Investasi Pemberian Makan Bayi

Pemberian makan pada masa bayi dan balita ternyata adalah sebuah investasi yang sangat penting. Pemberian makan bayi dan anak merupakan serangkaian proses yang terdiri atas makanan, proses makan (behavioral) serta fungsi faal tubuh (fisiologis) yang terlibat dalam kegiatan anak saat memakan makanannya. Usia anak sejak lahir hingga dua tahun merupakan periode kritis bagi tercapainya kualitas pertumbuhan yang optimal, kesehatan dan perkembangan tingkah laku. Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa periode 2 tahun ini merupakan puncak sering  terjadinya gangguan pertumbuhan, kekurangan mikronutrien dan penyakit infeksi yang  fatal. Menurut Martorel et al (1994), akan sangat sulit untuk memperbaiki gangguan pertumbuhan pada anak umur dua tahun jika anak telah mengalami gangguan pertumbuhan hingga menyebabkan tubuhnya kecil/kerdil (stunting). Oleh sebab itu, makanan yang ibu pilihkan untuk anak akan menentukan kualitas kecerdasan, kesehatan, reproduksi, bahkan kehidupan anak hingga kelak dia dewasa.

 Dari serangkaian hasil penelitian jangka panjang di seluruh belahan dunia, WHO dan Unicef mengadaptasi Global Strategy for Infant and Young Child Feeding demi menyelamatkan anak-anak yang terancam malnutrisi dari seluruh penjuru dunia. Dalam strategi global pemberian makan bayi dan balita ini WHO dan Unicef merekomendasikan:

  • Segera dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD) segera dalam satu jam setelah kelahiran bayi.
  • Pemberian ASI saja (ASI eksklusif) tanpa makanan dan minuman lain bagi bayi 0 – 6 bulan.
  • Pengenalan makanan pendamping ASI yang mencukupi kebutuhan nutrisi dan aman pada anak

Kondisi malnutrisi merupakan penyebab 60% kematian dari 10,9 juta balita setiap tahun.  Pada tahun 2012 saja terdapat sebanyak 45% kematian anak dari seluruh penjuru dunia yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Terdapat 162 juta anak balita kerdil dan 100 juta anak BB-TB rendah di seluruh belahan dunia pada tahun 2012 akibat pemberian makan yang kurang baik serta infeksi berulang yang merupakan kejadian ikutan pada kondisi anak kurang gizi. Sementara itu terdapat 44 juta anak kelebihan berat badan dan mengalami obesitas tumbuh membawa “bom waktu” penyakit gangguan metabolik di masa mendatang.

Pada tahun 2012 hanya 38% bayi yang mendapatkan ASI eksklusif di seluruh penjuru dunia. Pada tahun 2010, hanya 15,3% bayi di Indonesia yang disusui secara eksklusif selama 6 bulan dan 80,1% anak umur 0 – 23 bulan yang masih disusui oleh ibunya. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan ekonomi menunjukkan semakin rendahnya angka ibu menyusui bayi. Sebanyak 74,7% ibu di Indonesia memberikan kolostrum pada bayinya sedangkan sisanya tidak memberikan kolostrum tersebut. Sebagian besar IMD sudah dilakukan dalam rentang waktu 6 jam setelah bayi lahir, hanya 11,1% yang menunda IMD hingga 48 jam setelah bayi lahir.

Indonesia sendiri memiliki catatan angka kekurangan gizi yang mengkhawatirkan. Menurut hasil riset kesehatan dasar 2010 (Riskesdas 2013 belum bisa diakses dari internet), sebanyak 17,9% anak Indonesia itu kurang gizi dengan 4,9%-nya sudah jatuh dalam kondisi gizi buruk. Sejak tahun 2007 tidak terjadi pengurangan jumlah anak bergizi kurang sehingga tercatat 13,0% anak Indonesia memiliki status gizi kurang. Balita pendek tercatat sebanyak 17,1% dari seluruh balita di Indonesia, dengan balita sangat pendek itu sekitar 18,5%. Balita sangat kurus ada sekitar 13,3% dari seluruh balita di Indonesia.

Jadi, ada 17 dari tiap 100 balita di negri ini kurang gizi, bukankah ini mengerikan? Lebih parahnya lagi angka kurang gizi ini tidak ditentukan oleh status pendidikan, pekerjaan juga tempat tinggal orang tua. Di desa ada, di kota juga ada. Mau orang tuanya sarjana atau tidak sekolah juga sama-sama ada yang anaknya mengalami kekurangan gizi. Apa yang salah?

Pada kelompok umur remaja dan dewasa muda permasalahan kurang gizi dan pendek juga banyak ditemukan. Sedangkan pada kelompok umur dewasa permasalahan yang utama adalah mulai banyaknya angka obesitas, selain juga tetap banyak yang terlalu kurus. Memang literatur menunjukkan bahwa ada hubungan antara kurang gizi di masa bayi dan balita dengan obesitas serta penyakit metabolik di usia dewasa. Sehingga anak-anak yang saat ini kurang gizi justru membawa “bom waktu” permasalahan kesehatan yang serius di masa mendatang.

Ibu…Iya, ibu (dan tentu saja dengan dukungan ayah serta keluarga) adalah ujung tombak perbaikan gizi anak. Oleh sebab itu saya sampaikan di depan bahwa keputusan pemberian makan bayi dan balita adalah INVESTASI.

Pemberian ASI

Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama usia bayi telah terbukti memberikan banyak manfaat bagi bayi dan ibu. Inisiasi menyusu dini (IMD) dalam waktu satu jam setelah bayi lahir membantu mengurangi hingga 22% kematian bayi karena terbukti bisa melindungi bayi dari infeksi. IMD memfasilitasi bayi untuk mendapatkan kolostrum yang kaya nutrisi dan mengandung faktor anti-infeksi yang tinggi. Menyusui terbukti melindungi bayi dari infeksi saluran pencernaan yang berakibat fatal. Risiko kematian akibat diare dan infeksi lain menurun pada bayi-bayi yang disusui secara eksklusif dan meningkat pada bayi yang tidak disusui secara eksklusif apalagi tidak disusui sama sekali.

ASI merupakan sumber energi dan nutrisi utama pada bayi umur 0 – 6 bulan. ASI telah menyediakan makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh bayi sehingga bayi umur 0 – 6 bulan tidak memerlukan tambahan makanan ataupun minuman lain bahkan dalam kondisi cuaca panas sekalipun. ASI merupakan sumber energi dan nutrisi yang penting bagi bayi umur 6 – 23 bulan. ASI mampu mensuplai separuh kebutuhan bayi umur 6 – 12 bulan dan sepertiga kebutuhan bayi umur 12 – 24 bulan. ASI adalah sumber energi dan nutrisi yang sangat penting di saat anak sakit dan mampu mengurangi kematian pada anak dengan kondisi malnutrisi.

Dalam jangka panjang, anak yang diberi ASI akan terlindungi dari risiko obesitas dan kegendutan sehingga terlindungi pula dari risiko penyakit gangguan metabolik. Anak yang diberi ASI memiliki tingkat inteligen yang lebih tinggi dan tercipta ikatan yang kuat antara ibu dan anak. Bagi ibu pemberian ASI akan mengurangi risiko perdarahan pasca melahirkan, lebih tenang dan nyaman dalam beradaptasi menjalani peran baru serta melindungi ibu dari risiko penyakit kanker indung telur dan kanker payudara. Pemberian ASI eksklusif merupakan KB alami yang memiliki efektifitas tinggi.

Di Indonesia pemberian ASI dan proses menyusui dilindungi oleh undang-undang sehingga wajib di dukung oleh seluruh elemen bangsa dan Negara.

Setelah masa ASI eksklusif selesai, lalu bagaimana kah cara memberikan makan pada bayi?

Sebenarnya MPASI itu mudah loh, cukup dari bahan terbaik yang bisa kita temukan di sekitar kita dan dari makanan yang terhidang di meja.Kuncinya adalah sesuaikan dengan tahap perkembangan anak.

Dalam pemberian MPASI harus diperhatikan: frequency, amount, thickness, variety, active/responsive feeding dan higiene.

  1. 1.    Frekuensi pemberian makan

Pada awal MPASI di umur 6 bulan,  frekuensi MPASI diberikan 2 kali.

Pada umur 6 – 9 bulan, frekuensi MPASI diberikan 3 kali. Berikan snack seperti biskuit atau buah matang 1 – 2 kali sehari.

Pada umur 9 – 11 bulan, frekuensi MPASI diberikan 4 kali sehari. Berikan snack 1 – 2 kali sehari.

Pada umur 12 – 24 bulan, frekuensi makan diberikan 5 kali sehari dan juga snack tambahan.

Alasan kenapa frekuensi makan anak harus sering adalah karena anak -terpaksa- memakan makanan sedikit demi sedikit padahal PR kekosongan asupan kalori dan zat gizi yang dia miliki begitu serius.

2. Jumlah makanan yang diberikan

Frekuensi makan dan jumlah makanan yang diberikan menyesuaikan dengan kapasitas lambung bayi dan rata-rata kandungan kalori pada MPASI yang sekitar 0,8 kcal/gram. Ukuran lambung bayi masih kecil yah. Bayi yang baru lahir ukuran lambungnya hanya sebesar kelereng, umur 3 hari bertambah sebesar bola bekel dan umur 1 minggu bertambah menjadi sebesar bola pingpong. Nah, ukuran ini berangsur-angsur akan membesar seukuran bola tenis pada bayi umur 6 – 12 bulan. Menurut penelitian, kapasitas lambung bayi itu sekitar 30 gram makanan/kg BB-nya.

Pada awal MPASI di umur 6 bulan jumlah makanan yang diberikan sekitar 2 – 3 sendok makan.

Pada umur 6 – 9 bulan, jumlah makanan dinaikkan bertahap dari 2 sendok makan menjadi ½ cangkir (125 mL).

Pada umur 9 – 11 bulan, jumlah makanan dinaikkan bertahap dari ½ cangkir menjadi 1  cangkir penuh (ukuran cangkir 250 mL).

Pada umur 12 – 24 bulan, jumlah makanan dinaikkan bertahap dari ¾ cangkir menjadi 1 cangkir penuh (ukuran cangkir 250 mL).

Karena kita –terpaksa- memberikan makanan dalam jumlah sedikit, namun dengan PR harus bisa memenuhi kekosongan energi dan zat gizi yang serius maka jenis menu dan metode MPASI yang kita pilih haruslah tepat.

3. Tekstur makanan

Pada umur 6 bulan tekstur yang diberikan adalah makanan lumat (bubur saring, pure atau makanan yang ditumbuk/dihaluskan). Pastikan tekstur tidak terlalu cair, jadi gunakan sedikit saja air. Jadi tekstur bubur cair, tapi jika sendok dimiringkan bubur tidak tumpah.

Pada umur 8 bulan bayi sudah bisa dikenalkan dengan makanan finger food.

Pada umur 9 – 11 bulan tekstur makanan dinaikkan menjadi makanan lembek (nasi tim, bubur tanpa disaring, makanan dicincang halus atau irisan makanan-lunak).

Pada umur 12 bulan bayi sudah bisa memakan makanan meja: makanan yang dicincang kasar, diiris atau dipegang tangan.

Tekstur makanan ini disesuaikan dengan perkembangan sistema persarafan dan oro-motorik bayi. Di atas sudah disampaikan tentang kekosongan suplai energi dan zat gizi juga ukuran lambung yang kecil. Sehingga kita hanya bisa memberikan makanan dalam jumlah sedikit namun frekuensi sering, juga sebaiknya yang mudah dicerna. Proses pencernaan makanan ada dua tahap, yaitu pencernaan mekanik oleh kegiatan oro-motorik gigi-geligi dan pencernaan kimiawi oleh reaksi enzimatik enzim pemecah makanan. Reaksi enzimatik akan sempurna jika luas permukaan sentuh antar-partikel makin efisien, sehingga ukuran partikel bahan makanan yang tertelan sebaiknya sudah kecil.

Bayi umur 5 bulan baru belajar menggerakkan sendi rahangnya dan makin kuat refleks hisapnya. Bayi umur 7 bulan bisa membersihkan sendok menggunakan bibirnya. Bayi saat ini bisa menggerakkan sendi rahang naik-turun juga gigi masih sedikit pun biasanya baru punya gigi seri yang bertugas memotong bukan menggilas makanan, sehingga proses mengunyah dan hasil partikel kunyahan masih kasar.  Mulai umur 8 bulan bayi telah mampu menggerakkan lidah ke samping dan mendorong makanan ke gigi-geliginya, makin stabil menjaga keseimbangan dan memegang sehingga dia sudah bisa menerima makanan finger food.

Umur 10 bulan merupakan waktu kritis bayi diharapkan sudah bisa memakan makanan semi-padat (“lumpy” solid food) sehingga mulai kenalkan makanan lembek tanpa saring di umur 9 bulan. Jika terlambat menaikkan tekstur makanan maka anak akan semakin sulit memakan makanan yang lebih padat. Umur 12 bulan sendi rahang bayi telah stabil dan mampu melakukan gerakan rotasi sehingga sudah bisa lebih canggih dalam mengunyah makanan kasar. Pada saat ini bayi telah siap memakan makanan meja sesuai yang dimakan oleh keluarga.

Jika bayi dipaksa makan makanan padat terlalu dini, risiko tersedak sangat besar. Ibunya udah bisa manuver Heimlich belom nih? Banyak loh bayi yang berakhir mengenaskan karena tersedak, hiks.

Selain itu bayi membutuhkan lebih banyak waktu untuk memanipulasi makanan dan mengunyahnya hingga menjadi partikel yang lebih kecil untuk ditelan. Akibatnya bayi akan memakan jumlah makanan yang lebih sedikit (karena capek dan bosan -dipaksa- mengunyah) sehingga asupan makanannya kurang dan kekosongan kebutuhan tubuhnya akan tetap kosong.

Jika ibu ingin bayi mendapatkan manfaat zat gizi secara optimal dari makanan yang dia makan maka sebaiknya ibu pilih menu sesuai dengan tahap perkembangan bayinya.

4. Varietas Bahan Makanan

Pada umur 6 bulan, sistem pencernaan bayi, termasuk pancreas telah berkembang dengan baik sehingga bayi telah mampu mengolah, mencerna serta menyerap protein, lemak dan karbohidrat dari bahan makanan lain selain ASI dan susu formula.

Pada umur 6 bulan, ginjal bayi telah berkembang dengan baik sehingga mampu mengeluarkan produk sisa metabolisme termasuk dari bahan pangan tinggi protein seperti daging. Jadi, bukan menjadi alasan menunda pemberian daging merah, ikan dan telur.

Jadi yaaa… tidak ada alasan gak boleh kasih makanan ini-itu (padahal ortu mampu menyediakan) hanya karena takut anak tidak bisa mencernanya dan ginjal tidak kuat.

Pada masa awal MPASI berikan 1 jenis makanan terlebih dahulu, kemudian tambahkan 1 jenis makanan lain setiap minggu (kalau AAP setelah beberapa hari percobaan, penelitian lain menyarankan tiap 2 – 4 hari tambah setiap bahan baru). Dalam pengenalan bahan baru disarankan memulai dengan dosis sekitar 1 – 2 sendok teh. Lebih disarankan lagi diberikan sebagai “rasa tunggal”, namun ada beberapa bayi yang menyukai saat dicampur.

Makanan pertama -yang buat saya monumental, haha- prioritaskan memilih sumber karbohidrat (bubur serealia seperti bubur beras, bubur jagung, kentang tumbuk, pisang kerok, sukun) dan segerakan memberikan bahan pangan sumber zat besi hewani.

Tambahkan minyak atau margarin setengah hingga satu sendok teh ke dalam bubur bayi untuk meningkatkan kandungan energi serta supaya makanan licin dan mudah ditelan bayi. Ibu bisa menggunakan minyak apapun yang tersedia di rumah selama minyaknya masih bersih dan bagus bukan minyak bekas menggoreng. Boleh juga menambahkan parutan makanan yang sudah digoreng ke dalam MPASI.

Hindari makanan dan minuman manis seperti teh, soda, atau biskuit manis. Jangan memberikan makanan yang keras dan berpotensi untuk tersedak. Makan ala diet vegetarian yaitu buah sayur serta bahan pangan nabati lain -sudah dibuktikan dari serangkaian penelitian para ahli- tidak bisa memenuhi kekosongan zat gizi yang diperlukan bayi (alasannya sudah saya jelaskan di atas), KECUALI ibu juga memberikan bayi suplementasi dan produk makanan yang telah difortifikasi. Apalagi jika pilihan MPASI ibu hanya buah dan sayuran yang boleh dimakan bayi, tentu bayi akan rentan mengalami kekurangan energi, kecuali jumlah makanan yang diberikan sangat banyak dengan risiko bayi sembelit karena makan melebihi kapasitas pencernaannya (ingat bahwa bayi membutuhkan lebih banyak makanan jika kandungan kalorinya makin sedikit).

Susu sapi dan hewan lain belum boleh menjadi minuman utama bagi bayi di bawah 12 bulan karena terkait dengan risiko perdarahan di saluran cerna serta menghambat penyerapan zat besi. Namun, ibu bisa menggunakan produk susu seperti keju, yoghurt, dan lainnya sebagai campuran dalam MPASI jika bayi tidak sensitif dan alergi. Madu baru diberikan pada anak di atas umur 12 bulan terkait risiko botulisme akibat adanya Clostridium botulinum yang mencemari madu.

Terkait ketakutan akan adanya alergi sebenarnya tidak ada pantangan makanan bagi bayi:

Untuk bayi yang terlahir dari keluarga yang sangat kuat dan jelas riwayat alerginya, AAP merekomendasikan menunda pemberian susu sapi hingga usia anak 1 tahun, telur hingga usia anak 2 tahun dan kacang tanah, kacang-kacangan, dan ikan hingga anak 3 tahun (AAP, 1998). Namun demikian, penelitian yang membuktikan adanya manfaat penundaan atau pembatasan makanan dalam MPASI belum ada (Halken dan Host, 2001) sehingga para ahli internasional tidak merekomendasikan pembatasan diet pada MPASI anak (WHO/IAACI, 2000). Kejadian alergi makanan terjadi pada sekitar 2 – 8% anak berumur kurang dari 3 tahun, tandanya biasanya langsung muncul dalam beberapa jam setelah anak makan.

Gejala yang mungkin timbul antara lain gejala saluran pencernaan (diare, muntah, sakit perut), gejala saluran pernafasan (batuk, mengi, infeksi telinga), gejala di kulit (bercak merah atau gatal) dan gejala sistemik (syok anafilaksis hingga BB anak susah naik bahkan gagal tumbuh).

Berikan air putih yang bersih dan sudah dimasak sebanyak kurang lebih 4 – 8 oz (120 – 240 mL) per hari. Air putih berguna sebagai suplai cairan juga untuk mencegah sembelit.

Bagaimana dengan gula dan garam?

Jreng jreeenggg… semua sumber yang saya baca tidak merekomendasikan makanan manis, asin dan berbumbu tajam. Tapi dalam “booklet pemberian makan” dari Unicef boleh ditambahkan sedikit garam beryodium dan dalam buku “MPASI rumahan bagi bayi” dari WHO boleh ditambahkan sedikit gula.

Saya pribadi menyarankan jika bayi mau lahap makan tanpa gula dan garam tentu akan lebih baik.

Biarkan bayi rekreasi rasa alami makanan.

Masalahnya beberapa kasus akan berakhir dengan bayi malas makan dan lebih memilih menyusu karena rasa MPASI “hambar” sedangkan ASI ibu kaya rasa, hasilnya bayi jadi kurus. Jika bayi susah makan karena rasa MPASI rumahan yang hambar semua dikembalikan ke ibu apakah mau menambahkan SEDIKIT gula-garam sebagai perasa alami atau mencari solusi yang lain (ingat cukup SEDIKIT ya, jangan terlalu manis apalagi terlalu asin).

Sebenarnya ibu bisa mengganti gula-garamnya dengan keju, margarin, mentega atau ASIP.

Btw jangan sedih kalau bayi anda tidak mau makan bubur yang ditambah ASIP -normal jika ada bayi yang  gak suka saat ASIP dicampur ke bubur- daripada bersedih mending segera mencari variasi menu baru.

Pengenalan bumbu sesuai tradisi makan di keluarga ibu bisa dikenalkan secara bertahap dengan melihat respons tubuh bayi, apalagi Indonesia adalah Negara yang kaya rasa, aroma dan warna. Bayi telah mengenal makanan meja di keluarga ibu sejak dia lahir dari ASI ibu, sehingga biasanya selera bayi akan mirip dengan selera ibu.

5. Pemberian makan dengan cara aktif/responsive

MPASI bukan hanya sekedar makanan namun juga cara makan, kapan waktu makan, tempat makan, dan faktor pemberi makanan sehingga dalam MPASI juga diperhatikan faktor psikososial anak.

  • Suapi bayi dan perhatikan anak yang lebih besar serta beri bantuan bila dia membutuhkan. Beri anak makanan dengan sabar dan penuh perhatian, dorong anak untuk mau makan namun jangan paksa anak untuk makan.
  • Jika anak menolak makan, coba ganti kombinasi makanan, rasa, tekstur dan metode makan.
  • Minimalisasi gangguan saat anak makan jika anak tipe yang mudah teralihkan perhatiannya.
  • Waktu makan adalah saatnya anak untuk belajar dan waktu keluarga mencurah cinta dan saling berkomunikasi sehingga ajak anak untuk mengobrol dengan kontak mata yang penuh kehangatan.

Jarang ada penelitian tentang anak yang dibiarkan makan sendiri tanpa bantuan sejak dini.

Namun, metode pemberian makan secara responsif (jadi ibu menyuapi anak tapi anak juga dilibatkan secara aktif untuk makan) telah terbukti membuat anak makan lebih banyak. Berikan anak makanan dalam piring tersendiri sehingga ibu bisa mengukur banyaknya makanan yang dimakan anak. Beri makan dengan alat makan sesuai perkembangan umur anak serta budaya setempat, ada beberapa kebudayaan yang memberikan sendok yang lebih kecil bagi bayi. Bayi yang lebih besar akan tertarik untuk makan sendiri, berikan dia sendok untuk berpartisipasi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sambil dibantu oleh ibu.

Pemberian ASI pada saat MPASI masih seperti pada saat masa ASI eksklusif yaitu sesering dan selama yang anak inginkan. Pada umur 6 – 12 bulan disarankan untuk menyusui terlebih dahulu sebelum memberikan makanan lain. Namun teknis pelaksanaannya dikembalikan kepada kenyamanan ibu dan anak. Jangan takut anak menyusu akan membuat anak malas makan. Menyusu semau bayi pada masa-masa ini akan tetap membuatnya masih lapar karena ASI sangat berbeda dari susu formula dan sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan nafsu makan juga energi bagi bayi.

Keuntungan masih menyusui semau bayi pada masa MPASI antara lain:

  • Bayi akan terlindungi dari reaksi peradangan dan infeksi karena ada sel-sel darah putih, antibodi, antiradang dan aktivator sel darah putih di dalam ASI.
  • Epidermal growth factor di dalam ASI akan membantu perkembangan sel-sel usus juga papilla lidah/taste bud bayi. Papilla lidah yang sehat akan membuat anak mudah merasakan rasa makanan sehingga nafsu makannya menjadi baik. Pencernaan yang berkembang sempurna membantu bayi makin efektif mencerna makanan.
  • Terdapat enzim percerna karbohidrat, lemak dan protein di dalam ASI sehingga proses pencernaan zat gizi dalam makanan akan semakin efisien.

6. Higienitas

Pada masa-masa ini bayi sangat rentan terkena diare sehingga ibu harus memastikan kebersihan makanan, air, alat makan, proses memasak dan tangan (pemberi makan maupun bayi). Cuci tangan ibu dan bayi dengan air serta sabun saat mau memasak, mau makan dan setelah dari toilet (sabun biasa, tidak perlu sabun antibakteri). Disarankan menggunakan peralatan makan yang mudah dibersihkan seperti cangkir, mangkok dan sendok, bukan botol-sendok, dot atau pipet. Makanan bayi bisa disimpan di kulkas dalam rentang yang tidak terlalu lama (misal ibu bekerja menyiapkan makanan untuk 1 hari, jangan 3 hari apalagi 1 minggu yah, dudududuu..). Masak dengan benar hingga makanan matang. Bubur bayi yang tidak disimpan di kulkas sebaiknya segera digunakan dalam waktu 2 jam. Pastikan makanan mentah yang dimakan bayi bersih dan aman. Pisahkan makanan mentah dan matang.

Cara memasak bubur lumat: (eh saya juga baru tau loh kalo ada cara semudah ini, hahaa)

1 sendok nasi + 2 sendok air panaskan menggunakan panci kecil dg api sedang hingga bahan tercampur jadi lembek lalu saring dengan saringan kawat. Boleh dengan bumbu seperti duo bawang geprek dan daun salam. Air boleh diganti kaldu.

Tambahkan lauk hewani dan nabati, juga sayur sesuai tekstur tahap perkembangan anak.

Tambahkan minyak atau margarin atau mentega.

Cara memasak bubur lembek sama seperti di atas tapi tidak perlu disaring.

Contoh MPASI untuk anak umur 1 tahun:

Pagi 3 sendok nasi + 1 sendok olahan kacang-kacangan (misal tempe) + ½ butir jeruk

Siang 3 sendok nasi + 1 sendok ikan +  1 sendok sayuran hijau

Sore/malam 3 sendok nasi + 1 sendok hati ayam + 1 sendok sayuran hijau

Berikan 2 kali snack dengan pisang yang dioles margarin.

Jadi kalo di cara makan ala WHO ini cukup dengan makanan yang ada di meja makan keluarga. Ambil nasi dari nasi keluarga (kenapa nasi bukan beras? Supaya hanya dibutuhkan tambahan air sedikit agar tidak terlalu encer, juga biar cepet masaknya) lalu pisahkan sayur juga lauk yang belum dibumbui bumbu-bumbu tajam (misal merica atau cabe).

Kok boleh gorengan sih? Kan kalori gorengan lebih tinggi, toh ibu sendiri yang menggoreng dengan minyak yang aman digunakan. Oiya, jangan samakan diet bayi dengan diet kita-kita yang udah berumur ini. Bayi itu butuh kolesterol. Tau gak sih salah satu nutrisi unggulan di ASI yang gak ada di sufor juga susu lain itu apa? KOLESTEROL dan ASAM LEMAK.

Untuk menu sesuaikan saja dengan masakan yang ibu masak dengan tekstur dan jumlah menyesuaikan tahap perkembangan anak. Boleh sih pakai blender, food processor atau yang lainnya, tapi kalo buat tipe ibu malas nyupir (nyuci piring) macam saya akhirnya jadi males banget. Sebenarnya pemberian MPASI itu tidak sulit ya, namun jika salah pilih akan sangat merugikan bayi. MPASI yang salah akan membuat:

1. Bayi akan rentan sakit,

2. Bayi lambat tumbuh,

3. Bayi akan berhenti tumbuh.

Ciri ada sesuatu yang salah di MPASI ya berat badan anak susah naik, grafik pertambahan berat badan jelek dan anak sering banget sakit. Bisa dilihat dari gambar ada gambaran CT scan anak di usia yang sama, anak kurang gizi otaknya lebih kecil dan banyak yang kosong jadi akhirnya ya jadi anak yang bodoh. Padahal anak ASI -sudah dibuktikan dari penelitian jangka panjang- seharusnya tumbuh berkembang dengan baik, pintar, aktif dan sehat.

Jika ragu dengan MPASI ibu bisa mendiskusikannya dengan DSA pro-ASI yang komunikatif. Dokter spesialis anak adalah orang yang sekolah kedokteran dan mendalami permasalahan anak selama 12 tahun, jadi mereka pastilah tahu apa yang harus anak makan. Daripada berimprovisasi dengan akibat masa depan anak terancam kan?

Penulis : dr. Annisa Siti Rohima

 *****

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

About Author

Leave a Reply