Cara Wudhu Jika Tangan Dipasang Gips

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Tanya :

Ada yang bertanya: Seseorang yang tangannya fraktur dan dipasangkan gips, bagaimanakah dia bersuci ketika berwudhu dan mandi junub?

Jawab :

Apabila seorang muslim memilik udzur (alasan syar’i) untuk tidak membasuh sebagian anggota badannya karena bagian tersebut cidera dan dilindungi dengan gips atau karena ada luka yang dilapisi obat/perban, sementara dokter melarangnya menggunakan air, atau tidak boleh terkena benda panas, atau yang lain, maka disyariatkan baginya mengusap  gips atau perban tersebut tanpa membasuhnya dengan air. Hal ini dinamakan oleh para ulama dengan “al-Mas-hu ‘alal ‘ashaa-ib wal Jabaa-ir (mengusap di atas perban dan bidai).

Perban dan pelindung tulang (misalnya gips atau bidai) terkadang butuh dilepas pada waktu-waktu tertentu sesuai kondisi luka atau fraktur. Seorang muslim pada saat itu butuh untuk bersuci, baik berwudhu ataupun mandi. Agama Islam datang membawa kemudahan bagi manusia, maka Islam mensyari’atkan mengusap perban ataupun gips/bidai untuk menghilangkan penderitaan dan rasa sakit dari manusia, karena melepas perban atau gips/bidai akan memberatkan dan beresiko bagi orang yang sakit.

Di antara dalil yang menunjukkan disyariatkannya mengusap perban dan gips/bidai adalah atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata, “Barangsiapa terluka dan dibalut dengan kain, maka dia wajib berwhudu dan mengusap di atas balutan tersebut serta membasuh di sekitar balutan.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi, beliau berkata, perkataan ini shahih dari Ibnu Umar, Sunan al-Baihaqi 1/228).

Mayoritas ulama dari kalangan empat mazhab berpendapat tentang disyaritakannya mengusap perban dan pelindung tulang. Al-Baihaqi meriwayatkan dari beberapa Tabi’in terkemuka tentang bolehnya mengusap perban luka dan pelindung tulang, di antaranya ‘Ubaid bin  ‘Umair, Thawus, Hasan al-Bashri, dan Ibrahim an-Nakhai’i. Mengusap perban dan gips/bidai hukumnya wajib, tidak sah wudhu ataupun mandi seseorang tanpa melakukannya dengan beberapa syarat berikut ini:

  1. Bila anggota tubuh yang dibungkus perban ataupun gips/bidai berbahaya bila dibasuh, yang mana dikhawatirkan jika dibasuh sakitnya akan bertambah atau proses penyembuhannya menjadi lama.
  2. Perban ataupun gips/bidai tidak menutupi bagian tubuh yang sehat terkecuali bila tidak bisa dihindari, dan ini lumrah untuk gips/bidai karena tak bisa dihindari akan menutupi sebagian tubuh yang sehat di sekitar area yang yang fraktur guna menguatkan gips/bidai tersebut agar tidak terlepas.

Namun apabila gips/bidai melewati batas fraktur dan menutupi bagian yang sehat tanpa ada keperluan, maka wajib melepasnya dari bagian yang sehat untuk dibasuh. Tidak sah mengusapnya saja apabila melepasnya tidak membahayakan orang yang sakit. Sifat thaharah orang yang mengalami fraktur ataupun terluka adalah membasuh bagian tubuh yang sehat dan mengusap pembalut yang menutupi luka/fraktur, wajib mengusap seluruh bagian gips/bidai berdasarkan pendapat mayoritas ulama fiqih.

Berikut ini beberapa hukum seputar mengusap perban ataupun gips/bidai:

  • Mengusap perban ataupun gips/bidai tidak dibatasi waktunya, bahkan boleh mengusapnya kapan saja selama dibutuhkan. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami fraktur perlu dipasangkan gips selama sebulan atau dua bulan, maka selama itu dia boleh mengusap gips tersebut, berbeda dengan mengusap kedua khuf (sepatu) dan kaus kaki. Mengusap sepatu dan kaus kaki adalah selama satu hari satu malam bagi orang yang mukim dan selama tiga hari tiga malam bagi orang yang musafir. Artinya, mengusap perban atau penutup luka dibatasi sampai sembuh, tidak dengan hari.
  • Tidak disyaratkan orang yang akan diperban atau dipasangkan gips untuk bersuci terlebih dahulu berdasarkan pendapat yang paling rajih (kuat) dari para ulama, dikarenakan hal tersebut menyulitkan dan memberatkan. Seseorang bisa mendapat hadats (kondisi tidak suci) secara tiba-tiba, lalu dilarikan ke rumah sakit dan dipasangkan gips, dan tidak mungkin dia bersuci sebelumnya.
  • Mengusap perban atau gips/bidai dapat dilakukan saat berwudhu ataupun mandi, berbeda dengan mengusap sepatu, hanya boleh dilakukan saat berwudhu saja.
  • Tidak diperbolehkan mengusap perban ataupun gips/bidai apabila telah sembuh dari luka ataupun fraktur, karena mengusap itu sendiri adalah rukhsah (keringanan) dikarenakan adanya udzur. Apabilanya udzur telah hilang maka batallah rukhsah
  • Apabila seseorang telah mengusap perban atau gips/bidai kemudian melepasnya karena telah sembuh maka thararahnya tidaklah batal, karena thararah tersebut telah sempurna secara syar’i.

*****

Sumber : Al-Ajwibatun Nafi’ah Lil ‘Amiliin fil Majaalit Thibbi karya Ibrahim Ismail Ghanim (Abu Abdirrahman)

Penerjemah : dr. Supriadi

 

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter.

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini

Share.

About Author

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Alhamdulillah di sela-sela kuliah bisa ikut belajar Bahasa Arab di Madrasah Imam Ahmad bin Hambal Semarang. Aktivitas saat ini sebagai dokter umum di RSUD Propinsi di Sumbawa Besar dan aktif menulis artikel kesehatan Islam.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.