Dokter dan Harta: Sebuah Renungan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Seringkali kita temui sebagian pasien yang lebih memilih berobat ke dukun, paranormal atau sejenisnya dibandingkan berobat ke dokter. Di antara pasien-pasien tersebut beralasan bahwa berobat ke dokter itu biayanya mahal dan tidak terjangkau, sehingga mereka lebih memilih berobat ke tempat-tempat tersebut.

Keprihatinan Kita

Sekilas, alasan ini memang masuk akal. Namun, bagi yang faham agama, tentu lebih baik mengeluarkan uang banyak daripada menggadaikan agama dan aqidah dengan kesyirikan dengan berobat ke dukun.  Lalu, bagaimana jika ada orang yang tidak faham agama dan memang benar-benar tidak punya uang? Menurut mereka, berobat ke dokter spesialis saja harus mengeluarkan biaya sekitar seratus sampai dua ratus ribu rupiah. Padahal, penghasilan mereka dalam sehari saja mungkin hanya dua puluh sampai tiga puluh ribu rupiah. Penulis masih ingat dengan seorang ibu yang menceritakan pengalamannya kepada penulis. Ketika anaknya sakit, sang ibu mengeluarkan biaya sampai seratus lima puluh ribu rupiah untuk sekali berobat ke dokter. Padahal, sang ibu hanyalah pedagang kecil-kecilan yang keuntungan berdagangnya dalam sehari tentu jauh di bawah nominal itu.

Penulis juga pernah mendengarkan cerita seorang bapak yang berhenti berobat ke dokter setelah sebelumnya rutin berobat ke dokter. Kata sang bapak, dia ingin “istirahat” dahulu. Setelah penulis menanyakan lebih lanjut, yang dimaksud “istirahat” bukanlah istirahat karena “lelah” berobat. Akan tetapi, dia harus mengumpulkan uang lagi terlebih dahulu karena untuk sekali datang ke dokter dan menebus obat, sang bapak harus mengeluarkan biaya sampai beberapa ratus ribu rupiah. Padahal sampai saat itu, penyakitnya belum sembuh juga. Inilah cerita-cerita yang terkadang membuat penulis prihatin.

Prihatin karena di satu sisi, dokter itu bekerja di bawah sebuah sistem kesehatan. Kadang kita sangat ingin membantu pasien yang tidak mampu, namun kita juga memiliki keterbatasan, karena tidak semua dokter itu pasti kaya dan memiliki harta berlimpah. Inilah yang sering kita jumpai dengan segala keterbatasan yang kita miliki dalam membantu pasien. Namun di sisi lain, kita juga prihatin, ketika kita jumpai sebagian teman sejawat kita yang mungkin memiliki ambisi berlebihan terhadap harta.

Bertakwa dan Bersyukur kepada Allah Ta’ala

Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis mengingatkan kepada diri penulis sendiri dan juga kepada teman sejawat penulis, untuk lebih bertakwa dan bersyukur kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menganugerahkan ilmu yang sangat bermanfaat kepada kita, yaitu ilmu kedokteran (ilmu pengobatan). Marilah kita menggunakan ilmu kita ini di jalan kebaikan, untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan. Karena kecil kemungkinan kalau kita jatuh miskin gara-gara membantu satu-dua pasien kita yang memang betul-betul membutuhkan jasa atau pelayanan kita.

Janganlah kita memiliki ambisi berlebihan terhadap harta, karena bisa jadi secara tidak sadar kita telah menjadi budak-budak harta. Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi orang yang kaya raya, namun kita patut khawatir dengan kekayaan yang kita miliki, padahal di saat yang sama ternyata amal ketaatan kita sangat sedikit dibandingkan dengan perbuatan maksiat kita yang sangat banyak. Karena bisa jadi dalam kondisi demikian, hal itu merupakan “hukuman” dari Allah Ta’ala kepada kita (sehingga kita akan semakin tersesat dan menjauh dari jalan-Nya) dan akan menjadi “bumerang” bagi kita di akhirat kelak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيْكَ فَلاَ انْتَقَشَ، طُوْبَى لِعَبْدٍ آخَذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِيْ الْحِرَاسَةِ كَانَ فِيْ الْحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِيْ السَّاقَةِ كَانَ فِيْ السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah, dan celakalah hamba khamilah [1]. Jika diberi dia senang, tetapi jika tidak diberi dia marah. Celakalah dia dan tersungkurlah. Apabila terkena duri semoga tidak dapat mencabutnya. Berbahagialah seorang hamba yang memacu kudanya (berjihad di jalan Allah), dengan kusut rambutnya dan berlumur debu kedua kakinya. Bila dia berada di pos penjagaan, dia akan tetap setia berada di pos penjagaan itu, dan bila ditugaskan di garis belakang dia akan tetap setia berada di garis belakang itu. Jika dia meminta izin (untuk menemui raja atau penguasa), dia tidak diperkenankan. Dan jika bertindak sebagai perantara, tidak diterima perantaraannya [2].” (HR. Bukhari no. 2887) 

Maksud ungkapan Rasulullah dengan sabdanya tersebut ialah untuk menunjukkan orang-orang yang sangat berambisi dan rakus dengan kekayaan duniawi, sehingga sampai menjadi “hamba” harta benda. Oleh karena itu, jika dia mendapatkan jalan untuk meraih harta, dia akan terus mencarinya tanpa melihat apakah jalan yang dia tempuh tersebut sesuai dengan ketentuan syari’at-Nya ataukah tidak [3]. Semoga hal ini menjadi renungan bagi kita semua sebagai seorang dokter.

Perlu kita ingat bersama bahwa yang Allah Ta’ala nilai bukanlah banyaknya harta yang kita miliki, akan tetapi pada hati dan amal perbuatan kita masing-masing. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, yang Dia lihat adalah hati dan amal perbuatan kalian. (HR. Muslim no. 6708)

Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita sebagai dokter dan termasuk juga tenaga kesehatan yang lainnya, untuk lebih meluruskan niat kita dalam medan pengabdian ini.

***

Diselesaikan menjelang ashar, Rotterdam NL 2 Muharram 1439/23 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] Khamishah dan khamilah adalah pakaian yang terbuat dari wool atau sutera dengan diberi sulaman atau garis-garis yang menarik dan indah. Sehingga yang dimaksud dengan  hamba khamishah dan hamba khamilah adalah pemuja model atau trend pakaian.

[2]  Karena dia tidak dikenal dan tidak mempunyai kedudukan di mata manusia, namun tinggi dan mulia di sisi Allah Ta’ala.

[3] Lihat At-Tamhid, hal. 409.

 

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply