Beginilah Seharusnya Seorang Dokter Muslim (8)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Seorang dokter muslim mempercayai pentingnya penerapan syariat dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk di antaranya perkara yang terkait dengan hukum-hukum fiqih dalam kondisi darurat saat seorang dokter muslim menjalankan tugasnya

Berikut akan disampaikan secara berseri tentang sifat-sifat yang semestinya dimiliki oleh seorang dokter muslim :

  1. Niat (yang ikhlas) dan mengharapkan pahala dari Allah.
  2. Amanah dan profesional dalam bekerja.
  3. Ihsan  dan  muraqabah (merasa diawasi oleh Allah).
  4. Tazkiyatun-nafs (pembesihan jiwa) dan muhasabah(introspeksi diri).
  5. Menuntut ilmu berkesinambungan dan berkelanjutan.
  6. Kepribadian yang istimewa dan akhlak yang baik; tawaddu’,  jujur, penyayang, adil, tolong menolong dan menyukai kebaikan bagi orang lain, malu berbuat dosa,  santun dan lemah lembut.
  7. Menghormati  hak-hak pasien.
  8. Tafaqquh fid-din (Mempelajari dan memahami hukum-hukum agama)terutama dalam permasalahan khusus yang terkait dengan kedokteran.
  9. Memberikan kepada setiap orang haknya masing-masing.

 (8). Tafaqquh Fid-Din

Dalam Permasalahan Kedokteran

Pentingnya memahami fiqih kedokteran bagi seorang dokter

Seorang dokter muslim mempercayai pentingnya penerapan syariat dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk di antaranya perkara yang terkait dengan hukum-hukum fiqih dalam kondisi darurat saat seorang dokter muslim menjalankan tugasnya. Sebagai contoh, hukum Thaharah (bersuci) dan shalat bagi pasien. Terlihat sebagian pasien tidak tahu tentang hal ini, bahkan kebanyakan meninggalkan shalat di rumah sakit karena tidak adanya bimbingan mengenai hukum-hukum thaharah dan shalat bagi orang sakit. Dan seolah-olah hal ini bukan merupakan kewajiban seorang dokter, padahal nasehat bagi sesama muslim adalah bagian dari haknya.

Demikian pula seyogyanya diperhatikan penerapan pengajaran-pengajaran Islam, seperti mewajibkan dokter-dokter wanita dan perawat-perawat wanita untuk mengenakan jilbab syar’i, menjauhi ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan) sebagai bentuk ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Melaksanakan perintah-Nya dengan berusaha menundukkan pandangan baik bagi laki-laki maupun perempuan, menghormati aurat pasien, dan tidak membuka aurat kecuali dalam kondisi darurat dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah syar’i. Tafaqquh fid-din dalam semua hal yang terkait dengan tindakan kedokteran, karena Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Karena itu, seyogyanya untuk memperhatikan sisi ini dalam metode-metode pengajaran kuliah kedokteran di negara-negara Islam. Para dokter, ustadz, dan penasehat hendaknya menerapkan dan membiasakannya sehingga hukum syar’i merupakan sisi utama yang dipentingkan dalam pekerjaan dokter sehari-hari.

Dalil-dalil syar’i

Dari Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنْ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” (Muttafaqun ‘alaih).

(Bersambung)

*****

Diambil dari At-Thabiibul Muslimu Tamayyuzun wa Simaatun yang ditulis oleh Dr. Yusuf bin Abdillah at-Turky dan diterjemahkan oleh dr. Supriadi dengan judul  “ Dokter Muslim Istimewa dan Ungggul “

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter.

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

Share.

About Author

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Alhamdulillah di sela-sela kuliah bisa ikut belajar Bahasa Arab di Madrasah Imam Ahmad bin Hambal Semarang. Aktivitas saat ini sebagai dokter umum di RSUD Propinsi di Sumbawa Besar dan aktif menulis artikel kesehatan Islam.

Leave A Reply