Mengenal Infeksi Virus Hepatitis D (VHD)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Virus hepatitis D (VHD), disebut juga dengan hepatitis delta, adalah salah satu jenis virus yang dapat menyebabkan infeksi pada hati (liver). Uniknya, virus ini membutuhkan “kehadiran” virus hepatitis B (VHB) untuk tetap bertahan hidup. Sehingga infeksi VHD tidak dapat terjadi tanpa adanya infeksi VHB. Jika seseorang terinfeksi dua virus ini sekaligus, kondisi ini disebut dengan ko-infeksi VHB-VHD. Diperkirakan sekitar 5% pasien yang terinfeksi VHB juga terinfeksi VHD, sehingga di seluruh dunia terdapat sekitar 15-20 juta orang yang terinfeksi VHD.

VHD dilaporkan pertama kali tahun 1977 setelah diisolasi dari pasien Italia yang mengalami infeksi VHB. Infeksi VHD dapat bersifat akut (jangka pendek) atau kronis (jangka panjang). Ko-infeksi kronis VHB-VHD merupakan infeksi liver yang paling berbahaya, karena ko-infeksi VHB-VHD akan menyebabkan kerusakan liver (sirosis) secara cepat dan akhirnya berkembang menjadi kanker hati (karsinoma hepatoseluler). Pada sebagian kecil pasien, bahkan dijumpai infeksi tiga virus sekaligus, yaitu ko-infeksi VHB-virus hepatitis C (VHC)-VHD.

Metode penularan

Penularan VHD sama seperti VHB dan VHC, yaitu melalui jalur kulit (misalnya, melalui penggunaan jarum suntik atau adanya luka terbuka di kulit), melalui penularan seksual, darah yang terinfeksi dan produk darah yang transfusi darah. Penularan vertikal dari ibu ke janin selama periode kehamilan mungkin saja terjadi, meskipun jarang. Sebagaimana yang sudah kami sebutkan di atas, vaksinasi hepatitis B dapat mencegah infeksi VHD sejak tahun 1990-an. Keberhasilan vaksinasi VHB turut berperan penting dalam menurunkan angka kejadian infeksi VHD.

Sehingga beberapa kelompok orang berikut ini memiliki risiko terinfeksi VHD:

  1. Penderita karier VHB, yaitu mereka yang terinfeksi VHB namun tidak menunjukkan gejala.
  2. Orang yang tidak memiliki imunitas (kekebalan) terhadap VHB, baik imunitas karena infeksi alami atau karena vaksin hepatitis B.
  3. Pengguna obat-obat terlarang yang memakai jarum suntik. Pada kelompok pengguna obat-obatan terlarang, angka kejadian VHD sangatlah tinggi.
  4. Aktivitas seksual yang berisiko, seperti pada pekerja seks komersial.
  5. Adanya perpindahan penduduk dari area dengan endemisitas VHD yang tinggi. Adanya migrasi penduduk ke Eropa Barat telah menyebabkan peningkatan angka kejadian VHD di kawasan ini.

Metode pencegahan

Pencegahan merupakan aspek penting dalam menghadapi infeksi VHD. Karena jika sudah terinfeksi VHD, angka keberhasilan terapi dengan obat-obatan medis saat ini sangatlah rendah.

Karena hanya dapat hidup jika ada infeksi VHB, vaksin hepatitis B merupakan metode pencegahan yang paling efektif terhadap infeksi VHD. Metode lainnya adalah memastikan keamanan produk darah yang akan digunakan untuk transfusi darah dan juga melakukan injeksi (suntikan) dengan aman dan steril.

***

@Erasmus MC NL Na-1001, 16 Dzulqa’dah 1439/ 31 Juli 2018

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.

 

Referensi:

Niro GA et al. Epidemiology and diagnosis of hepatitis D virus. Future Virol 2012; 7(7): 709-717.

http://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hepatitis-d

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply