Episiotomi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Episiotomi adalah prosedur pemotongan jaringan antara vagina dan anus (perineum) selama proses persalinan. Episiotomi merupakan salah satu prosedur bedah yang banyak dilakukan di bidang obstetrik. Walaupun begitu, menurut National Institute for Health and Care Excellence (NICE) sebaiknya tidak dilakukan secara rutin [1].

Mengapa Dilakukan Episiotomi?
Dahulu episiotomi dilakukan untuk mencegah robekan yang lebih parah dan penyembuhannya dianggap lebih baik. Namun, hal tersebut tidak terbukti sehingga saat ini episiotomi hanya dilakukan jika terdapat indikasi. Indikasi episiotomi yaitu wanita yang melahirkan memiliki penyakit jantung. Bayi harus segera dilahirkan untuk meminimalkan risiko kesehatan yang buruk.

Bagaimana Episiotomi Dilakukan?
Terdapat dua jenis episiotomi yaitu median incision dan mediolateral incision. Median incision adalah potongan yang dibuat lurus dari vagina ke anus sekitar 2-3cm. Irisan ini memiliki kelebihan yaitu lebih mudah diperbaiki, penyembuhan lebih baik, dan lebih jarang menyebabkan nyeri jangka panjang. Sedangkan kekurangannya adalah adanya risiko terpotongnya otot anus. Jika otot anus robek, seseorang menjadi tidak dapat menahan buang air besar (fecal incontinence). Mediolateral incision adalah potongan yang dibuat pada arah jam 5 atau jam 7 sekitar 3-4cm. Kelebihan jenis ini yaitu berkurangnya risiko otot anus robek. Kekurangannya berupa perdarahan yang lebih banyak, lebih nyeri, lebih sulit diperbaiki, dan adanya risiko nyeri jangka panjang. Sebelum dilakukan pemotongan, biasanya dokter atau bidan akan memberikan anestesi lokal. Lalu pejahitan luka dilakukan setelah plasenta dilahirkan. [2]

Paska Episiotomi
Untuk mengurangi rasa nyeri, dokter biasanya memberikan obat antinyeri seperti paracetamol. Mengompres daerah bekas luka dengan es yang dibalut handuk juga dapat mengurangi rasa nyeri. [3]

Luka bekas episiotomi harus dijaga agar tetap bersih. Ketika seseorang pergi ke toilet, sebaiknya membersihkan daerah kemaluannya dengan air hangat. Ketika membersihan daerah kemaluannya juga harus diperhatikan arahnya yaitu dari depan ke belakang untuk mengurangi risiko infeksi. Jika terdapat tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, dan ada cairan dari bekas luka, segera kembali ke dokter.

Luka episiotomi biasanya sembuh sekitar 3-4 minggu. Namun, dapat lebih lama jika bagian yang terpotong mencapai otot anus. [4]


Saat ini episiotomi hanya dilakukan jika ada indikasi. Biasanya saat informed consent, dokter atau bidan memberi tahu kalau akan dilakukan episiotomi apabila terdapat indikasi seperti yang disebutkan di atas serta memberi tahu risiko dari prosedur tersebut. Jika telah dilakukan episiotomi, yang penting untuk diperhatikan pasien adalah menjaga kebersihan bekas luka agar tidak terjadi infeksi. Infeksi menyebabkan proses penyembuhan luka menjadi semakin lama.

 

Daftar Pustaka

  1. National Institute for Health and Care Excellence. If You Need An Episiotomy [internet]. 2017. Diakses dari: https://www.nice.org.uk/guidance/cg190/ifp/chapter/If-you-need-an-episiotomy.
  2. Cunningham FG, Leveno KJ, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM et al. Williams Obstetrics 24th Ed. New York: McGraw-Hill Education; 2014.
  3. National Health Service. Episiotomy and Perineal Tears [internet]. 2017. Diakses dari: http://www.nhs.uk/Conditions/pregnancy-and-baby/Pages/episiotomy.aspx.
  4. Kelback J. Labor & Delivery: Types of Episiotomy [internet]. 2016. Diakses dari: http://www.healthline.com/health/pregnancy/episiotomy-types

 

Penulis : Victa Ryza Catartika (Mahasiswi Fakultas Kedokteran UGM)

Share.

Leave A Reply