Dasar-dasar Kedokteran di Dalam Al-Qur’an

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Alhamdulillahi washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah.

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menunjukkan bagi manusia jalan keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dengan hikmah-Nya, Allah Ta’ala menurunkan petunjuk yang membimbing manusia dalam segala aspek kehidupannya. Begitu sempurnanya agama Islam ini sehingga bukan hanya ibadah ritual saja yang diatur. Namun, interaksi antarmakhluk, bahkan kehidupan individual makhluk pun dibimbing sedemikian rupa untuk kemaslahatan manusia.

Salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia ialah aspek kesehatan. Gangguan kesehatan amat menurunkan kualitas hidup manusia. Untuk itulah dibutuhkan panduan menjaga kesehatan bagi populasi manusia.

Al-Quranul Karim sebagai kitab suci panduan hidup muslimin telah memuat panduan umum menjaga kesehatan. Seorang ulama pakar tafsir, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mencantumkan bab “Petunjuk Al-Qur’an tentang dasar-dasar kedokteran” dalam kitab Qawaidul Hisan.

Beliau menjelaskan, “Menjaga kesehatan dilakukan dengan tiga langkah: melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan, menghindari aktivitas yang membahayakan kesehatan, dan menyingkirkan berbagai unsur yang dapat membahayakan kesehatan tubuh.” [1]

Kemudian beliau menjelaskan beberapa dalil di dalam Al-Quran yang menunjukkan bimbingan dalam tiga langkah yang telah tercantum di atas.

  1. Melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan.

Allah Ta’ala berfirman, “Makanlah dan minumlah oleh kalian, namun janganlah berlebih-lebihan,” (QS. Al-A’raf ayat 31). As-Sa’di menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memberikan perintah bagi manusia untuk makan dan minum, dimana tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik tanpanya. Perintah yang umum ini menjelaskan bahwa mengkonsumsi makanan dan minuman -yang sesuai untuk manusia- bermanfaat dalam segala waktu dan keadaan. [1]

Jika kita perluas pembahasan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa salah satu cara penting menjaga kesehatan ialah melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan. Selain makan dan minum, aktivitas penting lainnya misalnya olahraga dan istirahat sesuai kebutuhan.

Yang menarik, di akhir bab ini As-Sa’di menjelaskan, “Demikianlah, segala amal yang Allah sebutkan di kitab-Nya, seperti jihad, shalat, puasa, haji, dan seluruh amalan termasuk berbuat baik kepada makhluk, meskipun tujuan terbesarnya ialah mencari ridha Allah Ta’ala mendekatkan diri kepada-Nya, mencari balasan-Nya, serta berbuat baik kepada hamba-Nya, sesungguhnya amal-amal tersebut dapat menyehatkan dan melatih tubuh, begitu pula melatih dan menenangkan jiwa, menyenangkan hati. Di dalam amal tersebut juga terdapat rahasia yang istimewa, yaitu menjaga dan meningkatkan kesehatan, serta menghilangkan sumber penyakit dari tubuh.” [1]

  1. Menghindari aktivitas yang membahayakan kesehatan.

Allah Ta’ala memperbolehkan orang yang sakit untuk bertayamum jika air wudhu membahayakan kesehatan. Allah Ta’ala juga melarang untuk “mencampakkan tangan kita ke dalam kebinasaan”. Termasuk di larangan ini ialah menggunakan segala zat yang membahayakan tubuh baik dari jenis makanan maupun obat-obatan tertentu. Di ayat ke 31 Surat Al-A’raf di atas terdapat larangan berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Bentuk berlebih-lebihan bisa dalam hal jumlahnya, dalam memilih makan-minum, waktu makan-minum, dan ini merupakan bentuk menghindari hal-hal yang membahayakan diri. [1]

Contoh penerapan lain dari pelajaran ini di antaranya menghindari rokok, minuman keras, serta narkoba, menghindari aktivitas yang berisiko tinggi seperti kebut-kebutan di jalan umum, perilaku seks bebas, dan lain-lain.

  1. Menyingkirkan berbagai unsur yang dapat membahayakan kesehatan tubuh.

Contoh ajaran yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah pemberian izin khusus bagi orang yang berihram untuk mencukur rambut karena ada gangguan (kutu) di kepalanya. Padahal, hukum asalnya orang yang sedang berihram dilarang mencukur rambut.

Inilah contoh menjaga kesehatan dengan menghilangkan sumber penyakit. Penerapan lain dari pelajaran ini ialah dengan cara menjaga kebersihan, mengatur sanitasi dan pengelolaan sampah, menghindari asap rokok dan polusi berlebihan, pemberantasan hewan yang menyebarkan penyakit, dan lain sebagainya.

Pada bagian penutup dari kaidah ke-40 di kitab Qawaidul Hisan, penulis kitab ini menjelaskan, “Secara umum seluruh syariat bermuara kepada maslahat bagi hati, ruh, akhlak, badan, harta, dunia, dan akhirat. Wallahu a’lam.” [1]

Menggali Lebih Jauh

Al-Quran berisi petunjuk menjaga kesehatan yang bersifat global. Adapun berbagai cara detil untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyakit tidak dijelaskan panjang lebar di dalam Al-Qur’an. Tentu hal ini dapat kita pahami dan justru menunjukkan kebijaksanaan dari Allah Ta’ala.

Masih di kitab Qawaidul Hisan, pada kaidah ke-23 dijelaskan bahwa petunjuk Al-Qur’an terdiri dari 2 macam :

Pertama, memberi petunjuk kepada perintah, larangan, atau berita yang telah dikenal dalam syariat maupun ‘urf.

Kedua, memberi petunjuk untuk mengungkap segala hal yang bermanfaat dari prinsip yang telah dijelaskan; kemudian para hamba berpikir mengembangkan prinsip tersebut untuk mengambil manfaat yang banyak darinya. [1]

Yang sedang kita bahas merupakan bentuk bimbingan Al-Qur’an jenis kedua.

Dengan demikian -dalam konteks kesehatan- yang perlu kita lakukan adalah mengembangkan ilmu kesehatan seluas-luasnya dalam rangka mengambil manfaat duniawi maupun ukhrawi.

Bagaimana Mengembangkan Ilmu Kesehatan

Di dalam Islam, kita senantiasa dibimbing untuk melandasi berbagai perbuatan dengan ilmu. Selain itu, kita dibimbing pula untuk menyerahkan berbagai urusan kepada ahlinya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah kami mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan para laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya’ ayat 7).

Pada asalnya, arti lafadz orang-orang yang berilmu di ayat ini adalah ahli kitab umat terdahulu. Akan tetapi, lafadz tersebut bisa berarti umum. Ibnu ‘Athiyah berkata, “Ahli ilmu bermakna umum bagi setiap orang yang ahli di suatu bidang ilmu.” Maka yang dimaksud orang yang berilmu adalah para ahli di setiap bidang ilmu. [2]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi,” Ada seorang sahabat bertanya, “Bagaimana maksud amanat disia-siakan?” Nabi menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari no. 6015).

Maka tugas kita ialah menyerahkan berbagai urusan kita baik dalam permasalahan dunia, terlebih permasalahan akhirat, kepada para ahli di bidangnya. Dengan demikian, kita menyelamatkan diri dari berbagai kesalahan dan kesalahpahaman.

Dari bahasan ini dapat kita simpulkan bahwa Al-Qur’an berisi petunjuk bagi manusia untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki di dunia dan di akhirat. Di antara petunjuk Al-Qur’an untuk maslahat manusia adalah petunjuk seputar dasar-dasar ilmu kesehatan. Petunjuk tersebut perlu dikembangkan seluas-luasnya oleh para ahli untuk mendapatkan berbagai maslahat bagi kehidupan manusia. Inilah “tugas” para dokter, ilmuwan, serta peneliti di bidang kesehatan. Adapun masyarakat yang memang tidak mempelajari ilmu kesehatan secara khusus maka tugasnya ialah bertanya dan mencari informasi tentang kesehatan kepada para dokter dan ahli kesehatan yang memang meluangkan waktu dan perhatiannya untuk mempelajari ilmu kesehatan. Wallahu a’lam.

Penulis : dr. Afif Azharul Firdaus

Referensi :

[1] Al-Qawaidul Hisan fi Tafsiril Qur’an li Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, diunduh di quranway.net

[2] fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=38050 disitasi pada 11 November 2017.

Share.

Leave A Reply