HOAX: Makan Sayap dan Ceker Ayam Suntik Menyebabkan Kanker

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Banyak tersebar berita mengenai hal ini melalui media sosial.

Berita itu tidak benar total, masih sekedar asumsi saja.yang disuntikkan ke tubuh ayam, bisa jadi sudah habis terpakai dan terolah atau minimal sdh menjdi zat lain. Disuntik bagian sayap, maka lama-lama akan.menyebar seluruh tubuh

perlu diketahui berbagai kolesterol yg di makan, jga faktor.resiko kanker krna kolesterol adalah bahan dasar hormon.Sampai sekarang penyebab kanker belum.diketahui secara pasti, banyak faktor yg mendukung dan sling menguatkan…

Faktanya ayam suntik sudah.dikonsumsi dari.dulu, Ternyata ada juga yang tidak suka atau tidak sering makan ayam, ternyata kena kanker rahim. Dan kebalikannya, banyak yang suka makan tetapi tidak terkena

Ingat juga ceker ayam juga mengandung nutrisi yang baik, begitu juga sayap ayam. Intinya banyak2 berdoa kepada Allah agar tetap sehat dan menjaga pola hidup sehat,Yakin takdir yang kita dapat dan jalani adalah pilihan terbaik dari Allah. Bisa jadi kanker yang didapat adalah penghapus dosa sehingga menghadap Allah dgn keadaan suci tanpa dosa dan sebagaiman hadits, orang yang sehat akan berangan2 di akherat “kenapa didunia tidak mndapat ujian yang pedih sekali”

 

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

يَوَدُّأَهْلُالْعَافِيَةِيَوْمَالْقِيَامَةِأَنَّجُلُودَهُمْقُرِضَتْبِالْمَقَارِيضِمِمَّايَرَوْنَمِنْثَوَابِأَهْلِالْبَلاَءِ.

Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.”[1]

 

Terkait dengan seringnya tersebar berita HOAX. Maka selayaknya kita mencari kebenaran berita tersebut. Tidak asal-asalan membagi dan menyebarkan berita tersebut.

 

Larangan asal-asalan menyebarkan berita sebelum mengeceknya

Islam mengajarkan kita agar jangan setiap ada berita atau isu langsung diekspos ke masyarakat secara luas. Hendaklah kita jangan mudah termakan berita yang kurang jelas atau isu murahan kemudian ikut-kutan menyabarkannya padahal ilmu kita terbatas mengenai hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

 

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa: 83)

 

Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’diy rahimahullah menfsirkan ayat ini,

 

هذا تأديب من الله لعباده عن فعلهم هذا غير اللائق. وأنه ينبغي لهم إذا جاءهم أمر من الأمور المهمة والمصالح العامة ما يتعلق بالأمن وسرور المؤمنين، أو بالخوف الذي فيه مصيبة عليهم أن يتثبتوا ولا يستعجلوا بإشاعة ذلك الخبر، بل يردونه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم، أهلِ الرأي والعلم والنصح والعقل والرزانة، الذين يعرفون الأمور ويعرفون المصالح وضدها. فإن رأوا في إذاعته مصلحة ونشاطا للمؤمنين وسرورا لهم وتحرزا من أعدائهم فعلوا ذلك. وإن رأوا أنه ليس فيه مصلحة أو فيه مصلحة ولكن مضرته تزيد على مصلحته، لم يذيعوه

 

“ini adalah pengajaran dari Allah kepada Hamba-Nya bahwa perbuatan mereka [menyebarkan berita tidak jelas]tidak selayaknya dilakukan. Selayaknya jika datang kepada mereka suatu perkara yang penting, perkara kemaslahatan umum yang berkaitan dengan keamanan dan ketenangan kaum mukminin, atau berkaitan dengan ketakutan akan musibah pada mereka, agar mencari kepastian dan tidak terburu-buru menyebarkan berita tersebut. Bahkan mengembalikan  perkara tersebut kepada Rasulullah [pemerintah]dan yang berwenang mengurusi perkara tersebut yaitu cendikiawan, ilmuan, peneliti, penasehat dan pembuat kebijaksanan. Merekalah yang mengetahui berbagai perkara dan mengetahui kemaslahatan dan kebalikannya. Jika mereka melihat bahwa dengan menyebarkannya ada kemaslahatan, kegembiraan dan kebahagiaan bagi kaum mukminin serta menjaga dari musuh, maka mereka akan menyebarkannya. Dan jika mereka melihat tidak ada kemaslahatan [menyebarkannya]atau ada kemaslahatan tetapi madharatnya lebih besar, maka mereka tidak menyebarkannya.[2]

 

Sebaiknya kita menyaring dulu berita yang sampai kepada kita dan tidak semua berita yang kita dapat kemudian kita sampaikan semuanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

 

“Cukuplah sebagai bukti kedustaan seseorang bila ia menceritakan segala hal yang ia dengar.”[3]

 

semoga bermanfaat

penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.kesehatanmuslim.com

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

jika ingin konsultasi gratis, silahkan kirim pertanyaan di sini

 

 

[1] HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.

[2] Taisir Karimir Rahmah hal 170, Daru Ibnu Hazm, Beirut, cetakan pertama, 1424 H

[3]  HR. Muslim

Share.

About Author

alumni Fakultas Kedokteran UGM, sedang menempuh pendidikan spesialis patologi klinik di FK UGM

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.