Hukum Terapi dengan Musik (01)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Musik sebagai Salah Satu Bentuk Terapi

Dewasa ini, terapi musik merupakan salah satu bentuk terapi yang cukup populer. Di antara bentuk terapi musik adalah mengasah perkembangan otak bayi sejak dalam kandungan dengan musik. Merupakan kebahagiaan seorang ibu ketika melihat perkembangan mental dan fisik anaknya yang melaju pesat. Untuk itulah, seorang ibu harus mengasah kemampuan si kecil sejak dini. Bukan cuma setelah lahir, tetapi sejak dia masih dalam kandungan.

Salah satu cara untuk merangsang pertumbuhan otak si kecil sejak dalam masa kandungan adalah dengan terapi musik. Karena sejak berusia enam bulan, janin memang sudah dapat mendengar, bahkan menggerakkan tubuh sesuai irama suara ibunya. Janin dapat bereaksi terhadap bunyi dan melodi dengan cara berbeda-beda sesuai dengan irama musik. Janin juga sudah memiliki perasaan, kesadaran, dan daya ingat. Musik dipandang bisa merangsang janin sejak dalam kandungan. Rangsangan teratur dan terus menerus akan memacu kecerdasan bayi. Musik berpengaruh terhadap pertumbuhan otak kanan yang sangat berperan dalam mendorong kreativitas.

Terapi musik juga digunakan untuk menangani anak-anak autis untuk meningkatkan konsentrasi mereka. Dengan belajar musik, anak-anak yang menderita autisme bisa menemukan kembali konsentrasinya. Nada dan ketukan musik yang keluar dari piano dan drum mampu menembus arah pikirannya. Ketukan nada yang keluar dari piano mampu menggugah daya ingat serta fokus seorang anak yang menderita autis.

Penulis juga pernah mendapatkan pelajaran bahwa anak-anak dengan autis hiperaktif dapat diberi terapi dengan musik bernada lembut (musik klasik) untuk “mendinginkan” pikirannya sehingga dia dapat bersikap lebih tenang.

Terapi musik juga dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan pada pasien di rumah sakit yang menjalani prosedur medik yang sulit. Terapi musik juga dapat membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan mood. Terapi musik juga dapat membantu pasien-pasien depresi untuk mengekspresikan perasaan mereka. Terapi musik telah digunakan untuk menjaga pasien alzheimer tetap kalem dan membantu meningkatkan ingatan mereka. Selain itu, ahli terapi musik menggunakan musik untuk membantu orangtua menenangkan bayi mereka.

Ampuhnya musik sebagai terapi barangkali sulit dipercaya. Namun musik ternyata berpotensi menyembuhkan stroke. Alunan musik dapat mempercepat pemulihan pada penderita stroke. Penderita stroke yang rajin mendengarkan alunan musik setiap hari ternyata mengalami peningkatan pada ingatan verbalnya dan memiliki mood yang lebih baik dibandingkan penderita yang tidak menikmati musik. Kemampuan memfokuskan perhatian juga lebih baik pada penderita stroke yang mendengarkan musik.

Di Amerika Serikat dan Jerman, dengan metode yang lebih modern, sekelompok peneliti secara intensif mengamati musik yang sejak ratusan tahun diketahui mempunyai kekuatan menyembuhkan. Musik sebagai terapi sudah sering dipakai, lewat walkman mini kondisi pasien kecil yang berada di inkubator distabilkan, untuk menenangkan mereka yang kesakitan di kursi dokter gigi atau yang sedang berada di ruang bersalin, bahkan juga dipakai di pusat rehabilitasi pasien stroke. Di salah satu rumah sakit di Jerman, bukan cuma kamar pasien saja yang dilengkapi musik, tetapi juga ruang operasinya. Dari peralatan teknologi modern yang terdiri atas enam saluran, pasien yang hanya dibius lokal bisa memilih irama musik yang dia sukai, mulai dari Big-Band-Sound ala Glenn Miller sampai musik klasik. Di ruang operasi ini, headphone boleh dipakai. Selama ini kebanyakan dokter bedah menilai positif penggunaan musik. Dalam suatu penelitian, dengan mendengarkan musik para pelaku operasi merasa rileks saat mengerjakan “tugasnya”, tekanan darah dan denyut jantung mereka memang naik karena tugas berat itu tetapi hanya sedikit. Kebutuhan akan obat penenang turun sampai 50%. Selain itu, karena kebanyakan pasien lebih rileks saat dioperasi, komplikasi jarang terjadi sehingga masa rawat inap bisa diperpendek.

Cuplikan artikel-artikel yang penulis ringkas dari berbagai situs internet di atas memang menunjukkan bahwa dewasa ini, terapi musik telah digunakan secara luas. [1] Selain itu, terdapat pula beberapa penelitian ilmiah yang menunjukkan efektifitas musik sebagai salah satu bentuk terapi dan telah diterbitkan pula dalam jurnal-jurnal ilmiah.

Akan tetapi, hendaklah kita sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan permasalahan tersebut kepada Al Qur’an dan As-Sunnah. Lalu bagaimana hukum Al Qur’an dan As-Sunnah tentang terapi musik?

[Bersambung]

***

Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 15 Rajab 1439/2 April 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] Untuk mengetahui lebih lanjut tentang “kehebatan” terapi musik, pembaca dapat juga merujuk ke buku Terapi Alternatif dan Gaya Hidup Sehat, hal. 159-166.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply