Bahaya Mengintai Perokok Pasif  

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Seringkali para perokok tidak menyadari bahaya dan dampak yang ditimbulkan dari aktivitas merokok yang dilakukannya bagi lingkungan, terutama bagi orang-orang di sekitarnya. Sehingga dengan mudah kita jumpai orang-orang yang merokok di tempat-tempat umum, tempat keramaian, atau di rumah, dan mengganggu orang-orang di sekitarnya. Dalam tulisan singkat ini, kami mencoba memaparkan dampak merokok bagi orang-orang di sekitarnya (perokok pasif).

Mengenal MSS, SSS, dan ETS

Asap yang ditimbulkan oleh pembakaran rokok dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu MSS dan SSS. MSS (Mainstream Smoke) atau dikenal juga dengan ARU (Asap Rokok Utama) adalah asap rokok yang dihisap ke dalam paru atau ditelan langsung oleh perokoknya (dan kemudian dihembuskan keluar). MSS ini akan dihisap secara penuh oleh perokok aktif. Adapun SSS (Sidestream Smoke) atau dikenal juga dengan ARS (Asap Rokok Sampingan) adalah asap rokok hasil pembakaran ujung rokok pada saat tidak dihisap. Selain dua jenis asap rokok ini, rokok juga mengandung bahan-bahan yang yang mudah menguap (vapor phase components) yang akan menyebar keluar dari tembakau ke udara di sekelilingnya. Ketiga jenis asap tersebut secara keseluruhan disebut asap rokok lingkungan (Environment Tobacco Smoke/ETS) yang dapat menyebabkan polusi pada lingkungan di sekitarnya [1].

Perbedaan Kadar Bahan-Bahan Kimia pada MSS dan SSS

Kandungan bahan-bahan kimia pada SSS ternyata lebih tinggi daripada MSS. Hal ini karena pada SSS, tembakau terbakar pada suhu yang lebih rendah ketika rokok tidak sedang dihisap, sehingga pembakaran menjadi tidak lengkap (tidak sempurna) dan menghasilkan bahan-bahan kimia dengan kadar yang lebih tinggi. Perbedaan kadar bahan kimia pada MSS dan SSS dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel. Komponen MSS dan SSS pada rokok sigaret non-filter [2]

Komponen MSS SSS/MSS
Komponen gas    
Karbon monoksida 10-20 mg 2,5
Karbon dioksida 20-60 mg 8,1
Metan 1,3 mg 3,1
Asetilen 27 mg 0,8
Amonia 80 mg 73
Hidrogen sianida 430 mg 0,25
Dimetilnitrosamin 10-65 mg 52
Komponen partikel    
Tar 1-40 mg 1,7
Nikotin 1-2,5 mg 2,7
Toluen 108 mg 5,6
Fenol 20-150 mg 2,6
Naftalen 2,8 mg 16
Benzo (a) piren 20-40 mg 2,8
Hidrazin 32 mg 30

 

Pada tabel di atas, dapat kita lihat bahwa kadar bahan-bahan kimia pada SSS secara umum lebih tinggi daripada MSS. Misalnya, kadar karbonmonoksida pada SSS adalah 2,5 kali lipat lebih tinggi daripada kadar yang ditemukan pada MSS. Demikian pula kadar nikotin pada SSS adalah 2,7 kali lipat lebih tinggi daripada kadar yang ditemukan pada MSS.

Di sinilah bahaya yang senantiasa mengintai bagi para perokok pasif. Komponen utama asap rokok yang dihirup oleh para perokok pasif adalah SSS (85%), sedangkan MSS yang dihirup hanya sekitar 15% dari MSS yang dihembuskan oleh perokok aktif ke udara lingkungan. Sehingga, para perokok aktif juga ikut terpapar dengan SSS ini [3].

Wahai Perokok, Sayangilah Dirimu Sendiri Orang-Orang di Sekitarmu!

Di dalam asap rokok, terkandung lebih dari 4000 bahan kimia; 250 di antaranya berbahaya untuk kesehatan, dan lebih dari 50 yang diketahui menyebabkan kanker pada manusia. Asap rokok dalam tempat tertutup akan dihirup oleh siapa saja, sehingga baik perokok aktif maupun pasif akan memiliki risiko yang sama. Sebagai contoh adalah sebuah studi yang baru dipublikasikan di bulan Juni 2014 bahwa perokok pasif (di rumah) adalah faktor risiko terjadinya radang paru (pneumonia) pada orang tua (usia >65 tahun) [4]. Demikian juga, perokok pasif telah lama dikenal sebagai faktor risiko terjadinya penyakit asma pada usia dewasa atau dapat memperparah penyakit asma yang sudah diderita [5].

Oleh karena itu, tidak berlebihan memang ketika organisasi kesehatan dunia (WHO) menggolongkan merokok sebagai “chronic, progressive disease which is also ‘contagious’” [penyakit kronis, progresif, dan juga ‘penyakit menular’]. Merokok membunuh lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia per tahun, lebih dari gabungan jumlah kematian yang disebabkan oleh penyakit HIV/AIDS, TBC, dan malaria. Sekitar 700 juta anak di seluruh dunia, atau hampir separuh total populasi di seluruh dunia, menghirup udara yang tercemari dengan asap rokok. Lebih dari 40% anak memiliki paling tidak satu orang tua (baik ayah atau ibu) yang perokok aktif. Pada tahun 2004, WHO membuat estimasi (perkiraan) bahwa ±31% dari kematian pada anak adalah karena adanya paparan terhadap asap rokok.

WHO telah membuat pernyataan dan guideline (petunjuk) bahwa “tidak ada level aman (minimal) untuk paparan terhadap asap rokok” (atau dalam bahasa WHO, “no safe level of exposure to tobacco smoke”). Ini berbeda dengan bahaya yang ditimbulkan oleh bahan (kimia) lain, ketika paparan terhadap bahan tersebut masih berada dalam level atau batas aman, maka tidak ada efek samping yang merugikan untuk kesehatan manusia. Akan tetapi, konsep seperti ini tidak berlaku untuk paparan terhadap asap rokok. Paparan terhadap asap rokok dalam jumlah yang sangat minimal pun, sudah dihitung membahayakan kesehatan manusia. Artinya, untuk terbebas dan terlindungi dari bahaya rokok, harus diciptakan lingkungan yang 100% terbebas dari asap rokok (atau dalam bahasa WHO, “only 100% smoke-free environments provide effective protection”). Berdasarkan hal ini, WHO dengan tegas menyatakan bahwa area khusus merokok (smoking area) tidak dapat melindungi dari bahaya rokok, karena asap yang ditimbulkannya dapat menyebar ke area bebas rokok (non-smoking area) di sekitarnya. Oleh karena itu, banyak negara saat ini memiliki peraturan dan undang-undang untuk menciptakan kawasan 100% bebas asap rokok untuk melindungi area-area publik dari bahaya asap rokok [6, 7].

 

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc. 

Seorang penulis buku, Dosen di Fak. Kedokteran UGM

Alumni Mahad Ilmi Yogyakarta

Master of Infection and Immunity

di Erasmus University Medical Centre Rotterdam, Netherlands

Catatan kaki:

[1]   Rahmatullah P. Pneumonitis dan penyakit paru lingkungan dalam Sudoyo AW, Setiyohadi, Alwi I, Simadibraa M, Setiati S [ed.], 2006, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Keempat Jilid II, Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hal. 1033-1044.

[2]   Dikutip dari referensi no. 1.

[3]   Idem.

[4]   Almirall J, et al. Passive smoking at home is a risk factor for community-acquired pneumonia in older adults: a population-based case-control study. BMJ Open 2014; 4(6):e005133.

[5]   Bakirtas A. Acute effects of passive smoking on asthma in childhood. Inflamm Allergy Drug Targets 2009; 8(5): 353-358.

[6]   http://www.who.int/features/factfiles/tobacco/en/

[7]   http://www.who.int/features/qa/60/en/

 

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

1 Comment

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.