Bolehkan Meminta Bayaran Dari Donor Darah ?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Pertanyaan :

Sebagian orang yang mendonorkan darahnya meminta bayaran atas darah yang didonorkannya itu. Apakah boleh mengambil bayaran atas darah yang donorkan?

Jawab : 

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad yang tidak ada lagi nabi setelah beliau. Wa ba’du.

Darah adalah sesuatu yang diharamkan berdasakan nash Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ  [المائدة: 3]

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi..” (al-Maidah: 3)

Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ، حُرِّمَتْ عَلَيْهِمْ الشُّحُوْمُ فَبَاعُوْهَا وَأَكَلُوْا أَثْمَانَهَا، وَإِنَّ اللهَ-عز وجل- إِذَا حَرَّمَ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ أَثْمَانَهَا،

“Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi, diharamkan atas mereka lemak hewan lalu mereka menjualnya dan memakan hasil penjualannya. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla apabila mengharamkan memakan sesuatu  maka Allah mengharamkan hasil penjualannya.” (Dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, bagian awal hadits ini juga diriwayatkan Bukhari dan Muslim (1582)

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, terdapat beberapa fatwa ulama pada zaman kita sekarang ini yang membolehkan mengambil darah namun tidak boleh menjualnya. Di antara fatwa tersebut adalah fatwa Syaikh Husnain Makhluf, mufti Mesir dan merupakan fatwa pertama dalam masalah ini yang dikeluarkan pada tahun 1950 M (dan Fatwa Syaikh Hasan Makmun, Mufti Mesir), fatwa Hai-ah Kibaril Ulama Kerajaan Saudi Arabia, fatwa Lajnah al-Ifta’ Yordania, Fatwa Lajnah al-Ifta’ al-Jazair, dan Fatwa Lajnah al-Fiqhy Rabitah al-’Alam al-Islamy. Fatwa-fatwa tersebut mengharamkan penjualan darah, dan bahwasanya pendonoran darah dari seorang wanita kepada anak kecil berusia di bawah dua tahun tidak diambil hukum persusuan yang mengakibatkan terjadinya mahram. Inilah perkara yang disepakati dalam fatwa-fatwa yang terbit dalam masalah ini.

Telah terbit puluhan atau bahkan ratusan fatwa baik fatwa perorangan ataupun lembaga, buku-buku, ataupun statemen yang membolehkan pendonoran darah apabila memang diharuskan untuk menyelamatkan hidup seseorang atau untuk penyembuhan penyakit dan tidak boleh ada unsur pembayaran ataupun penjualan dalam proses donor darah tersebut. Adapun orang yang terpaksa membeli darah maka tidak ada dosa baginya apabila tidak ada cara lain untuk mendapatkan darah. Dan hendaknya terpenuhi syarat pendonoran darah untuk menghindari penyebaran penyakit serta mencegah terjadinya reaksi yang membahayakan.

Terdapat Fatwa Mujtama’ al-Fiqhy Rabitah al-Alam al-Islamy dalam Muktamar ke XVIII yang diselenggarakan di kota Mekah al-Mukarramah tahun 1409 H, teksnya sebagai berikut;

“Adapun hukum meminta ganti (bayaran) atas darah, atau dengan istilah lain ‘penjualan darah’, maka Majelis memandang perbuatan tersebut tidak boleh karena termasuk perkara yang diharamkan yang tertera dalam nash al-Quran bersama (pengharaman) bangkai dan daging babi. Maka tidak boleh menjual dan meminta bayaran atas darah tersebut. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا حَرَّمَ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ ثَمَنَهُ

Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mengharamkan  sesuatu  maka Dia mengharamkan  hasil penjualannya.

Sebagaimana telah shahih dari Nabi bahwa beliau  melarang menjual darah. Namun dikecualikan pada kondisi-kondisi darurat menurut pertimbangan kedokteran sementara tidak ditemukan orang yang bersedia mendonorkan darahnya kecuali bila dibayar. Maka kondisi darurat semacam ini membolehkan sesuatu yang diharamkan sesuai kadar kedaruratan tersebut dapat teratasi (keadaan darurat diambil seperlunya), ketika itu boleh bagi pembeli membayarnya dan dosanya ditanggung oleh orang yang menjualnya.

Berkata Dr. Husamuddin ‘Afanah, pengajar Fiqih dan Usul Fiqih Universitas al-Quds;

Sesungguhnya donor darah dengan sukarela termasuk perkara yang bersifat darurat bagi manusia. Aku tidak sampai mengatakan hukumnya fardu kifayah yang mana apabila sebagian orang telah menunaikanya maka gugurlah kewajiban yang lain, karena donor darah itu berhubungan dengan keselamatan orang sakit dan orang yang menjalani operasi dalam berbagai kasus, dan wajib bagi seseorang untuk menyumbangkan darahnya secara sukarela demi mengharapkan pahala dari Allah, serta tidak meminta imbalan atas darah yang didonorkan itu, semata-mata untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Tidak boleh meminta bayaran atas darah yang disumbangkan tersebut karena sesungguhnya manusia adalah makhluk Allah yang dimuliakan sehingga  tidak boleh dijual bagian tubuhnya. Contohnya, tidak boleh menjual rambut manusia sebagaimana menjual bulu binatang. Demikian pula darah manusia tidak boleh dijual. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ  [الإسراء: 70]

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar telah memuliakan anak keturunan Adam.“ (al-Isra: 70)

Karena kemuliaan inilah seseorang tidak diperbolehkan menjual bagian tubuhnya layaknya menjual barang dagangan. Apabila orang yang membutuhkan darah kesulitan mendapatkan darah yang didonorkan secara sukarela atau cuma-cuma kecuali dengan cara membelinya, maka dalam kondisi seperti ini dia boleh membelinya dan dosanya ditanggung oleh orang yang menjual darahnya.

Perlu diingatkan di sini, pendonoran darah tidak ada sangkut pautnya dengan mahram antara pendonor dan penerima (pendonor dan penerima darah tidak menjadi mahram karena donor darah), tidak bisa diqiyaskan atau disamakan dengan persusuan. [1]

 

Sumber : Al-Ajwibatun Nafi’ah Lil ‘Amiliin fil Majaalit Thibbi karya Ibrahim Ismail Ghanim (Abu Abdirrahman)

Penerjemah : dr. Supriadi

 

Catatan kaki:

[1] Fadhilatus Syaikh Ahmad Ziyab Hafizhahullah berkata, “Apa yang berlaku pada darah berlaku juga pada seluruh bagian tubuh yang lain. Namun hukum ini bersifat umum. Sungguh kami telah mendengar dan menyaksikan sendiri sejumlah orang yang dililit kemiskinan sehingga  memaksa mereka menjual bagian tubuhnya. Begitu juga menjual seluruh tubuh karena terpakasa juga makruh (dibenci) hukumnya.  Karena harta, manusia bisa berubah sikap dari bersahabat menjadi bermusuhan. Dalam kasus seperti ini, kondisi darurat memaksanya melakukan perbuatan itu, maka dia masuk dalam firman Allah Ta’ala.

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ [البقرة: 173]

“Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 173)

 

Tambahan:

Kita di Indonesia biasa mengambil darah di PMI dan dipungut biaya. Tidak bisa kita katakan bahwa PMI menjual darah, karena biaya ini lebih bersifat biaya operasional untuk pemeriksaan, pengolahan, dan penyimpan darah, serta untuk keberlangsungan kegiatan  PMI. Wallahu Ta’ala a’lam_pen.

Share.

About Author

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Alhamdulillah di sela-sela kuliah bisa ikut belajar Bahasa Arab di Madrasah Imam Ahmad bin Hambal Semarang. Aktivitas saat ini sebagai dokter umum di RSUD Propinsi di Sumbawa Besar dan aktif menulis artikel kesehatan Islam.

Leave A Reply