Gangguan Tumbuh Kembang Pada Anak

Ada banyak sekali jenis gangguan tumbuh kembang pada anak, mulai dari yang paling ringan hingga yang sangat kompleks. Berikut ini akan dijelaskan beberapa gangguan tumbuh kembang  pada anak beserta cara mengatasinya :

 

A. Speech Delay (Keterlambatan Kemampuan Bicara)

Speech Delay adalah kegagalan mengembangkan kemampuan berbicara pada anak, yang diharapkan bisa dicapai pada usianya. Dengan kata lain, perkembangan anak (dalam hal bicara) tertinggal beberapa bulan dari teman-teman seusianya.
Penyebab :

  • Anak-anak yang dicurigai mengalami speech delay seringkali juga mengalami masalah pendengaran.
  • Adanya keterlambatan perkembangan yang terjadi karena belum dicapainya tingkat kematangan seperti kematangan organ-organ bicara.
  • Kurang stimulasi atau kurang terpapar dalam lingkungan sosial.

 

Cara Mengatasi :

Berikut ini beberapa cara mengatasi anak yang mengalami speech delay atau keterlambatan dalam kemampuan berbicara :

  • Bacakan buku atau cerita bergambar sehingga anak dapat menunjuk atau memberi nama benda-benda yang ia kenal.
  • Gunakan bahasa yang  sederhana ketika berbicara pada anak.
  • Mengoreksi ucapan yang salah dari anak. Misalnya ketika anak mengatakan “Atit” saat mengutarakan rasa sakit, orang tua segera membenarkanya dengan mengucapkan “Oh, sakit ya”. Usahakan untuk selalu mengulang kata-kata yang diucapkan anak pada kita.
  • Berikan pujian pada anak ketika anak berbicara benar.
  • Jangan abaikan anak dan selalu berikan respon terhadap apa yang dikatakan anak.
  • Jangan memaksa anak untuk berbicara karena hal ini hanya akan membuat anak menjadi semakin tertekan.
  • Berkonsultasi kepada tenaga ahli seperti dokter anak atau ahli tumbuh kembang anak

 

B. Keterlambatan Kemampuan Berjalan

Rentang kemampuan anak bisa berjalan tanpa bantuan berada dalam usia 8 bulan sampai dengan 18 bulan. Bila anak berumur lebih dari 18 bulan belum bisa berjalan, baru dikategorikan ‘delay’ atau terlambat, sehingga diperlukan intervensi. Jadi, anak usia 15 bulan yang belum bisa berjalan, dinyatakan “belum siap”, bukan dianggap terlambat, karena rentang toleransinya cukup panjang. Namun jangan menganggap remeh dengan kondisi tersebut. Lebih baik Anda melakukan deteksi awal mengenai “keterlambatan” tersebut supaya bisa diantisipasi dan dicari jalan keluarnya.

 

Penyebab :

  • Kondisi kesehatan anak yang kurang mendukung. Keterlambatan anak mulai berjalan bisa disebabkan oleh gangguan neurologis, gizi buruk, maupun penyakit seperti : riwayat kekurangan oksigen saat lahir, penyakit-penyakit perinatal yang berat (sepsis, kerinikterus, meningitis), bayi lahir dengan berat sangat rendah, bayi prematur, cerebal palsy, pasca kejang lama, penyakit jantung bawaan, dan lain sebagainya.
  • Faktor keturunan. Beberapa kasus menunjukkan orangtua yang mempunyai riwayat terlambat berjalan akan menurun kepada anaknya.
  • Bentuk dan berat badan anak. Anak dengan kaki yang pendek biasanya lebih cepat berjalan daripada yang berkaki panjang. Semakin panjang kaki anak, biasanya jadi lebih sulit menyeimbangkan badan.
  • Pengalaman buruk waktu belajar berjalan. Kecelakaan yang mungkin terjadi saat belajar berjalan seperti tersandung hingga membentur meja bahkan berdarah, bisa mengakibatkan anak trauma dan malas berlatih lagi. Terlebih lagi jika ditambah dengan respon orangtua yang terlalu mengkhawatirkannya.
  • Bayi yang tidak dikelilingi anak-anak lain. Hal ini biasanya mengakibatkan anak jadi lebih lambat berjalan karena tidak ada yang memberinya contoh  (meski tidak selalu).
  • Orangtua maupun lingkungan yang overprotective. Rasa sayang yang berlebihan dengan melarang anak untuk melakukan kegiatan yang “menantang” karena khawatir jatuh atau terpeleset, membuat anak kehilangan kepercayaan diri untuk mulai berjalan. Kebiasaan terlalu sering digendong dan pemakaian baby walker yang berlebihan juga dapat membuat anak malas belajar jalan.

 

Cara Mengatasi :

  • Menatih dengan penuh kesabaran. Masa menatih (titah, bahasa Jawa) merupakan masa yang membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra. Karena tangan kita harus mendampingi kemanapun si kecil bergerak. Pada awalnya kita menggunakan dua tangan untuk menatih, namun dengan bertahap kita lepas satu tangan, hingga akhirnya kita lepas dia berjalan tanpa bantuan kita.
  • Gunakan berbagai alat sebagai bantuan. Kursi plastik yang kokoh, meja kecil yang ringan, maupun galon air mineral yang tidak terisi penuh bisa menjadi alat yang menarik untuk didorong-dorong anak.
  • Pastikan lingkungan di sekitar anak cukup aman. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan. Seperti menyingkirkan benda-benda yang mudah diraih dan mudah pecah.
  • Lakukan dengan kegembiraan. Ambillah jarak dari si kecil dengan memegang mainan atau benda yang menarik perhatiannya. Mintalah anak untuk mengambilnya dan berikan pelukan hangat saat dia berhasil menjangkaunya. Perlebar jarak untuk meningkatkan kemampuannya.
  • Hindari baby walker. Faktor praktis dan bisa ditinggal mengerjakan hal lain seringkali membuat orangtua berlebihan dalam memanfaatkan baby walker. Padahal, hal seperti itu bisa menyebabkan anak jadi malas berjalan ketika dilepas tanpa baby walker. Penggunaan baby walker tetap harus dengan pengawasan karena terbukti pada beberapa kasus dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan seperti tergelincir di tangga, kamar mandi, maupun kolam renang.
  • Terus berikan semangat pada anak. Belajar berjalan merupakan kombinasi dari latihan kemandirian, kepercayaan diri, pantang menyerah, dan kesabaran.
  • Konsultasikan dengan dokter ahli jika anak tidak juga menunjukkan kemajuan dalam kemampuan berjalan meskipun sudah dilakukan stimulasi yang memadai.

 

C. Autisme

Istilah autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri. Autisme merupakan gangguan perkembangan yang kompleks yang umumnya muncul sebelum usia tiga tahun sebagai hasil dari gangguan neurologis yang mempengaruhi fungsi normal otak. Gangguan ini mempengaruhi perkembangan dalam area interaksi sosial dan keterampilan komunikasi.

Anak penyandang autis umumnya menunjukan kesulitan dalam komunikasi verbal dan nonverbal, interaksi sosial, dan kegiatan bersosialisasi (misalnya bermain bersama). Mereka juga menunjukan pola-pola tingkah laku yang terbatas, berupa pengulangan dan stereotip (meniru). Seorang penderita autis mempunyai beberapa kesulitan yaitu dalam hal makna, komunikasi, interaksi sosial, dan masalah imajinasi. Hal ini menyebabkan penderita autis menemui banyak kesulitan dalam kehidupannya sehari-hari.  Anak autis bisa sangat tertarik pada sesuatu dan kemudian asyik sendiri pada dunianya. Akibatnya, anak autis cenderung menarik diri dari lingkungan sekitarnya.

 

Penyebab :

Tidak ada satu penyebab tunggal dari autis dan masih belum diketahui penyebab pastinya. Ada banyak teori yang terus berkembang dan diteliti oleh para ahli.

Saat ini, para ahli menyimpulkan sebabnya, antara lain :

  • Permasalahan pada awal perkembangan seorang anak. Anak penyandang autis mengalami masalah kesehatan yang lebih banyak selama masa kehamilan, pada saat dilahirkan, dan segera setelah dilahirkan, daripada anak yang bukan penyandang autis.
  • Pengaruh genetik. Adanya gangguan gen dan kromosom yang ditemukan pada studi terhadap keluarga dengan anak kembar menunjukan peran yang besar dari faktor genetik sebagai penyebab dari autis.
  • Abnormalitas otak. Meskipun tidak diketahui tanda-tanda biologis untuk autis, penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ahli menunjukan bahwa gambaran otak anak penyandang autis berbeda dengan gambaran otak anak normal.

 

Cara Mengenali Gejala :

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengetahui gejala autis, salah satunya dengan metode yang dinamakan M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers).  Orang tua harus mengamati 6 pertanyaan penting berikut :

  1. Apakah anak Anda tertarik pada anak-anak lain?
  2. Apakah anak Anda dapat menunjuk untuk memberitahu ketertarikannya pada  sesuatu?
  3. Apakah anak Anda pernah membawa suatu benda untuk diperlihatkan pada orangtua?
  4. Apakah anak Anda dapat meniru tingkah laku anda?
  5. Apakah anak Anda berespon bila dipanggil namanya?
  6. Bila Anda menunjuk mainan dari jarak jauh, apakah anak anda akan melihat ke arah mainan tersebut?

 

Bila jawaban anda TIDAK pada 2 pertanyaan atau lebih, maka sebaiknya berkonsultasi dengan profesional yang ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang autisme. Karakteristik dari penyandang autis banyak sekali ragamnya (sepektrumnya sangat luas) sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autis. Diagnosis yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Orang tua harus peka dengan perkembangan anak sejak lahir, dan melaporkan kepada dokter untuk setiap keterlambatan dan gangguan dalam perkembangan perilakuknya.

 

Cara Mengatasi :

  • Modifikasi perilaku dengan bantuan tenaga profesional. Misalnya dengan pendekatan ABA (Applied Behavioral Analysis) untuk menguasai keterampilan yang diperlukan dalam lingkungan, terapi integrasi sensori untuk menghadapi stimulasi sensori, dan metode pendekatan yang hangat dan akrab untuk membangun hubungan dengan anak sebagai individu dan untuk membantu memperbaiki proses perkembangan anak melalui bahasa tubuh, kata-kata, serta media bermain
  • Sarana pendukung dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan orang tua diluar waktu-waktu terapi. Contohnya seperti :
  1. Pendukung visual agar anak lebih mudah berkomunikasi, mengutarakan keinginan, dan membantu anak memahami kehidupan. Selain itu, dengan menunjukkan objek secara nyata pada anak juga dapat membantu anak mengembangkan pemahaman tentang waktu dan pentingnya menghargai lingkungan.
  2. Berenang, berkuda, naik sepeda, sepatu roda, atau naik turun tangga. Kegiatan-kegiatan tersebut sejalan dengan prinsip terapi integrasi sensori.
  3. Berinteraksi dengan anak dalam situasi bermain yang melibatkan sentuhan dan kontak mata yang memadai.
  • Terapi wicara (dibantu dokter dan terapis)

 

PENUTUP     

Demikianlah penjelasan tentang beberapa gangguan tumbuh kembang pada anak-anak. Hendaknya kita senantiasa bersyukur dengan nikmat berupa anak yang telah Allah karuniakan. Jangan berkecil hati ketika anak kita memiliki kekurangan, karena yang mereka harapkan adalah kita bisa menerima mereka apa adanya. Dukung terus usaha mereka untuk bisa mengatasi kekurangannya, karena salah satu kewajiban kita adalah mendidik mereka meski dalam keterbatasan yang mereka miliki. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesabaran pada diri kita dalam mengasuh dan mendidik anak. (dr. Avie Andriyani)

About Author

dr. Avie Andriyani

Alumni Fakultas Kedokteran UGM. Saat ini aktif menulis berbagai artikel kesehatan. Di antara tulisan yang sudah dibukukan adalah buku Panduan Kesehatan Wanita

View all posts by dr. Avie Andriyani »

Leave a Reply