Kegemukan Pada Anak, Antara Gemas dan Cemas

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

 

Banyak orangtua bangga dan senang jika anaknya yang masih kecil nampak gemuk. Selain terlihat lucu dan menggemaskan, tubuh gemuk dianggap menggambarkan kecukupan gizi. Padahal tidak demikian kenyataannya, karena anak yang gemuk belum tentu sehat. Terlalu gemuk justru menyebabkan anak menjadi terhambat dalam melakukan aktivitas fisik. Bahkan, terlalu gemuk juga bisa memunculkan banyak masalah kesehatan dan sosial pada anak.

KAPAN ANAK DIANGGAP KEGEMUKAN (OBESITAS)?

Tidak semua anak yang nampak gemuk dianggap menderita kegemukan. Ada beberapa anak yang memiliki kerangka tubuh yang lebih besar dibanding dengan anak-anak lain seusianya. Anak dengan kerangka tubuh seperti ini cenderung nampak lebih pendek, gemuk, dan kelihatan besar, padahal sebenarnya mereka tidak gemuk. Seorang anak dianggap mengalami kegemukan jika berat badannya 20% melebihi berat badan sehatnya (ideal).

 

MENGAPA ANAK KECIL BISA MENGALAMI KEGEMUKAN?

Ada beberapa kombinasi faktor penyebab kegemukan, dan salah satunya adalah faktor keturunan. Apabila salah satu atau kedua orangtua mengalami kegemukan, biasanya anak-anak mereka cenderung kelebihan berat badan juga. Sedangkan kegemukan pada anak yang orangtuanya tidak kelebihan berat badan biasanya bukan karena faktor keturunan tapi karena makan berlebihan. Kurang olah raga dan aktivitas fisik juga bisa menyebabkan kegemukan karena kalori yang tidak terpakai diubah menjadi lemak.

 

HATI-HATI MEMILIH

Jangan terkecoh dengan tulisan ”bebas lemak” pada kemasan snack (makanan ringan/camilan) yang beredar di pasaran. Banyak kue, biskuit, dan ice cream yang mencantumkan embel-embel ”bebas lemak”. Biasanya orangtua akan langsung memilihnya untuk diberikan pada anak. Orangtua jadi tidak khawatir dan membolehkan anaknya mengonsumsi sebanyak-banyaknya. Padahal, bebas lemak belum tentu rendah kalori. Kalori yang berlebihan dan menumpuk akan diubah menjadi lemak. Oleh karena itu, orangtua harus hati-hati memilih snack. Jika kita mempunyai waktu luang, alangkah lebih baiknya jika kita membuat sendiri snack untuk makanan selingan anak daripada membiarkan anak jajan di luar.

BATASI KONSUMSI GULA

 

Biasakan anak-anak untuk mengonsumsi air putih sebanyak 8-10 gelas sehari. Kurangi dan batasi munuman manis seperti sirup, teh manis, dan lain-lain. Para pakar gizi memang sepakat kalau jus buah (yang asli dari buah segar 100%) layak dikonsumsi anak-anak, tapi orangtua harus tetap membatasi takaran dan frekuensi (keseringannya) supaya tidak berlebihan. Kebanyakan orangtua mengira bahwa jus buah adalah minuman yang sehat karena terbuat dari bahan-bahan alami dan bebas lemak, sehingga orangtua merasa tidak perlu membatasi konsumsi jus buah. Padahal, ada kebiasaan menambahkan gula pasir atau susu kental manis pada jus buah yang menyebabkan kandungan gula pada jus buah meningkat. Hal ini bisa memicu terjadinya kegemukan dan berbagai macam gangguan kesehatan. Parahnya lagi, sebagian orangtua menyamakan jus buah dengan minuman olahan (minuman kemasan)  yang diberi rasa dan aroma buah (bukan buah asli). Padahal, minuman olahan ini mengandung kalori yang sangat tinggi dan sangat sedikit mengandung vitamin atau zat gizi lainnya. Maka, sebagai orantua yang bijak, lebih baik kita membuat jus buah sendiri daripada memberikan minuman olahan yang tidak asli dari buah. Selain itu, akan lebih baik lagi jika kita membiasakan anak kita memakan buah asli secara langsung (tanpa dibuat menjadi jus) karena lebih segar dan alami.

 

TIPS MENCEGAH DAN MENGATASI KEGEMUKAN PADA ANAK

Beberapa kiat yang bisa kita praktekkan untuk mencegah dan mengatasi kegemukan pada anak, antara lain :

  • Berikan ASI pada anak-anak kita. Anak yang semasa bayinya diberi ASI ternyata mempunyai kemungkinan lebih kecil untuk mengalami kegemukan dibanding dengan yang tidak diberi ASI. Bagi ibu yang tidak menginginkan anaknya mengalami kegemukan, maka bisa melakukan pencegahan sejak anak masih bayi, yaitu dengan memberikan ASI kepada bayinya. Dianjurkan untuk menyusui ASI eksklusif yaitu ASI saja tanpa makanan tambahan lain selama 6 bulan. Setelah usia bayi 6 bulan, ibu bisa memberikan tambahan berupa makanan pendamping ASI (MPASI) dengan tetap memberikan ASI hingga anak genap berusia 2 tahun.
  • Pilih makanan sehat untuk keluarga. Hindari fast food (makanan siap saji) dan snack yang tinggi kalori, tinggi lemak, dan banyak mengandung MSG/Monosodium Glutamat (vetsin, penyedap rasa). Memasak makanan sendiri tentu lebih terjamin kebersihan dan kesehatannya.
  • Biasakan sarapan pagi. Kebiasaan sarapan pagi sangat baik untuk kesehatan dan kelancaran aktivitas seharian. Dengan sarapan, kita bisa mempertahankan kadar gula dalam darah sehingga keinginan ngemil atau jajan bisa ditekan. Apalagi bagi anak sekolah, sarapan pagi sangat bermanfaat membantu anak untuk lebih berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran di sekolah.
  • Jangan biasakan jajan. Beri pengertian kepada anak supaya tidak berlebihan saat jajan. Akan lebih baik lagi jika kita membawakan bekal dari rumah untuk anak kita ketika sekolah (seperti kue-kue atau nasi dan lauk masakan sendiri). Selain kurang terjamin kebersihan dan kesehatannya, kebiasaan jajan juga akan menghilangkan selera makan anak terhadap makanan yang sudah disiapkan ibu di rumah karena anak sudah terlanjur kenyang dengan snack yang dibelinya.
  • Tingkatkan serat. Masukkan lebih banyak sayur dan buah pada menu makan keluarga. Anak-anak membutuhkan vitamin dan zat gizi yang terkandung pada sayur dan buah. Kandungan seratnya yang tinggi juga sangat baik untuk pencernaan.
  • Ajak anak-anak melakukan aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik bisa menyebabkan kegemukan pada anak. Jauhkan anak-anak kita dari televisi dan aneka macam permainan seperti video game, play station, dan lain-lain yang berdampak buruk pada fisik dan kejiwaan mereka. Kita bisa melakukan olahraga bersama anggota keluarga seperti berenang, bersepeda, jalan santai, dan lain-lain. Disamping itu, kita juga bisa melibatkan anak ketika membersihkan dan menata rumah. Biarkan anak melakukan pekerjaan semampunya, tawarkan pekerjaan yang ringan namun cukup untuk membuatnya menggerakkan tubuh sehingga dapat membakar kalori tubuhnya.
  • Beri dukungan. Jangan mengejek tubuh anak yang gemuk dan jangan paksa anak untuk meurunkan berat badannya, tapi berikan dukungan dengan membantunya menciptakan suasana yang nyaman. Jika kita ingin anak kita makan makanan sehat maka jangan menyimpan snack di almari atau memberinya uang jajan berlebih.
  • Ajari anak mengendalikan rasa lapar. Anak yang mengalami kegemukan biasanya tidak dapat mengendalikan keinginannya untuk makan terus-menerus. Ajarkan anak untuk makan hanya ketika merasakan lapar. Ketika bulan puasa tiba, ajaklah anak yang sudah mampu berpuasa untuk berlatih menjalankan ibadah puasa sehingga mereka terlatih mengendalikan rasa laparnya.

JANGAN DIET SEMBARANGAN

Berbeda dengan orang dewasa, anak kecil yang mengalami kegemukan tidak boleh sembarangan melakukan diet dengan mengurangi makanan tanpa panduan dokter atau ahli gizi. Jangan semata-mata ingin menurunkan berat badan anak, kemudian kita membatasi makan anak secara sembarangan. Perhatikan kebutuhan gizi anak, jangan sampai kurang atau tidak terpenuhi. Saat menyusun menu untuk si kecil, yang harus kita perhatikan adalah kebutuhan gizi dan pertumbuhannya. Jika perlu, tanyakan pada dokter atau ahli gizi supaya tidak salah langkah ketika menghadapi masalah kegemukan pada anak.

BERIKAN CONTOH YANG BAIK

Anak kecil yang gemuk memang nampak lucu, tapi seiring dengan bertambahnya usia, anak akan merasa minder dengan bentuk tubuhnya. Ditambah lagi dengan sederet penyakit yang menyertai anak akibat tertimbunnya lemak dan kolesterol. Sudah seharusnya kita sebagai orangtua mengarahkan dan memberi contoh yang baik pada anak-anak kita. Anak-anak memiliki kecenderungan untuk meniru kebiasaan orangtua mereka sehari-hari. Oleh karena itu, cara terbaik mengenalkan gizi yang benar pada anak kita adalah dengan memberi contoh dari kebiasaan makan kita sendiri. Semoga bermanfaat dan semoga kita dimudahkan oeh Allah subhanahu wa ta’ala dalam memberikan yang terbaik bagi kesehatan keluarga kita.

 

Penulis : dr. Avie Andriyani

*****

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter.

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

 

Share.

About Author

Alumni Fakultas Kedokteran UGM. Saat ini aktif menulis berbagai artikel kesehatan. Di antara tulisan yang sudah dibukukan adalah buku Panduan Kesehatan Wanita

Leave A Reply