki ASI. Hal ini sebagaimana penjelasan pada bagian sebelumnya di atas.

Jika MPASI terlalu awal diberikan sebelum bayi berusia 6 bulan, hal itu tidak baik untuk kesehatan sang bayi. Pada usia sebelum 6 bulan, sistem pencernaan bayi belum sempurna untuk mengolah makanan selain ASI. Jika tetap dipaksakan diberikan makanan tambahan lain, hal ini bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit, misalnya penyakit alergi. Oleh karena itu, pemberian MPASI dini tanpa adanya indikasi medis tertentu atau tanpa petunjuk dokter yang kompeten, sangat tidak dianjurkan.

Sebaliknya, jika MPASI terlambat diberikan (lebih dari 6 bulan), juga terdapat risiko merugikan bagi sang bayi. Anak akan terganggu perkembangan motorisnya atau menjadi kurang gizi karena kebutuhan energi anak usia di atas 6 bulan tidak akan tercukupi oleh ASI. Kurang gizi bisa berisiko menyebabkan anak gagal tumbuh. Gagal tumbuh berakibat fatal pada hingga mempengaruhi kualitas kehidupan juga kondisi kesehatan anak sampai jangka panjang.

Oleh karena itu, yang terbaik menurut penjelasan para ahli adalah memberikan MPASI setelah bayi berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan, dianjurkan tetap menyusui bayi di samping MPASI karena banyaknya keuntungan tetap memberikan ASI dalam periode ini. Di antaranya agar bayi lebih terlindungi dari penyakit infeksi dan juga alergi. ASI pun masih menjadi asupan bernutrisi sumber multivitamin yang berharga. Enzim aktif di dalam ASI membantu mencerna makanan sehingga bisa mengoptimalkan nutrisi dari MPASI. Pemberian ASI dan MPASI secara tepat diharapkan mampu menjadi pondasi nutrisi yang baik bagi anak.

Kalaupun sebagian orang tua ada yang menyampaikan testimoni mereka tentang keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama dua tahun, maka hal ini hanyalah testimoni orang per orang. Ketika diterapkan ke anak lain, belum tentu aman dan bisa jadi berbahaya untuk proses tumbuh kembang sang anak. Selain itu, testimoni tentu hanya menyampaikan keberhasilan, bukan kegagalan. Sedangkan rekomendasi para ahli sebagaimana disebutkan di atas diperoleh melalui telaah penelitian yang mendalam sehingga hasilnya dapat diterapkan secara umum.

Kesimpulannya, tidak ada ajaran (kewajiban) ASI eksklusif harus sampai 2 tahun dalam agama Islam. Hal ini pun tidak dianjurkan oleh para ahli yang berkecimpung di bidang ini. Wallahu a’lam. [Selesai]

***

Selesai disusun menjelang maghrib, Rotterdam NL 24 Dzulhijjah 1438/16 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Showing 1 of 1
Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply