Mengatasi Sakit Gigi dengan Ibuprofen

/ Oleh / Konsultasi / No comments

Assalamu alaikum dokter,
Maaf ingin menanyakan apakah saat sakit gigi, boleh memakai obat anti nyeri ibuprofen?dan apa sebenarnya obat ibuprofen itu sebenarnya?Terimakasih
(Fulan, 085641 xxx xxx)


Alaykumus salam wr wb.
Terimakasih atas pertanyaannya. Sebetulnya hal yang harus dilakukan apabila sakit gigi adalah segera membawanya ke dokter gigi. Karena di dokter gigi nanti akan di periksa dan ditegakkan diagnosis dari sakit giginya. Mengenai menggunakan ibuprofen itu boleh untuk penahan nyeri dan sifatnya sementara. Misal anda tengah malam nyeri gigi silahkan menggunakan anti nyeri tersebut, tetapi pagi nya segera ke dokter gigi untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Apa itu Ibuprofen?

Ibuprofen merupakan derifat asam propionat dan merupakan analgesia non opioid. Ibuprofen dapat diberikan secara oral dengan potensi 200 hingga 800 mg. Dosis yang biasa digunakan pada dewasa adalah 400 sampai 800 mg tiga kali sehari.

Obat ini bersifat analgesik dengan daya anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Obat ini diabsorbsi cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma darah (peak plasma level) dicapai setelah satu sampai 2 jam. Sembilan puluh persen Ibuprofen terikat dalam protein plasma dengan waktu paruh dalam plasma sekitar dua jam.Ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap.

Sekitar 90% dari dosis yang diabsorpsi akan diekskresi melalui urin sebagai metabolit atau konjugatnya, dimana metabolit utama merupakan hasil hidroksilasi dan karboksilasi. Sebagai obat anti inflamasi non steroid (AINS) derivat asam propionat, Ibuprofen hampir seluruhnya terikat pada protein plasma.

Efek interaksi misalnya penggeseran obat warfarin dan oral hipoglikemik hampir tidak ada. Namun tetap perlu diwaspadai pada pemberian bersama dengan warfarin karena adanya gangguan fungsi trombosit sehingga dapat memperpanjang masa perdarahan.

Obat ini juga dapat mengurangi efek diuresis dan natriuresis dari obat furosemid dan tiazid, serta mengurangi efek antihipertensi obat β-bloker, prazosin, dan kaptopril. Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan beberapa AINS lain seperti aspirin, indometasin, atau naproksen. Efek samping lainnya yang jarang terjadi ialah eritema kulit, sakit kepala, trombositopenia, serta ambliopia toksik yang reversibel.

Ibuprofen sebaiknya tidak digunakan pada pasien dengan riwayat ulkus peptikum atau tidak tahan terhadap aspirin. Deuben mengungkapkan kemungkinan cara kerja analgesika non opioid sebagai mengganggu metabolisme membran fosfolipid.

Pada jaringan yang mengalami kerusakan, komponen fosfolipid dari membran sel yang mengalami injuri melepaskan asam arakidonik secara enzimatis. Kemudian siklooksigenase menyebabkan asam arakidonik membentuk prostaglandin, prostasiklin, dan tromboksan. Analgesika non opioid mengganggu putaran ini pada tingkat siklooksigenase dan mengurangi sintesis prostaglandin.

Hasilnya adalah pengurangan atau penghilangan rasa sakit. Penelitian terbaru telah difokuskan pada pembentukan protokol analgesik yang optimal untuk mengendalikan nyeri ortodontik. Setelah Ngan dkk membandingkan Ibuprofen, aspirin, dan pemberian efek plasebo, disimpulkan bahwa Ibuprofen merupakan analgesik pilihan untuk mengurangi nyeri selama perawatan ortodontik.

Dari hasil penelitiannya, Law dkk menemukan bukti efektivitas penggunaan Ibuprofen preemtif untuk menangani ketidaknyamanan setelah pengangkatan ortodontik. Atas dasar temuan ini, maka pemberian Ibuprofen preemptif secara signifikan dapat mengurangi beratnya nyeri ortodontik.


Penyusun : dr. M. Wiwid Santiko

About Author

dr. M. Wiwid Santiko

Medical, Research and Qur'an. Alumni Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Semoga Anda mendapat manfaat dari Tulisan dan Website ini. Mengakar kuat, Menjulang Tinggi.

View all posts by dr. M. Wiwid Santiko »

Leave a Reply