INDONESIA: Salah satu penyumbang kasus Rubella terbesar di dunia

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Banyak pihak mempertanyakan, apakah betul Indonesia sudah “gawat” kasus infeksi Rubella sehingga harus diberikan vaksinasi Rubella?

Apakah betul, di Indonesia tidak ada kasus Rubella (Congenital Rubella Syndrome)?

Jawaban dari pertanyaan ini:

Bukan hanya sekedar ada, akan tetapi TERMASUK SANGAT TINGGI, bahkan di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Jadi, kalau ada di antara kita yang tidak mengetahui kasusnya, bukan berarti itu tidak ada. Hanya saja, kita tidak mau mencari tahu dan tidak mau bertanya.

Terdapat penelitian yang lebih lengkap dari data yang sudah saya paparkan sebelumnya di tulisan kami:

Congenital Rubella Syndrome (CRS) di Indonesia

Penelitian yang kami paparkan di atas hanya selama 4 bulan (September – Desember 2013) [1].

Sedangkan penelitian terbaru menganalisis data selama lima tahun (Juli 2008 – Juni 2013):

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29068106

Dan satu hal penting, penelitian di atas hanya berasal dari satu rumah sakit saja, yaitu RSUP. Dr. Sardjito, Yogyakarta [2].

Penelitian di atas menemukan 201 bayi yang diduga terkena CRS selama periode lima atahun tersebut.

Dari sejumlah itu, yang terdiagnosis pasti CRS sejumlah 12 anak (6%) dan 43 lainnya (21.4%) terdiagnosis secara klinis CRS, karena sampel yang tidak bisa diambil untuk pemeriksaan laboratorium.

Selain itu, fakta berikutnya adalah bahwa tidak ada satu pun ibu dari bayi-bayi tersebut yang mendapatkan vaksinasi Rubella sebelumnya.

Dari data tersebut, angka kejadian CRS adalah sekitar 0,25 per 1,000 kelahiran bayi per tahun.

Bagaimana dengan daerah lain?

Di Jawa Timur bahkan lebih tinggi lagi. Diperkirakan 0,77 per 1,000 kelahiran bayi alias 700 bayi dilahirkan dengan CRS per tahun. Itu perkiraan di Jawa Timur saja.

 

Belum di daerah-daerah atau propinsi lainnya (yang sekarang sedang dalam tahap penelitian).

Ini tautan penelitian di Jawa Timur [3]:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27670077

Ketika pandangan dunia tertuju ke Indonesia:

Jadi, ketika mata dunia sekarang tertuju ke sebuah negeri bernama INDONESIA, apakah kita akan terus mempertahankan rekor buruk ini?

Negeri kita disorot oleh lembaga kesehatan internasional karena sampai saat ini belum memasukkan program vaksin Rubella ke dalam program imunisasi nasional [4]:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26401958

Kita bahkan sudah kalah dari negara-negara low-income semacam Ghana, Senegal, Rwanda yang cakupan vaksinasinya sudah di atas 95%.

Pengendalian CRS di dunia masih terkendala negara “besar” Indonesia dan India yang masih memasok tingginya kasus CRS di dunia [5]:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29851943

Negara tetangga kita, Singapura, sudah tidak lagi melaporkan kasus CRS sejak tahun 2013 dengan berhasil mempertahankan cakupan vaksinasi rubella di level nasional sebesar  lebih dari 90% [6]:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25887085

Jadi, dalam masalah pengendalian CRS, Indonesia sudah sangat tertinggal dari negara-negara lainnya.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini kami menghimbau kepada pihak-pihak terkait untuk terus menggalakkan edukasi pentingnya vaksinasi Rubella sebagai upaya mengurangi dan bahkan meng-eliminasi kasus CRS di Indonesia. Sehingga pada akhirnya, kita bisa keluar dari predikat sebagai negara penyumbang tingginya kasus-kasus CRS di dunia.

***

@Sint-Jobskade 718 NL, 25 Dzulqa’dah 1439/ 8 Agustus 2018

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.

 

Referensi:

[1] Herini ES, Gunadi, Triono A, Mulyadi AW, Mardin N, Rusipah, Soenarto Y, Reef SE. Hospital-based surveillance of congenital rubella syndrome in Indonesia. Eur J Pediatr. 2017; 176(3): 387-393.

[2] Herini ES, Gunadi, Triono A, Wirastuti F, Iskandar K, Mardin N, Soenarto Y. Clinical profile of congenital rubella syndrome in Yogyakarta, Indonesia. Pediatr Int 2018; 60(2): 168-172.

[3] Wu Y, Wood J, Khandaker G, Waddington C, Snelling T. Informing rubella vaccination strategies in East Java,  Indonesia through transmission modelling. Vaccine 2016; 34(46): 5636-5642.

[4] Grant GBReef SEDabbagh AGacic-Dobo MStrebel PM. Global progress toward Rubella and Congenital Rubella Syndrome control and elimination 2000-2014. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 2015; 64(37): 1052-5.

[5] Khanal S, Bahl S, Sharifuzzaman M, Dhongde D, Pattamadilok S, Reef S, Morales M, Dabbagh A, Kretsinger K, Patel M. Progress toward Rubella and Congenital Rubella Syndrome control – South-East Asia Region, 2000-2016. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 2018; 67(21): 602-606.

[6] Chua YX, Ang LW, Low C, James L, Cutter JL, Goh KT. An epidemiological assessment towards elimination of rubella and congenital rubella syndrome in Singapore. Vaccine 2015; 33(27): 3150-7.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply