Congenital Rubella Syndrome (CRS) di Indonesia

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Mengenal Congenital Rubella Syndrome (CRS)

CRS adalah infeksi pada janin dalam kandungan, yang disebabkan oleh virus Rubella. Janin yg mengalami CRS akan mengalami:

– abortus (keguguran) atau lahir mati.

– katarak kongenital (katarak bawaan), glaukoma, mikroftalmia

– mikrosefali (gangguan pertumbuhan otak)

– kelainan jantung bawaan

– kelainan pendengaran

Kelainan-kelainan tersebut dapat disertai dengan radang otak, radang hati (hepatitis) dan trombositopenia.

Sebetulnya, CRS bisa dicegah dengan vaksin Rubella. Akan tetapi sayangnya, vaksin rubella belum masuk dalam program imunisasi nasional. Kampanye imunisasi measles-rubella (MR) yang digalakkan oleh pemerintah mulai tahun ini adalah langkah awal sebelum memasukkan imunisasi MR ke dalam program imunisasi nasional. Setelah masuk program nasional, vaksin MR akan diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 sekolah dasar (SD).

Beban Penyakit (Disease Burden) CRS di Indonesia

Penelitian terbaru di RS. Dr. Sardjito Yogyakarta dari bulan September hingga Desember 2013 (4 bulan) mengidentifikasi ada 47 pasien yang diduga terkena CRS. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium penunjang, 27 di antaranya (57.5%) terkonfirmasi benar terkena infeksi virus rubella. Perlu diperhatikan bahwa durasi penelitian ini hanya empat bulan saja dan hanya dilakukan di satu rumah sakit rujukan nasional. [1]

Angka ini relatif sangat tinggi. Mengapa? Karena di negara-negara yang telah melaksanakan vaksinasi rubella secara nasional, misalnya di Belanda, angka CRS hampir 0%, alias sangat jarang ditemukan lagi kasus CRS karena keberhasilan program vaksinasi di negara tersebut. [2]

Disease burden rubella di negara-negara yang belum memasukkan vaksin rubella ke dalam program imunisasi nasional sangatlah tinggi. Contohnya, pada tahun 1996 diperkirakan 22.000 anak lahir dengan CRS di Afrika. Di Asia Tenggara, 46.000 anak lahir dengan CRS. Sehingga tidak heran jika Indonesia menjadi salah satu perhatian (sorotan) dunia untuk kasus-kasus CRS karena disease burden di Asia Tenggara tersebut tentu saja salah satunya “disumbang” oleh Indonesia. Artinya, jika disease burden di Indonesia diturunkan signifikan dengan program vaksinasi MR, hal ini akan menurunkan disease burden di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan. [3]

 

***

Selesai disusun menjelang maghrib, Rotterdam NL 7 Dzulhijjah 1438/29 Agustus 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] Herini ES, Gunadi, Triono A, Mulyadi AW, Mardin N, Rusipah, Soenarto Y, Reef SE. Hospital-based surveillance of congenital rubella syndrome in Indonesia. Eur J Pediatr. 2017; 176(3): 387-393.

[2] van Lier A, McDonald SA, Bouwknegt M; EPI group, Kretzschmar ME, Havelaar AH, Mangen MJ, Wallinga J, de Melker HE. Disease burden of 32 infectious diseases in the Netherlands, 2007-2011. PLoS One. 2016; 11(4): e0153106.

[3] World Health Organization. Rubella vaccines: WHO position paper. Weekly Epidemiol Record. 2011; 29(86): 301-316.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply