Bagaimanakah Islam Mewarnai Ilmu Kedokteran Dunia

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Peradaban Islam pernah mencapai kejayaannya, membentang dari India di sebelah timur, sampai ke Samudera Atlantik di sebelah barat. Bangunan-bangunan bersejarah di Andalusia (Spanyol), seperti Alhambra di Granada, the Mezquita di Cordoba dan the Giralda di Sevilla adalah bukti peninggalan peradaban Islam di negeri Eropa. Akan tetapi, yang lebih tidak dikenal adalah bagaimana pengaruh peradaban Islam terhadap ilmu pengetahuan, teknologi dan ilmu kedokteran di dunia barat antara tahun 800 s.d. 1450 M. Apa yang dicapai oleh sains dunia barat saat ini, tentu tidak bisa dilepaskan dari warisan para ilmuwan muslim yang berasal dari Baghdad, Kairo, Cordoba, dan negeri-negeri Islam lainnya.

Peradaban Islam dan ilmu pengetahuan secara umum

Ketika Islam menyebar dari semenanjung Arab ke Syria, Mesir dan Iran, Islam bertemu dengan pusat peradaban manusia yang juga sudah berkembang sebelumnya dan bertemu dengan pusat-pusat ilmu pengetahuan. Ilmuwan Arab menerjemahkan berbagai buku-buku sains dari bahasa Yunani, Syria, Pahlavi (Persia) dan bahasa Sanskrit (dari India) ke dalam bahasa Arab. Proses ini mencapai puncak kejayaannya dengan dibangunnya Baitul Hikmah pada masa khalifah Al-Makmun dari Dinasti ‘Abbasiyah yang beribu kota di Baghdad tahun 830 M. Bahasa Arab pun menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang paling penting ketika itu.

Ilmuwan-ilmuwan muslim pun berperan penting dalam perkembangan ilmu matematika, astronomi, kimia, metalurgi, arsitektur, tekstil, dan pertanian. Berbagai teknik yang mereka kembangkan, seperti distilasi, kristalisasi, dan penggunaan alkohol sebagai antiseptik, masih digunakan sampai saat ini.

Peradaban Islam dan ilmu kedokteran di Eropa

Ilmuwan muslim juga meletakkan dasar-dasar praktek kedokteran medis modern di Eropa. Sebelum era Islam, perawatan medis pada umumnya dilakukan oleh para pendeta di sanatorium atau di ruangan-ruangan tambahan di tempat ibadah. Rumah sakit di negeri Islam (Arab) adalah pusat pendidikan kedokteran dan mengenalkan konsep yang sekarang ini kita lihat di rumah sakit modern, seperti bangsal yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, personal hygiene, rekam medis, dan apoteker.

Ibnu An-Naafis, ilmuwan muslim abad ke-13, telah mendeskripsikan sirkulasi pembuluh darah pulmoner lebih dari 300 tahun sebelum William Harvey. Dokter bedah Abu Al-Qasim Al-Zahrawi (dikenal juga dengan nama Abulcasis, Abulcasim), menulis buku At-Tasrif, yang ketika diterjemahkan ke bahasa Latin menjadi buku teks kedokteran utama di universitas-universitas di Eropa selama abad pertengahan (the Middle Ages). Salah satu yang dibahas di buku ini adalah teknik operasi sectio caesaria (operasi sesar), yang dibahas di bagian akhir buku tersebut.

Al-Zahrawi juga seorang patologist (ahli patologi), yang telah mendeskripsikan penyakit hidrosefalus dan kelainan bawaan lainnya, dan juga mengembangkan teknologi bedah semacam metode jahit (catgut sutures), yaitu penggunaan usus binatang sebagai benang jahit operasi karena bisa “diserap” oleh tubuh manusia. Tidak berlebihan jika Al-Zahrawi dijuluki sebagai the father of surgery (Bapak ilmu bedah). Bahkan, At-Tasrif adalah buku kedokteran paling tua yang pernah diterjemahkan di Inggris.

Juga Abu Bakr Muhammad Ibn Zakariya Al-Razi (Rhazes), lahir tahun 865 M, yang merupakan ilmuwan paling terkenal di dunia Islam, berkebangsaan Persia. Dia menulis buku Kitab Al-Mansuri (dalam bahasa Latin: Liber Almartosis), buku kedokteran 10 jilid lengkap dalam ilmu kedokteran di Yunani. Al-Razi juga yang pertama kali membedakan antara smallpox dan measles dalam bukunya, Kitab al-Jadari wa al-Hasba. Buku tersebut terus dicetak dan diterjemahkan ke bahasa latin, Inggris, Jerman dan Perancis sampai abad ke-19. Manuskrip buku ini, sampai sekarang tersimpan di perpustakaan Leiden University, Belanda. Al-Razi adalah ilmuwan pertama yang mengamati bahwa orang yang pernah terserang dari smallpox dan selamat darinya, maka tidak akan pernah terserang penyakit ini untuk ke dua kalinya seumur hidup mereka. Al-Razi mencatat fenomena ini dan mencetuskan sebuah teori yang saat ini dikenal sebagai “adaptive (acquired) immunity” (kekebalan tubuh spesifik) dalam ilmu imunologi “modern”.

Selain itu, deskripsi secara teliti untuk membedakan antara smallpox dan campak menurut Al-Razi akhirnya menjadi cikal bakal teknik ilmu kedokteran yang dikenal dengan differential diagnosis, yaitu teknik membedakan satu jenis (diagnosis) penyakit dengan penyakit lainnya, yang saat ini menjadi kurikulum standar ilmu kedokteran di seluruh dunia. Karya lainnya dari Al-Razi adalah Al-Hawi fi Ath-Thibb (buku komprehensif di bidang kedokteran, the comprehensive book of medicine), yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1279 dengan judul Liber Continens dan menjadi salah satu rujukan ilmu kedokteran di Paris pada tahun 1395, dan masih terus dicetak di Eropa sampai abad ke-15 dan ke-16. Perlu dicatat bahwa selama hidupnya, Al-Razi menulis lebih dari 200 buku, separuh di antaranya adalah buku kedokteran; selain juga buku matematika, astronomi, dan bidang lainnya. Tidak berlebihan jika sejarawan menyebut Al-Razi sebagai salah satu ilmuwan muslim yang dominan dan mewarnai perkembangan praktek ilmu kedokteran di Eropa.

Selain Al-Razi, buku kedokteran yang ditulis oleh Ibnu Rusyd (Averroes) juga digunakan secara luas di universitas-universitas di Eropa. Ibnu Sina (Avicenna) dikenal di dunia barat sebagai the prince of physicians. Dia-lah sang pemilik buku al-Qanun fi ath-thibb (The Canon of Medicine), yang menguasai dunia kesehatan di Eropa selama beberapa abad. Meskipun perannya lebih ke bidang farmakologi dan praktek klinik, namun kontribusinya lebih ke arah dasar-dasar (filosofi) ilmu kedokteran medis. Dia mendeskripsikan sebuah sistem di mana dokter saat ini mengkombinasikan berbagai faktor fisik dan psikis ketika mengobati pasien.

Kemunduran peradaban Islam

Peradaban Islam yang sudah dibangun oleh para ilmuwan muslim tersebut pada akhirnya mengalami kemunduran. Dari arah timur, orang-orang Mongol menyerang dan menghancurkan kota Baghdad pada tahun 1258 M. Selanjutnya, Dinasti Ottoman Turki memegang kendali sebagian besar dunia Arab ke kerajaan baru mereka sejak abad ke-14. Ditambah dengan adanya konflik dan perselisihan internal, sebagian besar kota Islam di Spanyol akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Kristen pada abad ke-14. Negara Islam terahir di Spanyol, Granada, akhirnya takluk kepada pasukan Spanyol pada tahun 1492.

Pada akhirnya, menjadi tugas kita saat ini untuk mengembalikan kejayaan tersebut seperti sedia kala, tentunya diawali dengan mengembalikan peradaban umat ini ke dalam petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.

***

@Erasmus MC NL Na-1001, 9 Dzulqa’dah 1439/ 23 Juli 2018

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.

 

Referensi:

Majeed A. How Islam changed medicine: Arab physicians and scholars laid the basis for medical practice in Europe. BMJ 2005; 331: 1486-1487.

Tibi S. Al-Razi and Islamic medicine in the 9th century. J R Soc Med 2006; 99(4): 206-207.

The oldest medical manuscript written in England. The British Medical Journal 1939; 2(4096): 80-81.

http://muslimheritage.com/article/medical-classic-al-razi%E2%80%99s-treatise-smallpox-and-measles

http://www.muslimheritage.com/article/al-razi-smallpox-and-measles

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply