Mengapa Kita Harus “Berperang” Melawan Antivaks?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Setiap kali pemerintah meluncurkan program imunisasi, atau ketika diadakan bulan imunisasi, diskusi pro dan kontra vaksinasi kembali mengemuka. Tidak jarang kita jumpai diskusi-diskusi “panas” di media sosial, antara dokter (tenaga kesehatan) dengan para penentang vaksinasi (antivaks). Sampai-sampai beberapa teman mempertanyakan mengapa kita (dokter dan tenaga kesehatan secara umum) seolah-olah terus-menerus membahas antivaks? Seakan-akan tidak ada yang lebih penting untuk dibahas. Sebagian lagi menuduh kita menjadi ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap masalah vaksin.

Perlu diketahui, kalau pembaca sekalian suka dan gemar membaca jurnal-jurnal “top” dalam bidang kesehatan semacam The New England Journal of Medicine (NEJM), Pediatrics, Proceedings of the National Academy of Sciences USA (PNAS), Vaccines, dan sebagainya, niscaya para pembaca akan mengetahui bahwa topik “antivaccionist” atau “anti-vaccination activist” ini merupakan salah satu topik yang akan sering kita jumpai.

Mengapa demikian?

Karena hakikatnya, perang mereka (antivaks) melawan program vaksinasi hanyalah “simbol”. Karena vaksin merupakan program kesehatan yang diterapkan secara luas di berbagai negara, baik negara maju atau berkembang, baik negara muslim atau non-muslim. Yang mereka lawan sebetulnya adalah ilmu kedokteran medis secara umum. Bahkan lebih dari itu, yang mereka lawan adalah ilmu pengetahuan (sains) itu sendiri.

Oleh karena itu, pemikiran-pemikiran antivaks akan menimbulkan kerusakan kolateral ke mana-mana, di berbagai sektor kesehatan, tidak hanya urusan vaksin dan pengendalian penyakit infeksi saja. Akan tetapi, juga masalah-masalah terkait kesehatan secara umum.

Lihat bagaimana sepak terjang Joseph Mercola, tokoh utama antivaks US. Melalui website pribadinya (mercola.com), dia menjual berbagai macam produk kesehatan yang belum terbukti efektivitas dan keamanannya, demi keuntungan pribadinya.

Lihat pula bagaimana dulu antivaks menggunakan isu merkuri dalam vaksin sebagai alat untuk menjual bahan-bahan “mercury chelating agents” (semacam EDTA). Bahan ini harus disuntikkan untuk mengikat dan membuang merkuri yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh melalui vaksin, begitu kata (klaim) mereka. Padahal, bahan-bahan ini berbahaya dan bisa menimbulkan kematian akibat gangguan irama jantung. Selain itu, bukti-bukti ilmiah sebetulnya menunjukkan bahwa kandungan merkuri dalam vaksin tidaklah berbahaya. Akibatnya, sekian banyak korban meninggal di US akibat penggunaan EDTA pada masa kampanye antivaks merajalela.

Lalu, lihat bagaimana pemikiran Ummu Salamah (Dewi Hestyawati, SH.), salah satu tokoh antivaks di Indonesia. Dia merencanakan uji coba habbatus sauda dengan cara menyuntikkan langsung sari habbat atau sari kurma ke dalam pembuluh darah intravena. Kalau rencana ini berhasil diwujudkan oleh mereka, berapa banyak masyarakat yang akan menjadi korban?

Pemikiran antivaks pun akhirnya meluas menjadi kampanye anti-medis secara umum.

Anak sakit mata, jangan ke dokter mata, cukup diberi tetesan (digempur) ASI. Anak sakit telinga, jangan ke dokter THT, cukup diberi tetesan ASI. Anda mengidap katarak, tidak perlu operasi, cukup diberi tetesan (direndam) madu.

Anda mau melahirkan? Jangan ke rumah sakit. Cukup di rumah dengan kekuatan iman dan tawakkal Anda bisa melahirkan sendiri. Itulah seorang “ibu yang hebat”.

Anak Anda mengidap kanker, tidak perlu kemoterapi, cukup diberi obat-obatan herbal. Padahal, kita mengetahui bahwa untuk mengatasi kanker tidak hanya perlu obat, tapi juga perlu nutrisi yang cukup.

Betapa banyak kita jumpai, anak-anak yang tidak mendapatkan perawatan kesehatan sebagaimana mestinya, hanya karena menjadi korban pemikiran antivaks orang tuanya?

Jadi, ketika saat ini dokter dan tenaga kesehatan lainnya seolah “berperang” melawan antivaks, itu juga hanyalah “simbol” untuk memerangi berbagai “hoax medis” secara umum. Tujuannya tidak lain hanyalah agar masyarakat Indonesia mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan layak, baik yang sifatnya pencegahan atau penyembuhan (terapi). Juga agar masyarakat terselamatkan dari berbagai iklan hoax medis yang semakin merajalela dewasa ini.

 

***

Diselesaikan di pagi hari, Rotterdam NL 23 Dzulqa’dah 1438/16 Agustus 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Referensi:

  1. Poland GA, Jacobson RM. The age-old struggle against the antivaccinationists. N Engl J Med 2011; 364(2): 97-99.
  2. Leask J. Should we do battle with antivaccination activists? Public Health Res Pract 2015; 25(2): e2521515.
  3. Hakim MS et al. Imunisasi, Lumpuhkan Generasi? Menjawab Tuduhan Ummu Salamah, SH., Hajjam. Penerbit Pustaka Muslim, Yogyakarta tahun 2016.
  4. Hakim MS et al. Islam, Sains, dan Kesehatan: Metode Islam dan Sains dalam Mengungkap Kebenaran. Penerbit Pustaka Muslim, Yogyakarta tahun 2016.
Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply