Kisah : Jalan-Jalan ke Rumah Sakit Jiwa

/ Oleh / Kisah / 1 Comment

Aku mengadakan perjalanan ke suatu daerah untuk mengisi pengajian. Daerah itu terkenal dengan adanya sebuah rumah sakit besar khusus untuk orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan, atau yang dikenal dengan sebutan rumah sakit jiwa.

Pagi hari aku mengisi dua pengajian, kemudian aku keluar dan ada waktu sekitar satu jam sebelum tiba azan shalat dzuhur. Saat itu aku bersama ‘Abdul ‘Aziz, seorang da’i terkemuka. Saat kami berada di dalam mobil, aku menoleh kepadanya. Aku berkata, “’’Abdul ‘Aziz, di sana ada satu tempat yang ingin sekali aku datangi jika ada waktu senggang.”

Dia bertanya, “Di mana? Saudaramu Syaikh ‘Abdullah sekarang sedang musafir, sedangkan Doktor Ahmad, aku menghubungi beliau namun beliau tidak menjawab. Atau apakah Engkau ingin ke Perpustakaan Turotsiyah? Atau…”

Aku menjawab, “Bukan, aku ingin berkunjung ke rumah sakit jiwa.”

Beliau heran, “Orang-orang gila ?”

“Benar, orang-orang gila,” jawabku.

Beliau tertawa lalu berkata sambil bergurau, “Untuk apa?? Apakah engkau ingin memastikan akalmu?”

Aku menjawab, “Tidak, akan tetapi untuk mengambil manfaat dan pelajaran, agar kita mengetahui nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita.”

Beliau terdiam dan merenungi keadaan mereka. Aku merasakan beliau bersedih. Beliau adalah orang yang sangat berbelas kasih. Beliaupun membawaku ke tempat itu. Kami menjumpai bangunan seperti lorong-lorong yang dikelilingi pohon-pohon di setiap sudutnya. Kesedihan mulai muncul saat pertama kali melihatnya.

Seorang dokter datang menghampiri kami. Dia menyam-but kami dan membawa kami berjalah-jalan keliling rumah sakit. Dia membawa kami sambil bercerita tentang pasien-pasien di sana. Namun cerita-cerita itu tidaklah sama seperti melihat dengan mata kepala sendiri.

Dokter itu  membawa kami melewati suatu jalan. Aku mendengar suara di sana sini. Kamar pasien berjejer di sepan-jang jalan itu. Kami melewati ruangan di sebelah kanan kami. Aku melihat ke dalam, ada lebih dari sepuluh sekat kamar kosong tidak ada penghuninya. Kecuali satu saja, seorang laki-laki tersungkur dengan kedua tangan dan kakinya berguncang keras.

Aku memandangi sang dokter dan bertanya, “Apa ini?”

Dia menjawab, “Dia ini gila, dia menderita epilepsi yang kambuh setiap lima sampai enam jam sekali.”

Aku berkata, “Laa haula walaa quwwata illa billah. Sejak kapan dia seperti ini?”

“Sudah sepuluh tahun lebih,” jawabnya.

Aku memendam pelajaran penting dalam diriku. Aku terdiam melewatinya. Setelah berjalan beberapa langkah, kami melewati ruangan lain. Pintunya tertutup. Pada pintu itu terdapat celah-celah yang lebar, sehingga terlihat seorang laki-laki yang berada dalam ruangan itu. Dia menunjuk-nunjuk kami dengan isyarat yang tidak bisa dimengerti. Aku mencoba melihat isi dalam ruangan. Aku melihat tembok dan lantainya berwarna putih lunak.

Aku bertanya kepada dokter itu, “Apa ini?”

“Orang gila,” jawabnya.

Aku merasa  dia mempermainkan pertanyaanku. Aku ber-kata, “Aku tahu dia gila, seandainya tidak gila tidak mungkin kami melihatnya di sini, akan tetapi bagaimana bisa begini?”

Dia menjawab, “Orang ini apabila melihat tembok, dia meronta dan memukulnya dengan tangannya, terkadang dengan kakinya, dan kadang-kadang juga dengan kepalanya. Suatu hari tangannya cidera, hari berikutnya kakinya yang cedera, hari berikutnya kepalanya yang terluka, hari beri-kutnya tubuhnya yang lain, dan kami tidak bisa mengobatinya. Maka kami mengurungnya di ruangan seperti yang Anda lihat ini. Tembok dan lantainya dilapisi dengan busa,  dia memukulnya sesuka hatinya.”

Kemudian dokter itu diam, lalu kembali berjalan di sebe-lah kanan kami. Adapun aku dan temanku ‘Abdul ‘Aziz, kami berdua terus menerus bergumam, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari ujian berat yang menimpamu.”

Kami meneruskan perjalanan melewati ruangan-ruangan pasien. Sampai kami melewati suatu ruangan yang tidak mempunyai sekat-sekat kamar. Di dalamnya terdapat tiga puluh orang lebih. Setiap orang dari mereka sesuai keadaan-nya masing-masing. Ada yang berteriak, ada yang cuek, ada yang melongo, dan ada yang menari-nari. Namun ada tiga orang yang didudukkan di atas kursi dengan tangan dan kaki diikat. Tiga orang ini hanya bisa memandang sekililing mereka. Mereka ingin melepaskan tali ikatan tetapi tidak bisa.

Aku terheran, lalu aku bertanya kepada sang dokter, “Ada apa dengan mereka itu? Mengapa kalian mengikat mereka bertiga sementara yang lainnya tidak?”

Dia menjawab, “Mereka itu apabila melihat sesuatu di depannya mereka mengacak-acaknya. Mereka merusak jen-dela, korden, dan pintu. Karena itu kami mengikatnya dari pagi sampai sore.”

Aku bertanya, “Sejak kapan mereka seperti ini?”

Dia menjawab, “Yang satu sudah sepuluh tahun, yang satunya lagi sudah tujuh tahun, dan yang terakhir belum lama ini, belum sampai lima bulan.”

Aku keluar dari ruangan itu. Aku terus berpikir tentang mereka. Aku memuji Allah telah menyelamatkan aku dari apa yang menimpa mereka. Aku bertanya, “Di manakah pintu keluar rumah sakit?”

Dia  menjawab, “Ada lagi satu ruangan.. semoga di sana ada pelajran penting yang baru. Mari kita ke sana..!!”

Dia mengambil tanganku dan membawaku ke sebuah ruangan besar. Dia membuka pintu lalu masuk, aku ikut menemaninya. Ruangan itu mirip dengan ruangan yang aku lihat sebelumnya, dipenuhi oleh pasien. Setiap dari mereka sesuai keadaan masing-masing. Ada yang berjoget, ada yang tidur, ada yang.. dan seterusnya.

Tiba-tiba aku terkejut. Apa yang aku lihat?? Seorang laki-laki umurnya sekitar limapuluh tahun, rambutnya telah ber-uban,  berjongkok di lantai sembari menekuk kedua lutut ke dadanya.  Dia melirik  kepada kami dan menatap ketakutan. Semua ini nyata. Akan tetapi ada satu hal ganjil yang mem-buatku lebih terkejut bahkan geram, dia tidak berpakaian sama sekali bahkan tidak ada satupun kain yang mentupi aurat mughallazahnya (aurat besar).

Aku memalingkan wajah, kulitku menjadi pucat. Aku segera menghampiri dokter itu. Ketika melihat mataku yang memerah dia berkata, “Tenanglah, akan aku jelaskan kepada-mu keadaannya. Orang ini, setiap kali kami memberi pakaian kepadanya, dia menggigit dan merobeknya dengan gigi-giginya, lalu berusaha menelannya. Terkadang dalam satu hari kami memberikan pakaian lebih dari sepuluh kali, kondisinya sama saja. Maka kami membiarkannya kepanasan dan kedinginan dengan keadaan seperti ini. Sementara orang-orang di sekitarnya adalah orang-orang gila yang tidak menghiraukan keadaanya.”

Aku keluar dari ruangan itu. Aku tidak kuat untuk berkeliling lebih banyak lagi. Aku berkata kepada sang dokter, “Tunjukkan kepadaku pintu, pintu untuk keluar..!!”

“Masih ada beberapa ruangan yang tersisa,” jawabnya.

Aku berkata, “Cukup sudah apa yang kami lihat.”

Dia berjalan dan aku mengikuti di sampingnya. Dia me-milih jalan melewati ruangan-ruangan pasien, kami berdua hanya terdiam. Tiba-tiba dia menoleh kepadaku seakan-akan ada sesuatu yang terlupa ingin dia sampaikan.

Dia berkata, “Syaikh, di sini ada seorang laki-laki pengu-saha kaya. Dia memiliki uang ratusan juta. Dia mengalami gangguan jiwa lalu anak-anaknya membawanya dan mencam-pakkannya di sini semenjak dua tahun silam.  Di sini ada juga sorang laki-laki yang dulunya insinyur di sebuah perusahaan. Dan yang ke tiga adalah..”

Dokter tersebut menceritakan kepadaku beberapa orang yang dulunya mulia namun kini menjadi hina dan rendah. Yang lain dulu kaya namun kini miskin..dan lain-lain. Aku berjalan di antara ruangan-ruangan pasien sambil terus berpikir, Maha Suci Dzat yang telah membagikan  rizki di antara hamba-hamba-Nya, Dia memberikan rizki kepada siapa  yang dikehendaki-Nya dan menahan rizki dari siapa yang dikehendaki-Nya. Terkadang  Allah memberikan rizki kepada seseorang berupa harta, kedudukan, nasab, dan jabatan, akan tetapi Allah mencabut akalnya, sehingga Anda mendapatinya orang yang paling banyak hartanya, paling kuat tubuhnya, akan tetapi dia terpenjara di rumah sakit jiwa.

Terkadang Allah menganugerahkan rizki kepada seseorang berupa kedudukan yang tinggi, harta yang melimpah, dan akal yang cerdas, namun Allah tidak memberikan kesehatan kepadanya. Maka Anda temukan dia tergeletak di tempat tidurnya, sepuluh tahun  atau bahkan tiga puluh tahun. Harta dan kedudukan tidak banyak membantunya..

Di antara orang-orang ada yang Allah berikan kepadanya kesehatan, kekuatan, dan akal, namun Allah tidak memberikan harta kepadanya, sehingga Anda melihatnya sibuk meng-usap keringat di pasar-pasar, atau Anda melihatnya tidak punya apa-apa lagi miskin, berpindah-pindah di pinggir trotoar  hampir tidak menemukan tempat untuk menyandarkan tulang punggungnya.

Maka sepatutnya bagi orang yang mendapat ujian untuk mengetahui pemberian Allah kepadanya sebelum dia mengukur musibah yang menimpanya. Jika Allah tidak memberikan harta, sungguh Dia telah memberikan kesehatan kepadamu. Jika Allah tidak memberikan kesehatan, sungguh  Dia telah memberikan akal kepadamu. Dan apabila hal itu tidak engkau miliki, sungguh Allah telah memberikan Islam kepadamu. Alangkah beruntungnya dirimu jika engkau  hidup di atas Islam dan mati di atas Islam. Maka ucapkan dengan segenap yang ada padamu saat ini, dengan suaramu yang paling tinggi, ”Alhamdulillaaah..

Diambil dari buku ‘Aasyiqun.. Fii Gurfatil ‘Amaliyyaat..!! karya Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Arifi

Penerjemah : dr. Supriadi

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter

About Author

One Comment

  1. aiz says:

    Asswrwb,
    Ust.sgt sedih, miris membaca tulisan ini.Terutama bila bertemu/melihat golongan mereka di jalanan, ingin rasanya membawa mrk utk diobati.
    Sebetulnya orang sakit gila/epilepsi dpt disembuhkan dgn bacaan Al-Qur’an,
    karena Al-Qur’an adalah obat bagi hati sekaligus penyembuh segala penyakit

    Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
    و ننزل من القران ما هو شفاء و رحمة للمؤمنين
    “Dan Kami menurunkan Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Quran Surah Al-Isra`: 82)

    Insya Allah dgn terapi rukyah atau Sentuhan Spiritual mrk bisa pulih sehat lahir batin, bukan dirawat di RS jiwa. Perbuatan tsb justru memperparah keadaan, mrk sebetulnya hanya sempit jiwanya,kurang perhatian, kasih sayang sesama.

    Sy pernah melihat liputan di TV, ada relawan dr daerah Jawa Barat, mrk punya tempat khusus utk memulihkan jiwa orang2 gila dr jalanan dgn cara pendekatan dan kasih sayang.
    Org tsb.secara spontan melakukan sweeping di jalanan Bandung sekitarnya (kalau tdk salah), lgs dibawa ke tmp mrk dan alhamdulillah banyak yg sdh pulih dan membantu jadi relawan tsb.

    Bgmn ust kl kita yg tau ilmunya mengerahkan tenaga utk membantu sodara2 kita disana yg terkucilkan dari dunia luar spy pulih jiwanya?
    Sy bersedia mendukung dan sumbang saran bila diperlukan.

    wassalamu’alaikum wrwb.
    Maaf sekedar ref.bacaan perihal tsb.
    http://resepobatmahal.com/agama-islam/al-quran-obat-segala-penyakit-bag-i/

Leave a Reply