Ketika Buah Hati Beranjak Dewasa

Tak terasa, buah hati kita yang serasa baru kemarin lahir, balita yang lucu dan imut, anak-anak yang manja, kini telah bertambah besar dan sudah beranjak remaja. Ketika seorang anak sudah memasuki usia remaja, ada beberapa perubahan dan begitu banyak permasalahan terkait dengan kondisi fisik maupun kejiwaannya. Usia peralihan menuju dewasa ini tidak jarang menuntut perhatian lebih dari orangtua, termasuk perhatian tentang masalah kesehatannya. Masalah kesehatan yang sering dialami remaja sangat beragam, mulai dari masalah jerawat yang nampak sepele, gangguan kesehatan terkait dengan kebiasaan merokok dan mengonsumsi narkoba, depresi, hingga penyakit menular seksual akibat pergaulan bebas. Sebagai orangtua, kita tentu tidak ingin hal-hal yang buruk menimpa putra-putri kita. Untuk itu, perlu kiranya kita mengenali gejala-gejala yang mengarah pada penyimpangan perilaku yang bisa berdampak buruk pada kesehatan dan kejiwaan mereka.

 

Masa Remaja, Masa Peralihan

Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, berlangsung antara usia 10 sampai 19 tahun. Masa remaja terdiri dari masa remaja awal (10–14 tahun), masa remaja pertengahan (14–17 tahun) dan masa remaja akhir (17–19 tahun). Pada masa remaja, banyak terjadi perubahan baik biologis, psikologis, maupun sosial. Tetapi umumnya proses pematangan fisik terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan.

Seorang remaja tidak lagi disebut sebagai anak kecil, tetapi belum juga dapat dianggap sebagai orang dewasa. Di satu sisi ia ingin bebas dan mandiri, lepas dari pengaruh orangtua, di sisi lain pada dasarnya ia tetap membutuhkan bantuan, dukungan serta perlindungan orangtuanya. Orangtua sering tidak mengetahui atau memahami perubahan yang terjadi sehingga tidak menyadari bahwa anak mereka telah tumbuh menjadi seorang remaja, bukan lagi anak yang selalu perlu dibantu. Orangtua menjadi bingung menghadapi emosi yang labil dan perilaku remaja, sehingga tidak jarang terjadi konflik di antara keduanya.

 

Perubahan Fisik dan Psikis

Memasuki masa pubertas, seseorang akan mengalami banyak perubahan fisik dan psikis (kejiwaan) terkait perubahan hormonal yang dialaminya. Kondisi fisik remaja akan berubah secara cepat dan dratis antara usia 11 dan 16 tahun. Diperlukan waktu beberapa saat untuk dapat beradaptasi dengan keadaan tersebut. Beberapa perubahan bahkan bisa menyebabkan minder atau malu, misalnya saja remaja putra yang malu karena suaranya berubah menjadi lebih besar, atau remaja putri yang malu karena mulai menstruasi dan menyadari bahwa ukuran payudaranya membesar.

Seluruh ukuran badan berubah, pada anak perempuan perkembangan pinggang menjadi kecil, pinggul membesar, sedangkan pada anak laki-laki bahu melebar. Ukuran muka juga berubah, terutama pada anak laki-laki. Hidung dan rahang menjadi lebih menonjol dan kening menjadi lebih tinggi. Pada tahap ini remaja tidak merasa seperti orang dewasa, atau belum siap tampil seperti orang dewasa.

Timbul kecemasan karena perubahan yang dialami tidak seperti yang diharapkan, atau tidak seperti teman-temannya. Semua perubahan ini disebabkan oleh hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipophise (khusus pada laki-laki adalah akibat hormon yang dihasilkan oleh testis dan anak perempuan hormon yang dihasilkan oleh ovarium) yang akan mempengaruhi tidak hanya pertumbuhan, tapi juga suasana perasaan (mood). Maka tidak heran jika remaja memiliki sifat yang labil (berubah-ubah), kadang sangat bersemangat, namun kadang sangat sensitif dan mudah tersinggung.

 

Remaja, Rentan Depresi

Orangtua perlu mewaspadai jika putra-putri mereka yang masih belia mulai menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada depresi. Perhatikan apakah anak tiba-tiba menjadi sangat pendiam, kehilangan minat dan kegembiraan, mudah lelah, aktivitasnya menurun, terus-menerus bersedih, merasa tidak berguna, konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, pesimis, mengalami gangguan tidur, dan nafsu makan berkurang. Jika mendapati keadaan yang seperti ini, hendaknya orangtua segera melakukan pendekatan pada anak, dengan mengajak bicara supaya mereka mau terbuka dan mengutarakan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Meskipun masalah yang mereka ceritakan nampaknya sepele, sebagai orangtua kita tidak boleh menganggap enteng, namun harus menenangkan dan memberi masukan positif.

Selalu ingatkan anak untuk makin mendekatkan diri pada Allah dan senantiasa memohon pertolongan dari-Nya. Bagi para orangtua yang tinggal berjauhan dengan anak, misalnya karena anak menuntut ilmu di pondok pesantren yang mengharuskan tinggal di asrama, hendaknya tetap menjaga komunikasi yang harmonis. Sempatkan untuk menelpon atau menjenguk jika memungkinkan. Pada kesempatan tersebut, jangan lupa untuk mendengarkan keluh kesah anak seputar masalah pelajaran, masalah dengan teman, atau masalah yang lainnya. Hendaknya orangtua tidak hanya menanyakan nilai pelajaran atau hafalan Qur’an, tapi juga diimbangi dengan perhatian pada masalah-masalah pribadi anak. Dengan perhatian yang diberikan orangtua, diharapkan anak tidak merasa sendirian dan tidak sampai mengalami depresi.

 

Jauhkan Dari Rokok dan Narkoba

Kondisi kejiwaan para remaja yang masih labil banyak dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Para remaja merupakan sasaran empuk bagi industri rokok dan obat-obatan terlarang (narkoba). Keingintahuan para remaja yang sangat besar dan keinginan mencoba hal-hal baru, terkadang justru menjerumuskan mereka pada hal-hal yang negatif. Tidak terlalu sulit untuk mengenali seseorang yang kecanduan rokok, karena biasanya bisa dikenali dari bau asap rokok yang menempel pada tubuh, rambut, dan pakaiannya. Perokok berat biasanya juga nampak dari warna bibir dan kulitnya yang kusam, serta gigi dan gusi yang kehitaman.

Tidak mengherankan jika seseorang yang sudah merokok pada usia belia biasanya akan lebih sulit melepaskan diri dari jeratan rokok ini. Dibutuhkan motivasi yang kuat jika ingin berhenti merokok. Mengingat gejala efek balik jika berhenti merokok akan muncul bertubi-tubi seperti mudah marah, keinginan kuat untuk kembali merokok, sulit berpikir dan sulit memusatkan perhatian, berbagai gangguan tidur, dan lain-lain. Hendaknya para orangtua bekerjasama dengan guru, ustadz, dan ustadzah di sekolah atau pondok pesantren tempat anak menuntut ilmu, senantiasa memberikan pengertian tentang bahaya mengonsumsi rokok dan narkoba. Dalam usaha membantu remaja meninggalkan kebiasaan merokoknya, hendaknya ditekankan supaya meniatkan karena Allah, dengan begitu insyaAllah remaja akan lebih termotivasi untuk meninggalkan rokok. Jika memang anak sudah terbukti punya kebiasaan merokok, selain berusaha menghentikannya, hendaknya segera memeriksakan kesehatan paru, jantung, dan organ lain yang kemungkinan terkena dampaknya.

Selain rokok, orangtua perlu mengenali tanda-tanda yang mengarah pada penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Sesekali orangtua perlu mengecek kamar anak jika dicurigai ada barang-barang yang sepertinya sengaja disembunyikan oleh anak. Perhatikan pula jika anak mulai sering mengurung diri di kamar, berlama-lama di kamar, tahan tidak makan seharian, ada bekas suntikan atau goresan yang tidak wajar di tubuhnya, sering meminta uang lebih tanpa alasan yang jelas, merosotnya prestasi sekolah anak secara drastis, sering membolos, penampilan lusuh, terkadang cadel, dan banyak membuat masalah. Jika memang terbukti anak menggunakan narkoba, segera lakukan tindakan untuk menjauhkan mereka dari barang tersebut. Selain bantuan secara medis, hendaknya orangtua melakukan introspeksi mengenai cara mendidik dan memberikan perhatian terhadap anak. Karena kehangatan dan dukungan keluarga mutlak diperlukan dalam proses kesembuhan dari ketergantungan terhadap narkoba.

 

Bekali dengan Ilmu Agama

Pergaulan yang makin bebas di kalangan remaja harus diantisipasi oleh para orangtua. Banyaknya remaja putri yang hamil di luar nikah dan makin banyaknya remaja yang menderita penyakit menular seksual (penyakit kelamin) merupakan dampak dari pergaulan bebas. Sudah menjadi kewajiban orangtua untuk membekali anaknya dengan ilmu agama. Islam sudah mengajarkan pembinaan dan pengajaran bagi orang tua dalam mendidik putra-putri mereka, antara lain dengan memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan ketika sudah menginjak usia 10 tahun, seperti yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika meninggalkannya apabila mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka”. Selain itu, orang tua hendaknya juga mengajari anak untuk meminta izin terlebih dahulu ketika akan memasuki kamar orangtua, yaitu supaya menghindarkan anak dari melihat aurat orangtua. Seperti yang disebutkan dalam Qur’an Surat An-Nur ayat 59, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Selain itu, orangtua juga bisa membiasakan anak untuk berpuasa sunnah, karena dengan berpuasa insyaAllah dapat lebih mengendalikan syahwatnya. Orangtua hendaknya menasihati anak untuk memilih teman yang baik dan menjauhi teman yang buruk supaya tidak ikut terpengaruh. Selain itu, hendaknya kita menjaga anak-anak kita dari pengaruh buruk media informasi, seperti televisi, internet, dan lainnya.

 

Peran Ibu Sangat Menentukan

Ayah dan ibu memang memiliki peran yang sangat besar bagi perkembangan putra-putrinya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kaum ibulah yang lebih banyak berperan dalam pendidikan di rumah, karena seorang ayah berkewajiban mencari nafkah sehingga tidak setiap waktu bisa mendampingi putra-putrinya di rumah. Terkhusus bagi kaum ibu, usahakan untuk memberikan waktu dan curahan perhatian yang lebih kepada putra-putrinya di rumah. Sebab, proses pendidikan seorang anak akan terus berlanjut dalam rentang waktu yang lama, sehingga tidak cukup jika hanya sebatas memberikan bimbingan sekilas dan ala kadarnya. Jika seorang ibu berpendidikan dan berilmu, maka alangkah indahnya jika sang ibu mendidik dan membesarkan putra-putrinya secara langsung. Sebab, mempercayakan pengasuhan dan pendidikan putra-putri kita sepenuhnya kepada pengasuh yang kurang berpendidikan, kurang mengenal ajaran islam dan memiliki akhlak yang kurang baik, tentu berdampak kurang bagus bagi perkembangannya. Terapkanlah ilmu dan pengetahuan yang kita miliki untuk membina dan mendidik buah hati kita. Tentu dengan banyak berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mudah-mudahan putra-putri kita akan tumbuh menjadi insan yang bertakwa, dan senantiasa mendapat perlindungan dari-Nya.

 

(dr. Avie Andriyani)

About Author

One Comment

  1. Saya sangat menyukai status ini .

Leave a Reply