Bacaan Zikir Tatkala Ditimpa Kesusahan dan Kesempitan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sungguh telah tetap di dalam sunnah beberapa hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengobati kesusahan dan kesempitan, yaitu penderitaan dan kepedihan yang dialami seseorang pada dirinya saat ditimpa musibah sehingga membuatnya bersedih dan berduka.

Di antara hadits-hadits yang datang untuk mengobati kesusahan dan kesempitan tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ  كَانَ يَقُوْلُ عِنْدَ الْكَرْبِ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ،

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat mendapat kesusahan dan kesempitan beliau mengucapkan, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Pemilik ‘Arsy yang besar. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Pemilik langit dan bumi dan Pemilik ‘Arsy yang mulia.” (H.R Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan lainnya dari Asma binti ‘Umais Radhiyallahu ‘anha dia berkata, “Rasulullah bersabda kepadaku,

أَلَا أُعَلِّمُكِ كَلِمَاتٍ تَقُوْلِيْنَهُنَّ عِنْدَ الْكَرْبِ –أَوْ فِي الْكَرْبِ- : اللهُ  اللهُ رَبِّي، لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا،

Maukah engkau aku ajarkan beberapa kalimat yang bisa engkau ucapkan saat ditimpa kesusahan dan kesempitan? –atau saat berada dalam kesusahan dan kesempitan:  “Allah.. Allah adalah Rabbku, aku tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (H.R Abu Dawud, shahih)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya, dari Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau bersabda,

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ، فَلَا تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ،

Doa orang yang mendapat kesusahan dan kesempitan, “Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata. Perbaikilah untukku urusanku semuanya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Engkau.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ ذِي النُّوْنِ إِدْ دَعَا وَ هُوَ فِيْ بَطْنِ الْحُوْتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِيْ شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ،

Doa Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika berdoa diperut ikan, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar  selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.” Tidaklah seorang laki-laki muslim berdoa dengan doa ini dalam hal apapun melainkan Allah pasti  mengabulkan doanya.” (H.R Tirmidzi, shahih)

Semua kalimat yang tertera dalam hadits-hadits di atas adalah kalimat iman, tauhid, ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi segala bentuk kesyirikan baik syirik besar maupun syirik kecil. Di dalam hadits-hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa obat terbesar menghadapai kesusahan adalah memperbaharui keimanan dan mengulang-ulang kalimat tauhid ‘Laa ilaaha illallah.’

Sesungguhnya tidak ada yang dapat melenyapkan penderitaan dan menghilangkan kesedihan dan kesempitan semisal dengan mentauhidkan Allah,  memurnikan ketaatan kepada-Nya, dan merealisasikan ibadah yang merupakan tujuan penciptaan manusia sekaligus memurnikan  ibadah tersebut hanya untuk Allah saja.

Sesungguhnya hati manusia tatkala diperintah untuk mentauhidkan Allah, memurnikan ketaatan kepada-Nya, dan disibukkan dengan perkara-perkara paling agung nan mulia ini, maka kesusahan dan kesempitan yang menimpanya akan segera berlalu, penderitaan dan kegundahannya akan sirna, dan hatinya akan merasakan puncak kebahagian.

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata, “Tauhid adalah tempat berlindung musuh-musuh Allah dan juga wali-wali Allah. Adapun musuh-musuh Allah, Allah menyelamatkan mereka dari bencana dan musibah di dunia, Allah berfirman,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ [العنكبوت: 65]

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al-Ankabut: 65).

Adapun wali-wali Allah, Allah menyelamatkan mereka dari bencana dan musibah di dunia maupun di akhirat. Karena itu Nabi Yunus ‘Alaihissalam berlindung kepada Allah dengan tauhid sehingga Allah-pun menyelamatkannya dari kegelapan di perut ikan. Demikian pula para pengikut rasul, mereka selamat karena tauhid dari azab yang menimpa orang-orang musyrik di dunia dan dari azab yang disediakan untuk mereka di akhirat kelak.

Adapun Fir’aun yang berlindung dengan tauhid saat kebinasaan di depan matanya dan dia telah ditenggelamkan oleh air laut maka hal tersebut tidak bermanfaat, karena keimanan saat ajal tiba tidaklah diterima. Inilah Sunnatullah (ketentuan Allah) terhadap hamba-hamba-Nya.

Tidak ada yang dapat mencegah musibah dunia yang semisal dengan tauhid. Karena itu, doa menghilangkan musibah dan bencana adalah dengan tauhid. Doa Dzun Nun (Nabi Yunus) adalah dengan tauhid, apabila seseorang berdoa dengan doa tersebut pasti Allah menghilangkan kesusahannya. Tidaklah terjadi bencana yang besar kecuali karena syirik, dan tidaklah suatu kaum diselamatkan dari bencana tersebut kecuali karena tauhid. Maka tauhid adalah tempat berlindung, tempat kembali, sekaligus benteng bagi setiap makhluk. Taufik itu hanyalah milik Allah.” (Al Fawaid)

Telah kita lewati bersama beberapa hadits yang menunjukkan makna tersebut, di antaranya:

Pertama, Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma seluruhnya adalah tauhid, pengagungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, pemurnian kalimat tauhid ‘Laa Ilaaha illallah,’ disertai dengan perkara yang menunjukkan keagungan Allah, kemulian-Nya, kesempurnaan-Nya, dan rubbubiyah-Nya terhadap langit, bumi, dan ‘Arsy yang besar. Sesungguhnya dalam hadits tersebut terkandung macam-macam tauhid yang tiga, yaitu Tauhid Rubbubiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa Shifat. Ketika seorang muslim mengucapkan doa tersebut, sambil merenungkan maknanya dan memikirkan kandungannya maka hatinya akan tenang, jiwanya akan tenteram, kesusahan dan penderitaannya akan lenyap, dan dia akan diberi  pentunjuk ke jalan yang lurus.

Kedua, Hadits Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah mengajarkannya untuk berlindung dengan tauhid di saat tertimpa musibah, dimana tidak ada yang semisal dengan tauhid yang dapat mencegah sekaligus menghilangkan musibah dan kesusahan pada diri seseorang. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menegaskan perkara ini kepada  Asma. Beliau menekankan kepada Asma untuk mengetahuinya dan mempersipkan diri untuk mempelajarinya. Beliau berkata, “Maukah engkau aku ajarkan beberapa kalimat yang bisa engkau ucapakan saat mendapat kesusahan dan kesempitan?” Tidak diragukan sesungguhnya Asma sangat ingin mengetahui kalimat-kalimat tersebut, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wallam mengajarinya untuk mengucapkan,

اللهُ  اللهُ رَبِّيْ، لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا،

Allah.. Allah adalah Rabbku, aku tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Sabda beliau, (اللهُ الله)“Allah, Allah” dengan me-rafa’-kan kedua lafazh Allah. Lafaz Allah yang pertama adalah Mubtada’ dan yang kedua adalah Taukid Lafzhy (ini adalah istilah-istilah dalam ilmu nahwu_ed). Hal ini menunjukkan betapa agung dan betapa penting kedudukan Allah.  Khabar Mubtada’ adalah sabda beliau, (رَبِّيْ) “Rabbku,” maknanya adalah, “Sesungguhnya Tuhanku yang aku sembah, yang hanya kepada-Nya aku peruntukkan segala jenis peribadahan berupa rasa takutku,  rasa harapku, ketundukanku, kepatuhanku, kekhusyu’anku, dan kerendahan diriku, Dia adalah Rabb yang telah mendidik aku dengan nikmat-Nya, menciptakan aku dari ketidakadaan, dan melebihkan aku dengan berbagai bentuk pemberian dan karunia-Nya.”

Sabda beliau, (لا أشرك به شيئا) “Aku tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Maksudnya, aku tidak menjadikan sekutu bersama Allah dalam ibadah, apapun itu. Sabda beliau, (شيئا) ”sesuatu”, bentuknya nakirah dalam susunan penafian, maka ini memberikan faidah arti yang umum.

Kesimpulannya, kalimat-kalimat agung dalam doa ini berisikan perwujudan tauhid dengan kedua rukunnya, yaitu Nafy dan Itsbat (penafian dan penetapan). Maksudnya adalah menafikan (membatalkan) seluruh bentuk peribadahan kepada selain Allah, dan selanjutnya menetapkan ibadah itu hanya untuk Allah semata. Hadits ini merupakan dalil bahwasanya tauhid adalah tempat berlindung dari kesusahan dan kesempitan, dan tauhid adalah sebab terbesar untuk menghilangkan kesedihan dan melenyapkan kegundahan.

Ketiga, Hadits Abu Bakrah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam;

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ، فَلَا تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ،

Doa orang yang mendapat kesusahan dan kesempitan: “Ya Allah, Rahmat-Mu yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata. Perbaikilah untukku urusanku semuanya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Engkau.”

Hadits ini semua kandungannya adalah mentauhidkan Allah dan berlindung diri kepada-Nya.

Dalam sabda beliau (رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ) “Hanya rahmat-Mu yang aku harapkan”, Fi’il (kata kerja) dalam kalimat ini diakhirkan. Ini menunjukkan makna pengkhususan, sehingga maknanya, “Kami mengkhususkan-Mu ya Allah dengan mengharap rahmat dari-Mu saja. Kami tidak mengharap rahmat dari siapapun selain-Mu.”

Sabda beliau,(فَلَا تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ) “Janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata. Perbaikilah untukku urusanku semuanya.” Di dalam kalimat ini terkandung kebutuhan hamba yang sangat besar kepada Allah, sesungguhnya dalam setiap urusannya dia tidak pernah bisa lepas dari Rabb dan Pelindungnya walaupun hanya sekejap mata. Karena itu beliau bersabda, “Perbaikilah untukku urusanku semuanya.” Maksudanya; “Perbaikilah seluruh bagian dan seluruh sisi urusanku.” Kemudian beliau menutup doa yang penuh berkah ini dengan kalimat tauhid ‘Laa Ilaaha illallah.’

Keempat, hadits Sa’ad bin Abi Waqqas. Di dalam hadits ini disebutkan doa nabi Yunus ‘alaihissalam ketika berada di perut ikan,

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ،

Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar  selain Engkau, Mahasuci Engkau, Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata tentang doa ini, “Sesungguhnya di dalam doa ini terdapat kesempurnaan tauhid, pensucian Allah Ta’ala dari segala aib, dan pengakuan hamba terhadap kezhaliman dan dosa-dosanya, yang mana hal ini merupakan obat   yang sangat mujarab di kala mendapat kesusahan, kesedihan, dan  kegundahan, juga merupakan wasilah (perantara) yang sangat baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memenuhi segala kebutuhan.

Sesungguhnya Tauhid dan pensucian terhadap Allah, keduanya mengandung penetapan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allah dan peniadaan seluruh kekurangan, cela, maupun permisalan bagi Allah. Pengakuan dosa mengandung arti pengakuan hamba terhadap kezalimannya yang menunjukkan keimanan hamba tersebut terhadap syariat, pahala, dan siksa Allah, sehingga mengharuskannya untuk tunduk merendah di hadapan Allah, kembali kepada-Nya, mengakui ketergelincirannya, serta mengikrarkan pengahambaan diri dan kefaqirannya kepada Rabbnya. Maka inilah empat perkara yang menjadi wasilah (perantara) kepada Allah, yaitu tauhid, pensucian Allah dari segala aib dan cela, penghambaan diri kepada Allah, dan pengakuan hamba terhadap dosa dan kezhalimannya.” (Zaadul Ma’ad)

Diambil dari kitab At-Tabyiin li Da’awatil Mardha wal Mushabiin karyaSyaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafidzahullah

Penerjemah : dr. Supriadi

Artikel www.kesehatanmuslim.com

 *****

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

Share.

About Author

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Alhamdulillah di sela-sela kuliah bisa ikut belajar Bahasa Arab di Madrasah Imam Ahmad bin Hambal Semarang. Aktivitas saat ini sebagai dokter umum di RSUD Propinsi di Sumbawa Besar dan aktif menulis artikel kesehatan Islam.

4 Comments

  1. Subhanallah,terima kasih atas sharenya.saya temui artikel ini saat sedang hati sedang gundah dan tercari cari zikir untuk ketenangan jiwa.

    Terima kasih dokter.Salam dari Malaysia.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.