Hukum Belajar Kedokteran

Belajar kedokteran hukumnya wajib kifayah. Artinya, apabila sebagian orang telah melakukannya maka gugurlah kewajiban yang lain. Berkata Abu Hamid al-Ghazali (wafat tahun 505 H) di awal-awal kitab beliau Ihya’ Ulumiddin, ketika beliau berbicara tentang ilmu yang hukumnya fardu kifayah,  “Ketahuilah, sesungguhnya sesuatu yang wajib tidaklah diistimewakan dari yang lain kecuali dengan menyebutkan pembagian ilmu. Ilmu dikaitkan dengan tujuan yang hendak kita tuju terbagi menjadi ilmu syar’i dan selain ilmu syar’i. Yang aku maksudkan dengan ilmu syar’i adalah ilmu yang dibawa oleh pada Nabi _semoga shalawat dan salam Allah tercurah atas mereka semua dan akal tidak bisa mencapainya  lewat perhitungan atau penelitian layaknya ilmu kedokteran, ataupun lewat pendengaran seperti halnya ilmu bahasa.

Adapun ilmu selain ilmu syar’i dikelompokkan menjadi ilmu yang terpuji, ilmu yang tercela, dan ilmu yang mubah. Ilmu yang terpuji adalah ilmu yang mendatangkan kebaikan dalam urusan dunia seperti ilmu kedokteran dan ilmu hitung. Ilmu ini dibagi lagi menjadi ilmu yang hukumnya fardu kifayah dan ilmu fadhilah (disunnahkan/dianjurkan) dan hukumnya tidak wajib.

Adapun ilmu yang hukumnya fardu kifayah adalah ilmu yang tidak bisa dihilangkan demi terlaksanannya urusan-urusan keduniaan. Seperti ilmu kedokteran, ilmu ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan badan. Dan juga ilmu hitung, ilmu ini sangat dibutuhkan dalam muamalah sehari-hari, dalam pembagian wasiat dan warisan, dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini merupakan ilmu yang seandainya di suatu negeri tidak ada orang menekuninya maka berdosalah seluruh penduduk negeri itu. Dan seandainya ada satu orang yang menekuninya, maka sudah mencukupi dan gugurlah kewajiban yang lain.

Jangan heran dengan pernyataan kami bahwa ilmu kedokteran dan ilmu hitung merupakan fardu kifayah. Pada asalnya profesi-profesi yang ada juga hukumnya fardhu kifayah, seperti bertani, menenun, ahli strategi, bahkan bekam dan menjahit. Seandainya di suatu negeri tidak ada orang yang bisa membekam, maka mereka akan segera binasa. Dan mereka semuanya berdosa karena telah menggelincirkan diri-diri mereka sendiri ke dalam kebinasaan. Sesungguhnya Dzat yang telah menurunkan penyakit juga telah menurunkan obatnya dan telah menunjuki untuk mempergunakan obat-obat itu. Allah juga telah menyiapkan sebab-sebab untuk dijalani. Maka tidak boleh menggelincirkan diri ke dalam kebinasaan dengan meninggalkan sebab-sebab itu.

Adapun yang termasuk ilmu yang disunnahkan namun tidak diwajibkan adalah seperti mendalami detail ilmu hitung, atau mendalami seluk beluk ilmu kedokteran, atau selainnya melebihi kadar yang secukupnya, namun dapat memberi manfaat tambahan bagi yang bersangkutan.

Adapun ilmu yang tercela adalah seperti ilmu sihir, mantra-mantra, dan ilmu sulap.

Adapun ilmu yang mubah seperti ilmu tentang sya’ir-sya’ir yang tidak melemahkan akal, atau sejarah-sejarah terkenal, atau yang sejalan dengannya.  Dalil atas semua itu adalah firman Allah Ta’ala,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ [الأنفال: 60]

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” (Al-Anfal:60)

Sesungguhnya di antara bentuk mempersiapkan bekal adalah mencukupkan diri dan tidak butuh kepada ilmu dan teknologi orang-orang kafir. Termasuk dalam hal ini adalah dalam urusan kedokteran.

Merupakan kewajiban semua orang untuk menjaga kesehatan mereka dan tidak menjatuhkah diri mereka ke dalam jurang kebinasaan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ،

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah: 195)

Sesuatu yang kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan hal tersebut, maka hal tersebut hukumnya wajib.

*****

Diambil dari Adabu Thabibil Muslim karya Syaikh Ahmad Bazmul

Penerjemah : dr. Supriadi

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

About Author

Leave a Reply