DR. Siti Fadhilah dan Anti-Vaksinasi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sebagian orang berdalih dengan buku “Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung” karya Dr. Siti Fadhilah Supari, SpJP(K) sebagai dalih menolak vaksinasi. Beliau adalah Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid I, pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka mengatakan bahwa buku tersebut mengungkap adanya konspirasi besar Amerika Serikat melalui vaksin.

Penulis yakin bahwa orang-orang tersebut tidak pernah membaca buku tersebut sampai tuntas. Tahun 2009-2010, penulis mendapatkan buku tersebut melalui perpustakaan kantor dan penulis baca sampai akhir. Tidak ada satu pun ajakan menolak vaksinasi dalam buku tersebut.

Yang beliau soroti hanyalah, beliau ingin agar-agar virus isolat (strain) Indonesia, dalam hal ini virus flu burung H5N1, bisa diteliti di Indonesia, tidak perlu sampai dibawa ke luar negeri. Beliau ingin agar negara kita bisa mandiri dalam hal riset virus dan produksi vaksin. Beliau menyoroti, mengapa setiap kali terjadi wabah, virus penyebab wabah itu dikirim ke luar negeri? Lalu virus-virus tersebut diteliti di sana, kemudian vaksin pun diproduksi berdasarkan penelitian tersebut. Seolah-olah Indonesia tidak mendapatkan apa-apa, hanya menikmati hasil penelitian saja.

Di sinilah yang penulis kurang setuju dengan pendapat beliau. Ada beberapa alasan:

Pertama, wabah itu kerja bersama antar-negara di dunia. Virus dari Indonesia, bisa menyebar ke luar negeri di era globalisasi seperti sekarang ini. Sehingga harus bisa diantisipasi oleh negara lain. Jika Indonesia menjadi negara tertutup, lalu bagaimana negara lain bisa mengetahui situasi di Indonesia? Virus apa yg muncul di Indonesia, bagaimana karakter virus tersebut, potensi perluasan wabah global (pandemik), dan seterusnya.

Ke dua, kapasitas laboratorium virus di Indonesia harus kita akui masih kalah dibandingkan negara lain. Virus H5N1 masuk level BSL3 karena sangat berbahaya mengancam jiwa (saya belum mengetahui ada berapa lab BSL3 di Indoensia). Demikian juga sequencing kita masih terbatas, dan seterusnya.

WHO memiliki beberapa laboratorium rujukan yang memang ditunjuk untuk penanggulangan wabah. Laboratorium tersebut akan mengidentifikasi apakah sebuah wabah disebabkan oleh virus tertentu yang sudah diketahui atau bahkan virus baru yang belum diketahui sebelumnya. Jika virus baru yang sebelumnya belum pernah ditemukan, harus diketahui dengan cepat karakter virus tersebut dan bagaimana penanggulangannya.

Ke tiga, harus dibedakan antara kepentingan sains dan komersial. Untuk kepentingan sains, para ilmuwan itu biasa saling bertukar koleksi strain virus yang dimiliki. Karena memang tidak mungkin kita sendiri meneliti semua aspek virus tersebut.

Selama penulis menempuh studi S3 sampai saat ini di Belanda, beberapa kali kami meminta virus dari para peneliti di Amerika, Jepang, Jerman, dan sebagainya. Mereka pun mengirimkan virus tersebut secara cuma-cuma alias gratis. Mengapa? Karena sains itu untuk tujuan kemanusiaan (science is for humanity). Kita meneliti untuk kemaslahatan umat manusia, bukan melulu untuk tujuan komersial.

Ke empat, terjadinya wabah hendaknya tidak melulu dihubung-hubungkan dengan produksi dan penjualan vaksin. Betapa telah terjadi wabah virus dewasa ini dan tidak ada satu pun vaksin yang dijual.

Kita ingat wabah SARS coronavirus di Hongkong tahun 2002-2003 dengan kematian 813 orang dan lebih dari 8.000 orang terpapar virus tersebut. Tidak ada satu pun vaksin SARS yang dijual sampai detik ini.

Belum lama ini, wabah virus hepatitis E melanda beberapa negara seperti Nepal, Sudan, dan Bangladesh. Vaksin hepatitis E pun sudah ditemukan (Hecolin) dan digunakan di Cina. Namun, vaksin Hecolin belum boleh dijual ke luar Cina, termasuk negara-negara wabah hepatitis E, karena belum lolos standar pre-kualifikasi WHO.

Lalu, wabah MERS-CoV di Timur Tengah beberapa tahun lalu, tidak diikuti dengan penjualan vaksin MERS-CoV.

Baru-baru ini, dunia dikejutkan dengan wabah virus Zika. Sampai wabahnya mereda, tidak ada satu pun vaksin virus Zika yang dijual ke pasaran.

Jadi, menghubung-hubungkan suatu wabah dengan rekayasa sebagai media penjualan vaksin adalah tuduhan yang tidak berdasar. [1]

Ke lima, bu Siti Fadhilah pun sudah mengklarifikasi melalui pernyataan beliau. Beliau menyatakan,

“Buku saya tidak membicarakan soal imunisasi. Tetapi mengapa sampai berdasarkan buku saya, mereka tidak imunisasi.

Juga pernyataan beliau,

“Ada imunisasi yang wajib, yakni BCG, DPT, campak dan polio. Itu adalah imunisasi wajib yang sebetulnya semua harus diimunisasi dan capaiannya kalau bisa 100 persen anak Indonesia.” [2]

Kalau memang vaksinasi itu berbahaya dan konspirasi, mengapa saat beliau menjabat sebagai Menteri Kesehatan, program imunisasi jalan terus dan justru diperkuat? Bukankah beliau memiliki kewenangan penuh untuk menghentikan program imunisasi?

Kesimpulan

Tidak benar sama sekali menjadikan buku beliau sebagai dalih untuk menolak vaksinasi. Yang beliau inginkan adalah kemandirian dalam hal penelitian virus dan pengembangan vaksin, terutama saat terjadinya wabah. Sehingga negara kita tidak selalu bergantung kepada negara lain. Jadi, buku tersebut sama sekali tidak mengajak masyarakat untuk anti-vaksin. Dan anggapan ini pun sudah diklarifikasi oleh beliau.

 

***

Selesai disusun ba’da subuh, Rotterdam NL 10 Dzulhijjah 1438/01 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] https://kesehatanmuslim.com/adakah-konspirasi-di-balik-wabah-virus-mers-cov-bagian-ke-dua/

[2] http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/12/07/lvtlhq-wahbukunya-jadi-alasan-tolak-imunisasi-ini-jawaban-siti-fadilah-supari

dan juga:

http://www.antarajatim.com/lihat/berita/77843/siti-fadilah-semua-anak-harus-diimunisasi

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply