Ini yang Terjadi Jika Gula Darah Terlalu Tinggi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sudah banyak masyarakat yang mengerti sekilas mengenai penyakit diabetes mellitus. Masyarakat mengetahui bahwa seseorang dengan penyakit diabetes memiliki gula darah lebih tinggi dari orang yang sehat. Namun demikian, tampaknya masih sedikit yang mengetahui bahaya kadar gula darah yang terlalu tinggi bagi tubuh. Tulisan sederhana ini akan mengupas sekilas bahaya gula darah yang terlalu tinggi pada penyakit diabetes. Dengan demikian diharapkan masyarakat dapat memahami pentingnya mengontrol kadar gula darah.

Mengapa Terjadi Peningkatan Gula Darah

Gula dalam tubuh manusia sebagian besar berasal dari makanan/minuman yang dikonsumsi. Zat gula dari makanan dan minuman akan diserap oleh tubuh dan diedarkan melalui darah. Dalam kondisi normal, zat gula ini kemudian akan diserap oleh sel-sel tubuh. Zat gula inilah yang menjadi sumber makanan bagi sel-sel tubuh.

Akan tetapi, penyerapan zat gula tidak terjadi begitu saja. Sebagian besar sel-sel tubuh membutuhkan insulin untuk memasukkan zat gula ke dalam sel. Tanpa insulin, zat gula tidak bisa diserap dari darah.

Pada orang dengan diabetes mellitus terjadi gangguan penyerapan zat gula dari darah. Gangguan ini muncul setidaknya melalui dua jalur: 1) penurunan produksi insulin dalam tubuh, 2) ketidakmampuan sel tubuh menangkap insulin (resistensi insulin) sehingga tidak mampu memasukkan gula ke dalam sel. Orang yang sakit diabetes mengalami gangguan penyerapan zat gula melalui salah satu atau kedua mekanisme di atas.

Karena zat gula tidak diserap oleh sel, kadar gula dalam darah menjadi sangat tinggi. Ibarat jalan tol, jika kendaraan terus menumpuk dan tidak ada yang keluar, jalan tol menjadi sangat padat. Kadar gula darah dalam darah dapat menyebabkan kerusakan.

Apa yang Terjadi jika Gula Darah Terlalu Tinggi

Kerusakan Struktur Pembuluh darah dan Kerentanan Penyumbatan Pembuluh Darah

Gula darah yang terlalu tinggi meningkatkan risiko terbentuknya Advance Glycation End Products (AGEs). AGEs terbentuk dari interaksi metabolit glukosa dengan asam amino. AGEs akan berikatan dengan sel pembuluh darah dan sel inflamasi. Pada akhirnya, terjadi penebalan yang tidak normal pada pembuluh darah. Selain itu, kondisi darah menjadi lebih mudah mengalami pembekuan sehingga rawan terjadi sumbatan pada pembuluh darah.

Selain melalui terbentuknya AGEs, kerusakan pembuluh darah juga terjadi melalui peningkatan aktivitas Protein Kinase-C (PKC). Aktivasi PKC meningkat jika sel mengandung zat gula yang berlebihan. Aktivitas PKC yang berlebihan menyebabkan penurunan elastisitas pembuluh darah, peningkatan fibrosis yang merusak struktur pembuluh darah, dan meningkatkan kerentanan pembekuan darah sehingga rawan terjadi sumbatan.

Kerusakan Sel yang Tidak Tergantung Insulin

Tidak semua sel tubuh membutuhkan insulin untuk menyerap zat gula dari darah. Sel-sel yang tidak membutuhkan insulin untuk menyerap zat gula ialah sel saraf, sel lensa mata, sel-sel ginjal, dan sel pembuluh darah. Dengan demikian, meskipun mengalami diabetes mellitus sel-sel tersebut tidak kekurangan zat gula. Justru yang mungkin terjadi adalah sebaliknya. Ketika zat gula dalam darah terlalu tinggi, sel-sel organ tersebut menyerap gula dengan kadar yang terlalu tinggi. Kadar gula yang terlalu tinggi menyebabkan sel overload, seperti balon yang terisi udara terlalu banyak (proses osmosis). Kadar gula dalam sel yang terlalu tinggi juga menurunkan kadar antioksidan dalam sel (NADPH). Kedua hal tersebut membuat sel rentan mengalami kerusakan.

Kerusakan pembuluh darah, penyumbatan pembuluh darah, maupun kerusakan sel yang disebabkan oleh kadar gula darah berlebihan memicu kerusakan berbagai organ tubuh. Hal ini meningkatkan risiko komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, gangrene, kerusakan ginjal, kerusakan saraf tepi, kerusakan saraf mata, dan lain-lain.

Kesimpulan

  1. Diabetes mellitus menyebabkan tingginya kadar gula darah dalam tubuh. Kadar gula darah berlebihan memicu kerusakan sel dan organ tubuh. Oleh karena itu dibutuhkan terapi berkelanjutan untuk menjaga kadar gula darah tetap dalam batas normal. Dengan demikian, diharapkan kerusakan sel dan organ tubuh dapat dicegah.
  2. Kerusakan sel dan organ tubuh akibat kadar gula darah berlebihan umumnya berlangsung dengan proses yang lama. Hal ini terkadang membuat pasien lalai dan berpikiran bahwa: meskipun gula darah saya tinggi, saya baik-baik saja kok. Akibatnya pasien enggan menjalani program terapi diabetes. Pasien tersebut tidak menyadari bahwa proses kerusakan sel dan organ tubuh sedang berjalan. Maka sikap yang benar adalah melakukan usaha pengendalian gula darah agar tetap normal dengan cara menerapkan pola hidup sehat maupun menggunakan obat-obatan.

Referensi:

Mitchell, RN, Kumar, V, Abbas, AK, Fausto, N, and Aster, JC 2012, Pocket Companion to Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease, Philadelphia: Elsevier-Saunders.

Share.

Leave A Reply