Lotus Birth: Antara Fakta Medis dan Kepercayaan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Zaman yang semakin maju ternyata tidak serta merta menyebabkan orang meninggalkan hal-hal yang bersifat alami. Fakta yang berkembang justru sebaliknya. Banyak orang yang tertarik untuk beralih kepada hal-hal yang bersifat lebih alami dalam banyak hal, seperti dalam pengobatan, termasuk juga teknik melahirkan. Setelah water birth dan hypnobirthing, saat ini muncul pula metode melahirkan bernama lotus birth, yaitu proses melahirkan bayi dengan tetap membiarkan plasenta terhubung dengan tali pusat bayi selama beberapa hari. Hal ini berarti plasenta dan tali pusat yang menempel di pusar bayi tidak langsung dipotong seusai persalinan, namun dibiarkan mengering dan terputus sendiri.

Metode melahirkan ini awalnya banyak dipraktekkan di negara Tibet yang beragama Budha, suku Aborigin di Australia, dan Bali, yang mayoritas beragama Hindu. Praktek oleh tenaga medis pertama kali diperkenalkan di Amerika, dan saat ini juga banyak dilakukan di Australia. Para ibu yang pernah melakukan lotus birth mengaku merasakan banyak manfaatnya, terutama manfaat psikologis, seperti kedekatan ibu dan bayi, kedamaian, ketenangan, dan perasaan tetap terhubung dengan bayinya walaupun bayi itu telah dilahirkan.

Selain manfaat psikologis, para penganjur lotus birth juga mempercayai beberapa manfaat metode ini, yaitu:

  1. Metode melahirkan ini lebih alami
  2. Bayi mendapat tambahan darah dari ibunya sekitar 100 ml, sehingga bayi tidak kekurangan hemoglobin, dapat mencegah bayi kekurangan zat besi,  dan membuat bayi memiliki kekebalan tubuh yang tinggi, karena diklaim bahwa darah yang masih mengalir dari plasenta dapat memberikan tambahan oksigen, makanan dan antibodi untuk bayi.
  3. Tambahan darah ini juga memastikan bayi mendapatkan pasokan darah yang cukup untuk jantung dan otaknya
  4. Dalam kepercayaan para praktisi lotus birth, plasenta juga merupakan bagian dari organ bayi yang tersambung dengan ibunya. Pemutusan paksa (dengan dipotong seperti yang dilakukan praktisi medis pada umumnya) dapat dikatakan sebagai perlakuan yang kurang manusiawi. Selain itu, lotus birth juga bisa dikatakan sebagai metode penghormatan terhadap bayi dan membiarkannya memasuki dunia dengan damai, tanpa paksaan.

Pada metode lotus birth, tali pusat bayi sama sekali tidak diklem dan dipotong hingga terlepas dengan sendirinya. Waktu lepasnya plasenta dan tali pusat ini dapat mencapai 3 sampai 10 hari, dan dalam waktu tersebut, ibu harus selalu membawa plasenta bersama bayinya. Plasenta biasanya  diletakkan dalam tempat seperti tupperware atau baskom, dengan diberi garam, wangi-wangian, atau rempah-rempah untuk mengurangi bau tidak sedap.  Meskipun diminati dan mulai banyak dipraktekkan, metode ini belum dilakukan di rumah sakit, melainkan hanya di klinik-klinik bersalin atau rumah-rumah bidan, karena dari sisi medis, metode ini masih belum diakui keefektifan dan keamanannya.

Menurut juru bicara Royal College of Obstetricians and Gynaecologist (RCOG) yang dimuat oleh Wikipedia, belum ada bukti yang mendukung adannya manfaat kesehatan bagi bayi yang dilahirkan dengan metode lotus birth. Sebaliknya, menurutnya, apabila dibiarkan selama beberapa saat setelah kelahiran, maka akan ada peningkatan risiko infeksi pada plasenta yang dapat menyebar ke tubuh bayi. Plasenta rentan terkena infeksi, karena mengandung banyak darah. Selain itu, setelah dilahirkan, plasenta merupakan  jaringan mati yang tidak dapat mengalirkan darah lagi. RCOG juga merekomendasikan bahwa bayi yang dilahirkan dengan metode lotus birth harus diawasi dengan seksama agar tidak mengalami infeksi.

Seperti yang diketahui, prosedur medis yang umum dilakukan ketika persalinan adalah memotong tali pusat dengan segera untuk mencegah perdarahan setelah melahirkan (postpartum hemorrhage). Manfaat dari tidak memotong tali pusat seperti yang dilakukan pada lotus birth belum didukung oleh data-data penelitian ilmiah, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh kepercayaan. Memang, terdapat beberapa penelitian tentang manfaat penundaan pemotongan tali pusat selama 1 sampai 3 menit setelah keluarnya bayi, atau setelah tali pusat berhenti berdenyut, terhadap kesehatan  bayi.

Hasil beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa penundaan pemotongan tali pusat  1 sampai 3 menit setelah kelahiran terbukti efektif dalam mencegah anemia pada bayi baru lahir hingga beberapa bulan setelahnya. Penundaan pemotongan plasenta ini terbukti meningkatkan kadar hemoglobin, kadar hematokrit, dan kadar simpanan besi (ferritin). Penundaan sampai 3 menit juga terbukti meningkatkan volume darah bayi sebanyak 20ml/kg BB dan penambahan kadar besi sebanyak 30-50mg/kg BB, sehingga bermanfaat dalam mencegah terjadinya anemia pada bayi baru lahir. Penundaan pemotongan tali pusat selama beberapa menit atau sampai plasenta berhenti berdenyut juga telah dipraktekkan pada bayi-bayi prematur, dan terbukti bermanfaat. Hal ini dikarenakan karena beberapa bayi prematur mengalami anemia, sehingga penundaan pemotongan tali pusat yang dapat membantu meningkatkan kadar hemoglobin dan volume sel darah merah bermafaat bagi mereka.

Beberapa permasalahan kesehatan bayi baru lahir yang dikhawatirkan juga diteliti pada penelitian tersebut, seperti: hiperbilirubinemia (peningkatan kadar bilirubin akibat peningkatan kadar hemoglobin dalam darah bayi), polisitemia (peningkatan persentase volume sel darah merah di dalam darah sampai 65% atau lebih), transient tachipnea (peningkatan frekuensi nafas bayi baru lahir akibat keterlambatan penyerapan cairan paru-paru), dan perdarahan pasca melahirkan. Akan tetapi, hampir semua penelitian tidak dapat membuktikan hubungan yang signifikan antara penundaan pemotongan tali pusat selama 1-3 menit dengan timbulnya berbagai gangguan kesehatan tersebut.

Berdasarkan fakta-fakta medis yang ada, dapat disimpulkan sementara bahwa belum ada pedoman medis tentang waktu yang tepat untuk pemotongan tali pusat, akan tetapi, terdapat beberapa bukti bahwa penundaan pemotongan tali pusat selama 1 sampai 3 menit ternyata bermanfaat bagi bayi baru lahir dan tidak menimbulkan efek yang membahayakan baik bagi ibu dan bayi. Sedangkan membiarkan tali pusat selama beberapa hari seperti dalam metode lotus birth belum dapat diakui secara ilmiah. Selain itu, ternyata  praktek ini juga berasal dan berkembang dari kepercayaan orang-orang di luar agama  Islam. Jadi, bagi Anda yang mulai melirik metode ini, ada baiknya untuk mempertimbangkan kembali antara manfaat dan kerugiannya.

Penulis : dr. Liz Marisa

*****

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.