Belajar dari Kasus Wabah MERS-CoV di Korea Selatan, 2015

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Middle east respiratory syndrome (MERS) adalah penyakit pernapasan akut yang disebabkan oleh infeksi virus, yaitu beta-coronavirus (CoV). Infeksi ini dikenal dengan MERS karena pertama kali dilaporkan di Saudi Arabia pada bulan September 2012. Tanda dan gejala infeksi MERS-CoV antara lain demam, nyeri otot (myalgia), sesak napas, batuk, radang tenggorokan, nyeri kepala, mual, muntah, atau nyeri perut. Sampai dengan bulan Juni tahun 2015, sebagian besar kasus MERS-CoV dilaporkan di negara-negara timur tengah (middle east), dan hanya sedikit kasus yang dilaporkan di negara lainnya.

Awal mula wabah MERS-CoV di Republik Korea Selatan

Wabah MERS-CoV di Korea Selatan bermula ketika seorang pria, 68 tahun, mengalami gejala demam dan nyeri otot pada 11 Mei 2015, setelah pulang dari perjalanan bisnis dari Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar dan Saudi Arabia antara 18 April sampai dengan 11 Mei 2015. Diagnosis infeksi MERS-CoV ditegakkan pada tanggal 20 Mei 2015 ketika pasien tersebut dirawat di Samsung Medical Center, Seoul. Akan tetapi, saat itu sudah terlambat. Pria ini sudah mengalami kontak dengan sekitar >600 pasien, >600 pengunjung rumah sakit dan >200 petugas kesehatan selama pasien positif MERS tersebut mengunjungi dua klinik kesehatan dan perawatan di satu rumah sakit (antara tanggal 12 sampai 17 Mei 2015), sebelum akhirnya mendatangi UGD Samsung Medical Center pada tanggal 17 dan 18 Mei karena gejala yang semakin parah.

Dari penelusuran kontak awal ini, 26 orang positif terinfeksi MERS-CoV. Dari sinilah, wabah MERS-CoV cepat menyebar melalui penularan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan (nosocomial infection), terutama saat menjalani perawatan di UGD.

Penyebaran dan perluasan wabah

Penelusuran kasus sampai dengan tanggal 13 Juli 2015 menemukan 186 kasus positif MERS-CoV, yang menyebar di 16 fasilitas kesehatan. Dari keseluruhan kasus tersebut, 25 (13.4%) di antaranya adalah petugas kesehatan; 82 (44.1%) adalah pasien yang sebelumnya dirawat di rumah sakit; dan 61 (32.8%) adalah penunggu pasien; sedangkan 18 (9.7%) adalah kelompok lainnya (termasuk petugas keamanan rumah sakit, pembesuk pasien, dan lainnya).

Sampai dengan 13 Juli 2015, tercatat 36 pasien meninggal dunia (19.4%), dan angka ini sangat tinggi untuk kategori wabah.

Sampai dengan 13 Juli 2015, tercatat 36 pasien meninggal dunia (19.4%), dan angka ini sangat tinggi untuk kategori wabah. Fakto risiko kematian di wabah ini adalah usia (≥65 tahun) dan adanya penyakit pernapasan sebelum wabah. Sedangkan sisanya, 131 pasien sembuh (70.4%) dan 19 pasien (10.2%) masih dirawat di rumah sakit.

Secara keseluruhan, wabah MERS-CoV di Korea Selatan adalah wabah MERS terbesar di luar kawasan timur tengah.

Dampak wabah MERS-CoV

Sebagai dampak wabah MER-CoV di Korea Selatan, >135.000 turis mancanegara membatalkan kunjungan; >2.700 sekolah ditutup selama terjadinya wabah, dan >16.000 di karantina di rumah, tidak boleh keluar rumah saat terjadi wabah. Dari sini kita bisa melihat besarnya kerugian dari sisi ekonomi dan sosial ketika terjadi wabah besar di suatu wilayah.

Pelajaran yang bisa diambil

Memutus rantai penularan di rumah sakit dan tindakan pencegahan lainnya, perlu dilakukan dengan cepat dan tepat untuk mencegah perluasan wabah.

Sampai hari ini, MERS CoV masih endemik di negara-negara timur tengah. Sekitar 80% dari total kasus MERS-CoV yang dilaporkan dari seluruh dunia, berasal dari Saudi Arabia. Sehingga, suatu negara yang banyak menerima kepulangan turis, pekerja, atau lainnya (misalnya jamaah haji atau umrah), dari negara-negara timur tengah hendaknya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan MERS-CoV. Apalagi jika setelah pulang ke tanah air, orang tersebut mengalami gejala dan tanda khas infeksi pernapasan seperti gambaran di atas.
Memutus rantai penularan di rumah sakit dan tindakan pencegahan lainnya, perlu dilakukan dengan cepat dan tepat untuk mencegah perluasan wabah. Wabah di Korea Selatan yang cepat menyebar ke banyak rumah sakit, tampaknya disebabkan karena belum siapnya sistem untuk menghadapi situasi krisis semacam ini.

***
@Erasmus MC NL Na-1001, 16 Dzulqa’dah 1439/ 31 Juli 2018
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.

Referensi:
Cho SY et al. MERS-CoV outbreak following a single patient exposure in an emergency room in South Korea: an epidemiological outbreak study. Lancet 2016; 388: 994-1001.

Ki M. 2015 MERS outbreak in Korea: hospital-to-hospital transmission. Epidemiol Health 2015; 37: e2015033.

Korea Centers for Disease Control and Prevention. Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus Outbreak in the Republic of Korea, 2015. Osong Public Health Res Perspect 2015; 6(4): 269-278.

http://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/middle-east-respiratory-syndrome-coronavirus-(mers-cov)

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply