Kehamilan di Luar Rahim, Berbahayakah?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +


Kehamilan di luar rahim, yang dalam bahasa medis disebut dengan kehamilan ektopik, merupakan suatu kondisi kehamilan yang tidak normal di mana janin tidak tumbuh di dalam rahim melainkan di luar rahim. Janin pada kehamilan ektopik paling sering tumbuh di saluran telur (tuba falopi), namun pada beberapa kasus dapat pula terjadi di rongga perut, indung telur atau di leher rahim. Janin pada kehamilan ini tidak dapat tumbuh dengan normal dan berbagai organ reproduksi di sekitarnya juga dapat terdampak. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kehamilan ektopik akan berujung pada perdarahan yang dapat berakibat fatal.

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik, yaitu :

  • Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
    Peradangan atau infeksi pada saluran reproduksi
  • Masalah kesuburan dan penggunaan obat-obatan untuk kesuburan
  • Bentuk anatomis saluran reproduksi yang tidak normal
  • Pada pengguna kontrasepsi IUD (alat kontrasepsi dalam rahim), jika terjadi kegagalan kontrasepsi dan terjadi kehamilan, kemungkinan kehamilan ektopik meningkat
  • Merokok atau terkena paparan asap rokok

Pada awalnya, kehamilan ektopik akan terasa seperti kehamilan biasa. Jika dilakukan tes kehamilan juga akan didapatkan hasil positif. Maka sebaiknya, ibu hamil perlu mengetahui tanda bahaya pada kehamilan ektopik, yaitu sebagai berikut.

  • Nyeri perut atau pinggul yang hebat diikuti dengan perdarahan jalan lahir
  • Kepala terasa ringan, lemas hingga tak sadarkan diri
  • Mual muntah, demam
  • Nyeri pada bahu

Jika ditemukan tanda bahaya tersebut, ibu hamil harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan. Setelah dilakukan pertolongan awal, diperlukan ultrasonografi (USG) untuk mengkonfirmasi diagnosis kehamilan ektopik. Jika diagnosis mengarah ke kehamilan ektopik, dokter akan melakukan beberapa pilihan tindakan medis sesuai kondisi pasien. Pada kasus kehamilan ektopik dengan perdarahan, umumnya akan dilakukan tindakan pembedahan untuk mengangkat janin dan jaringan di sekitarnya. Pada kehamilan ektopik tanpa perdarahan, dalam beberapa kasus kehamilan dapat dipertahankan, namun harus dengan pengawasan ketat dan tambahan obat-obatan.

Semoga sedikit informasi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi kita semua.

 

Penulis : dr. Maria Nova Nurfitri (Alumni Fakultas Kedokteran UGM)

Share.

Leave A Reply