Mengenal Malnutrisi Pada Anak

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Malnutrisi adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh diet yang tidak tepat atau tidak mencukupi. Malnutrisi merupakan kategori  penyakit yang mencakup: kekurangan gizi (undernutrition), obesitas dan berat badan lebih (overweight),  serta kekurangan nutrien mikro (micronutrients deficiency, yang dikenal juga dengan “hidden hunger”).

Malnutrisi pada  anak-anak  akan sangat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangannya, karena pada usia inilah zat-zat gizi sangat diperlukan untuk membangun tubuh yang sehat dan mental yang kuat. Lebih dari itu, malnutrisi pada usia ini juga dapat berdampak pada munculnya berbagai penyakit ketika anak tumbuh menjadi remaja atau dewasa.

Kapan Seorang Anak Dicurigai Mengalami Malnutrisi?

Seorang anak dapat dicurigai mengalami malnutrisi apabila tidak memenuhi ciri-ciri anak bergizi baik. Ciri-ciri anak bergizi baik adalah: semakin bertambah umur, semakin bertambah padat dan bertambah tinggi, postur tubuh tegap dan otot padat, rambut berkilau dan kuat, kulit dan kuku bersih dan tidak pucat, wajah ceria, mata bening dan bibir segar, gigi bersih dan gusi merah muda, nafsu makan baik dan buang air besar teratur, bergerak aktif dan berbicara lancar sesuai umur, penuh perhatian dan bereaksi aktif, serta dapat tidur dengan nyenyak. Secara mudah, malnutrisi pada anak dapat dikenali dengan adanya perkembangan fisik yang rendah. Misalnya, tubuh anak terlalu pendek untuk anak seusianya, terlalu kurus, atau terlalu gemuk.

Malnutrisi yang Banyak Terjadi pada Anak-Anak

Bila menengok kembali definisi di atas, jenis malnutrisi dapat bermacam-macam, tergantung nutrisi apa yang kurang atau berlebih. Akan tetapi, pada pembahasan ini hanya akan dibahas dua jenis malnutrisi yang berhubungan langsung dengan status gizi yaitu: kurang gizi  dan berat badan berlebih.

1. Kurang Gizi (Undernutrition)

Kurang gizi pada bayi dan anak banyak disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kebutuhan gizi (AKG). Tanda kurang gizi  pada bayi dan anak adalah berat badan yang lebih rendah dari anak seusianya, berat badan bayi tidak naik selama 3 bulan, anak sering sakit, kurang aktif, dan rewel. Selain itu, biasanya anak juga memiliki tinggi atau panjang badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan yang kurang dibandingkan anak normal.

Deteksi adanya kekurangan gizi dapat dilakukan melalui,  penimbangan dan pengukuran panjang/ tinggi badan  anak secara teratur pada pusat-pusat pelayanan kesehatan. Melalui penimbangan dan pengukuran ini dapat diketahui Berat Badan anak menurut umur (BB/U), tinggi badan anak menurut umur (TB/U), dan berat badan anak menurut tinggi badan (TB/U), sehingga dapat ditentukan status gizinya apakah normal, kurus (underweight), ataukah gemuk (overweight).

Penilaian hasil pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan grafik pada kartu KMS (secara sederhana) atau dengan tabel WHO NCHS (National Center for Health Statistic). Apabila menggunakan kartu KMS, cara penilaiannya adalah dengan mencocokkan umur anak dan memplotkannya pada kurva berat badan. Bila masih dalam garis hijau berarti status gizi anak tersebut baik, sedangkan bila di bawah garis merah berarti status gizinya buruk.  Standar pengukuran lain yang banyak dipakai adalah standar WHO- NCHS dari Amerika Serikat, yaitu:

1. Kurang Gizi ringan bila berat badan menurut umur (BB/U) = 80-70% baku median WHO-NCHS dan/atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) = 90-80% baku median WHO­-NCHS

2. Kurang Gizi sedang bila berat badan menurut umur (BB/U) = 70-60% baku median WHO-NCHS dan/atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) = 80-70% baku median WHO­-NCHS

3. Kurang Gizi berat bila berat badan menurut umur (BB/U) = < 60% baku median WHO-NCHS dan/atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) < 70% baku median WHO-NCHS

Kurang gizi ringan yang terus menerus akan menyebabkan kekurangan gizi berat (gizi buruk) dengan manifestasi berupa: kwashiorkor, marasmus, dan marasmik-kwash­iorkor. Pada kwashiorkor anak akan tampak mengalami edema atau bengkak, umumnya pada seluruh tubuh, terutama pada kaki (dorsum pedis), wajah membulat dan sembab, pandangan mata sayu, rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok, perubahan status mental seperti cengeng, rewel, atau kadang apatis, pembesaran hati, otot mengecil (hipotrofi) yang lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk, kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkupas (crazy pavement dermatosis), dan sering disertai infeksi, anemia, dan diare. Pada marasmus, anak tampak sangat kurus, hingga tulang terbungkus kulit, wajah seperti orang tua, sering cengeng dan rewel, kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada, perut cekung, serta sering disertai penyakit kronik, seperti diare kronik. Sedangkan pada marasmik-kwashiorkor akan tampak gejala campuran marasmus dan kwashiorkor,dengan BB/U < 60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang tidak mencolok.

Penanganan Kurang Gizi

Kurang Gizi yang ringan dapat ditangani dengan pemberian makanan yang bergizi, seimbang , dengan memperbanyak porsi makanan berprotein tinggi, biji-bijian, buah-buahan dan sayuran. Pemberian ASI ekslusif pada bayi sampai usia 4 bulan dan ASI pada bayi sampai usia 2 tahun juga dapat mencegah kejadian kurang gizi.  Beberapa makanan tinggi protein yang dapat diberikan diantaranya: telur,  tenderloin ayam (White Meat), dada ayam (white meat), sirloin (daging sapi), ikan segar, udang, susu murni,  keong mas,  kacang kedelai,  tahu, yoghurt,  kacang almond,  kacang polong, brokoli, tempe, keju,  bayam,  gandum, ikan teri, dan  sushi. Anak dengan kurang gizi  yang berat  harus segera dibawa ke tempat-tempat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang lebih menyeluruh, seperti pemberian makanan melalui selang(nasogastric feeding), pemberian cairan rehidrasi, serta pengawasan medis terhadap keadaan umum  dan penanganan komplikasi malnutrisinya.

2. Berat Badan Berlebih (Obesitas)                                                                                    

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan, yang terjadi ketika konsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan tubuh. Obesitas meliputi beberapa faktor seperti genetik, psikis, dan lingkungan seperti perilaku/pola/ gaya hidup, misalnya apa yang dimakan, berapa kali sehari dia makan, serta apa saja aktivitasnya. Obesitas pada anak juga perlu diwaspadai, sebab peningkatan berat badan ini akan berdampak pada hal lain seperti intoleransi glukosa, dan hipertensi.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah obesitas pada anak adalah : membatasi konsumsi gula, lebih banyak minum air mineral, mengkonsumsi buah (salah satunya Kiwi) 2 porsi sehari, dan sayur 5 porsi sehari, tidak duduk lebih dari 2 jam, melakukan aktivitas fisik minimal satu jam setiap hari, dan melakukan olahraga selama 20 menit sebanyak 3 kali seminggu.

Hal pokok yang dapat dilakukan orang tua atau pengasuh untuk  mencegah  malnutrisi pada anak adalah dengan mengatur pola makan mereka. Orang tua seharusnya tidak membiarkan anak memilih-milih makanan hanya sesuai dengan selera mereka, tetapi harus sabar untuk mengarahkan dan membiasakan mereka mengkonsumsi makanan yang sehat dan seimbang. Berikut beberapa cara untuk menjaga pola makan anak tetap sehat dan seimbang:

  1. Selalu berikan makanan seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan serat  pada anak pada waktu-waktu yang teratur
  2. Berikan contoh pada anak,  bahwa orang tua pun, harus membiasakan diri makan makanan yang sehat
  3. Kadang-kadang anak tidak dapat menghabiskan makanan pokok yang telah disediakan, maka berikan  camilan tambahan dua atau tiga kali sehari pada anak disamping makanan pokoknya
  4. Tawarkan berbagai jenis makanan kepada anak Anda seperti buah-buahan, produk susu rendah lemak, daging rendah lemak dan kacang-kacangan. Tawarkan padanya jenis makanan baru walaupun pada awalnya mungkin ia akan menolak. Menurut penelitian, biasanya anak akan menerima makanan baru setelah 4-5 kali penawaran.
  5. Sajikan makanan sehat dalam bentuk yang menarik bagi anak.
  6. Berikan makanan yang dimasak dengan rendah lemak, seperti makanan yang dipanggang atau direbus, dibandingkan dengan memberikan makanan yang digoreng.
  7. Libatkan anak dalam menyiapkan hidangan dan merapikan meja makan. Anak-anak akan lebih bersemangat menyantap makanan yang ia hidangkan sendiri.
  8. Hindari pemberian makanan bergizi rendah, karena akan menyebabkan anak cepat kenyang dan tidak mau makan makanan sehat. Tetapi, jangan terlalu ketat, karena dapat menyebabkan anak menjadi stres. Mengkonsumsi permen dan makanan dari restoran cepat saji dalam jumlah yang sedikit boleh saja diberikan pada anak sewaktu-waktu.
  9. Pastikan anak makan sarapan. Sarapan memberikan anak energi yang cukup yang mereka butuhkan untuk belajar dan beraktivitas di sekolah.

Cara-cara di atas tentunya dapat dikembangkan sendiri oleh para orang tua. Yang jelas, penting bagi orang tua, terutama ibu,  untuk berusaha menyediakan nutrisi yang tepat bagi buah hatinya. Nutrisi yang tepat dan halal, kasih sayang yang tulus, dan pendidikan yang benar adalah kombinasi ideal untuk membentuk anak yang sehat, cerdas, dan berakhlak baik, yang nantinya berperan membentuk generasi Islam yang tangguh dan berkualitas, InsyaaAllah.

Penulis : dr. Liz Marisa Azizah (Alumni FK UGM)

******

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.