Ayo Cegah Baby Blues Syndrome!

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +
Baby blues syndrome ialah suatu gangguan afektif yang dialami oleh ibu yang baru saja bersalin. Gangguan afektif yang muncul dapat berupa perasaan merasa bersalah, merasa gagal menjadi ibu yang baik, merasa tidak berenergi, mudah tersinggung, sulit konsentrasi, cemas, dsb. Sindrom ini dapat ditemukan pada 30-75% ibu pasca melahirkan. Gejala mulai muncul pada hari ke-3 pasca persalinan, dan dapat berlangsung dalam kisaran jam hingga berhari-hari.
Jika tidak ditangani dengan baik, baby blues syndrome dapat berlanjut menjadi gangguan afektif yang lebih berat, seperti psikosis dan depresi pasca persalinan. Namun, pencegahan timbulnya sindrom ini dapat dilakukan.
Pencegahan baby blues syndrome dapat dilakukan dengan persiapan mengasuh anak yang baik. Ibu beserta keluarga, khususnya suami perlu merencanakan berbagai hal terkait pengasuhan anak baru lahir. Berikut ini contoh hal-hal yang perlu dibicarakan.
  • bagaimana menyiapkan tempat tidur, peralatan keseharian bayi baru lahir sepulang dari rumah bersalin
  • bagaimana pembagian tugas rumah tangga, seperti menyiapkan makanan, mencuci pakaian, dsb
  • apakah ada penyesuaian jam kerja ayah
  • bagaimana pola kerja sama ibu dan ayah saat menghadapi anak yang rewel di malam hari, ganti popok, dsb
  • sampai kapan ibu berhenti/cuti dari aktifitas (jika kuliah atau bekerja).
Dengan adanya pembicaraan mengenai hal-hal tersebut, diharapkan ibu bertambah percaya diri dan tenang karena merasa didukung oleh keluarga. Inilah yang disebut dengan perceived support (perasaan dan harapan didukung). Selain persiapan pra kelahiran, keluarga khususnya suami juga harus memberikan bantuan konkrit setelah anak lahir.
Perlu diperhatikan bahwa ada tiga jenis bantuan psikososial dari keluarga yang dibutuhkan oleh ibu pasca persalinan, yaitu 1) dukungan informasi, 2) dukungan emosional, dan 3) dukungan instrumental.
Dukungan informasi ialah pemberian panduan dan saran mengenai kehidupan, peran, dan tanggung jawab sebagai ibu, khususnya pada awal kelahiran anak. Dukungan emosional berwujud ekspresi peduli dan menghargai usaha ibu merawat anaknya. Adapun dukungan instrumental ialah dukungan konkrit menjalankan tugas keseharian sebagai ibu.
Dengan dukungan yang baik dari keluarga diharapkan ibu dan anak senantiasa dalam kondisi sehat jiwa dan raga. Lahirnya buah hati menjadi kebahagiaan, keberkahan, dan ladang pahala bagi keluarga.
Referensi:
Robertson, E., Celasun, N., and Stewart, D.E. (2003).  Risk factors for postpartum depression.  In Stewart, D.E., Robertson, E., Dennis, C.-L., Grace, S.L., & Wallington,  T. (2003).  Postpartum  depression: Literature  review of risk factors and interventions. WHO-Department of Mental Health and Substance Abuse.
Share.

Leave A Reply