Memohon Perlindungan Dari Pengaruh Sihir, ‘Ain, dan Dengki

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sesungguhnya di antara penyakit yang membahayakan dan membawa keburukan yang besar adalah penyakit yang menimpa manusia yang disebabkan pengaruh sihir atau sifat dengki. Sihir memiliki pengaruh yang amat besar terhadap orang yang disihir, terkadang orang yang disihir bisa sakit dan terkadang bisa meninggal dunia. Demikian halnya pandangan mata orang yang dengki, apabila jelek jiwanya dan telah berkumpul keburukan dalam hatinya maka pandangan matanya bisa menimbulkan mudharat terhadap orang yang dia dengki. Dengki itu benar-benar ada dan pengaruhnya juga ada.

Di antara bentuk nikmat Allah kepada hamba-Nya yang beriman, Allah menyiapkan bagi hamba-Nya sebab-sebab yang membawa berkah dan perkara-perkara bermanfaat yang dapat menolak kejahatan orang-orang dengki serta menghilangkan bahaya dan bencana yang mereka timbulkan. Ibnu Qayyim rahimahullah telah menjelaskan dengan sangat bagus sepuluh sebab besar,  apabila diamalkan dan dipraktekkan oleh seorang hamba maka dia akan terhindar dari kejahatan orang yang dengki dan tukang sihir.

Sebab pertama: Memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan pendengki, memperbagus doa tersebut dan berlindung diri kepada-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5) [الفلق: 1-5]

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (Al-Falaq: 1-5)

Allah Ta’ala Maha Mendengar orang yang memohon perlindungan kepada-Nya, Maha Mengetahui perkara yang dimintakan perlindungan, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah Dzat satu-satunya Yang dimintai perlindungan. Tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang layak dimintai perlindungan dan tidak ada seorangpun selain-Nya yang layak sebagai tempat berlindung. Namun Dialah Allah Pelindung orang-orang yang memohon perlindungan, menyelamatkan dan menjaga mereka dari keburukan yang mereka mintakan perlindungan.

Hakikat isti’adzah (memohon perlindungan) adalah lari menyelamatkan diri dari sesuatu yang engkau takutkan kepada Dzat yang bisa menyelamatkan dan menjagamu dari hal tersebut. Tidak ada yang bisa menjaga seorang hamba dan tidak ada yang kuasa melindunginya kecuali Allah. Allah Yang Maha Suci sudah cukup bagi orang yang bertawakkal kepada-Nya. Allah sudah cukup bagi orang yang berlindug diri kepada-Nya. Dialah Allah Dzat yang memberi keamanan bagi orang-orang yang takut. Dialah Allah yang menolong orang-orang yang teraniaya. Dialah Allah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Sebab kedua; Bertakwa kepada Allah. Takwa kepada Allah dan menjaga-Nya adalah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Allah sendiri yang akan menjaganya dan Allah tidak akan menyerahkannya kepada orang lain. Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ [آل عمران: 120]

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali-‘Imran: 120)

Rasulullah bersabda kepada Ibnu Abbas ,

اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ،

Jagalah Allah niscaya Dia menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu.

Maka barangsiapa menjaga Allah niscaya Allah akan menjaga-Nya dan dia akan menemukan Allah di hadapannya ke arah manapun dia menghadap. Barangsiapa dijaga oleh Allah dan Allah berada di hadapannya, lantas siapakah yang  membuatnya takut?

Sebab ketiga : Bersabar atas permusuhan orang yang dengki tersebut, tidak membunuhnya, tidak melaporkannya, dan tidak seharusnya menceritakan gangguan orang tersebut kepada orang lain. Tidak ada yang lebih membantu menghadapi pendengki dan orang yang memusuhi semisal bersabar terhadap orang tersebut. Setiap kali kebenciannya bertambah maka kebenciannya itu menjadi tentara dan kekuatan bagi orang yang dia benci. Dengan kebenciannya itu tanpa sadar sebenarnya dia telah memubunuh dirinya sendiri. Kebencian itu adalah anak panah yang dia lepaskan dari dalam hatinya dan kembali mengenai dirinya sendiri.

وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ [فاطر: 43]

Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” (Faathir: 43)

Sebab keempat; Bertawakkal kepada Allah. Barangsiapa bertawakkal kepada Allah maka Allah yang akan mencukupinya. Tawakkal adalah sebab paling kuat yang bisa dipergunakan seseorang untuk menolak gangguan makhluk, kezhaliman, atau permusuhan mereka. Barangsiapa dicukupi oleh Allah, maka tidak ada satupun bagian musuh untuk mencelakakannya. Seandainya seorang hamba bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, hampir-hampir langit dan bumi dan orang-orang yang ada di dalamnya membuatkan jalan keluar untuknya, mencukupi keperluannya, dan menolongnya.

Sebab kelima; Mengosongkan hati agar tidak sibuk memikirkan orang yang dengki kepadanya, menghapus orang tersebut dari ingatan setiap kali terbesit dalam fikiran. Tindakan ini merupakan obat yang sangat bermanfaat dan sebab yang kuat untuk menolak kejahatan orang yang dengki. Sesungguhnya hal ini ibarat orang yang sangat diinginkan oleh musuhnya untuk ditangkap dan disiksa. Ketika musuh itu tidak menemukannya, baik dia dan musuh tidak bisa saling memegang, bahkan dia menjauh sehingga musuhpun tidak dapat menemukannya.  Namun apabila keduanya saling tarik-menarik dan masing-masing saling terikat dengan lawannya maka di situlah timbul keburukan. Demikianlah keadaan ruh-ruh yang jahat. Apabila masing-masing ruh saling tarik-menarik dengan yang lain maka ruh-ruh itu akan goyah dan keburukan akan menetap sampai salah satu dari keduanya binasa. Barangsiapa menarik kembali ruhnya dan menjaganya dari memikirkan orang yang dengki kepadanya dan tidak terikat dengan orang tersebut, sebaliknya dia menyibukkan fikirannya dengan perkara yang lebih bermanfaat, maka orang yang dengki tersebut akan memakan dirinya sendiri. Sesungguhnya dengki itu seperti api, apabila tidak menemukan sesuatu yang dapat dibakar, dia akan membakar dirinya sendiri.

Sebab keenam; Segera kembali kepada Allah, ikhlas kepada-Nya, mencintai-Nya, mengharap keridhaan-Nya, dan bertaubat kepada-Nya dalam setiap keadaan, baik di saat takut maupun di saat aman. Dia melewati saat-saat menakutkan sedikit demi sedikit sampai dia mampu mengatasi ketakutan tersebut, menguasainya, lalu menghilangkan seluruhnya. Maka yang tejadi bahwa ketakutan, kebimbangan, maupun saat-saat aman, semuanya dalam kecintaan kepada Allah, berdzikir kepada-Nya dan memuji-Nya. Allah Ta’ala berfirman tentang Iblis musuh-Nya,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83) [ص: 42-43]

Iblis menjawab, “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shaad: 82-83)

Orang yang ikhlas ibarat orang yang berlindung dalam sebuah benteng kokoh. Tidak akan ada ketakutan bagi orang yang berlindung dalam benteng tersebut, dan tidak akan binasa orang yang berlindung di dalamnya, serta tidak ada kesempatan bagi musuh untuk mendekatinya.

Sebab ketujuh; Bertaubat kepada Allah dari dosa yang menyebabkan musuh bisa menguasainya. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ[الشورى:30]

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (As-Syuraa: 30).

Tidaklah sesorang hamba dapat dikuasai oleh orang yang mengganggunya kecuali karena dosa yang telah diperbuat, baik diketahui ataupun tidak. Dosa yang tidak diketahui seorang hamba jauh lebih banyak dari dosa yang diketahuinya. Dosa yang yang dia lupakan jauh lebih banyak dari dosa yang dia ingat. Dalam sebuah doa yang masyhur, Nabi berdoa,

الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَ أَنَا أَعْلَمُ وَ أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ،

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari memper-sekutukan-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa mempersekutukan-Mu dalam keadaan aku tidak mengetahuinya.”[1]

Maka kebutuhan seorang hamba untuk memohon ampun dari dosa yang tidak diketahuinya jauh lebih besar. Tidaklah dia diganggu kecuali karena dosa. Tidaklah terjadi keburukan di alam ini kecuali karena dosa. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba apabila disakiti, diganggu, dan dikuasai oleh orang yang memusuhinya daripada taubat nasuha dari dosa yang menyebabkan musuh mampu menguasainya.

Sebab kedelapan; Bersedekah dan berbuat baik kepada orang lain semampunya. Sesungguhnya sedekah mempunyai pengaruh mengagumkan dalam menolak bencana, ‘ain, dan kejahatan orang yang dengki. Apabila hal tersebut mengenainya, hendaklah dia bermuamalah dengan lemah lembut, menolong dan membantu orang lain, sehingga pada akhirnya dia mendapatkan kesudahan yang terpuji. Bersedekah dan berbuat baik kepada orang lain merupakan bentuk syukur terhadap nikmat Allah. Bersyukur adalah berusaha kuat menjaga nikmat tersebut dari semua hal yang bisa melenyapkannya.

Sebab kesembilan; Memadamkan api kebencian orang yang dengki, benci, dan yang menyakitinya dengan berbuat baik kepada orang tersebut. Setiap kali bertambah gangguan, kejahatan, kebencian, dan kedengkiannya, maka hendaklah bertambah pula kebaikan kita kepada orang tersebut, serta menasehati dan mengasihinya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)[فصلت: 34-35]

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fusshilat: 34-35).

Dalam hal ini, renungkanlah keadaan Nabi kita Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengeluh kesakitan tatkala kaumnya melemparinya dengan batu membuat beliau terluka dan mengucur darah dari tubuh beliau. Beliau berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ،

“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu.” (H.R Bukhari dan Muslim)

Sebab kesepuluh: Memurnikan tauhid dan membawa fikiran kepada Dzat Yang Menciptakan segala sebab, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Mengilmui bahwa segala sesuatu tidak dapat mendatangkan mudharat ataupun manfaat kecuali dengan seizin Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ [يونس: 107]

Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya.” (Yunus: 107)

Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ إِلَّا قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَاِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ،

“Ketahuilah, seandainya ummat ini bersatu untuk memberi suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan apa yang Allah tetapkan untukmu.” (H.R Tirmidzi, shahih)

Apabila seseorang telah memurnikan tauhid, maka sungguh telah pergi dari hatinya rasa takut kepada selain Allah, bahkan dia mengesakan Allah dalam hal rasa takut, dan dia meyakini bahwa menggunakan fikirannya untuk memikirkan tipu daya orang yang memusuhinya dan sibuk dengan orang itu dapat mengurangi tauhidnya. Sebaliknya, jika dia memurnikan tauhidnya maka dia hanya sibuk dengan Allah, maka Allah sendiri yang akan menjaganya dan menolak bahaya darinya.

Sesungguhnya Allahlah yang menjaga orang-orang beriman. Jika dia beriman, maka pasti Allah menjaganya. Penjagaan Allah tergantung kadar keimanannya. Jika imannya sempurna, sempurna pula penjagaan Allah kepadanya. Jika keimanannya berubah-ubah akan berubah-ubah pula  penjagaan Allah kepadanya. Jika keimanannya sesekali, maka penjagaan Allah kepadanya sesekali juga. Sebagaimana perkataan salah seorang salaf, “Barangsiapa menghadap Allah secara total, maka Allah akan menghadap kepadanya (menolongnya) secara total. Barangsiapa berpaling dari Allah secara total maka Allah akan berpaling darinya secara total. Barangsiapa menghadap Allah sesekali, maka sesekali pula Allah akan menolongnya.”

Tauhid adalah benteng Allah yang paling agung. Barangsiapa masuk ke dalamnya maka ia termasuk orang-orang yang aman. Sebagian salaf berkata, “Barangsiapa yang takut kepada Allah maka segala sesuatu akan takut kepadanya. Sebaliknya barangsiapa yang tidak takut kepada Allah, Allah akan membuatnya takut kepada segala sesuatu.”

Inilah sepuluh sebab agung yang dapat menolak kejahatan pendengki dan para tukang sihir.(Lihat Bada’iul Fawaid).  Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia agar menyelamatkan kita dan kaum muslimin dari semua kejahatan. Sesunggunya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

Diambil dari kitab At-Tabyiin li Da’awatil Mardha wal Mushabii karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Penerjemah : dr. Supriadi

*****

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

Share.

About Author

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Alhamdulillah di sela-sela kuliah bisa ikut belajar Bahasa Arab di Madrasah Imam Ahmad bin Hambal Semarang. Aktivitas saat ini sebagai dokter umum di RSUD Propinsi di Sumbawa Besar dan aktif menulis artikel kesehatan Islam.

3 Comments

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.