Mengenal MERS CoV (HCoV EMC/2012)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

iddle East Respiratory Syndrome [MERS, Sindrom Pernapasan Timur Tengah] adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan. Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada tahun 2012. MERS disebabkan oleh virus coronavirus (CoV), sehingga disebut MERS-CoV. Virus ini disebut juga dengan HCoV EMC/2012 (Human CoronaVirus Erasmus Medical Center/2012), berdasarkan nama institusi atau laboratorium virologi di Erasmus Medical Center (EMC), Rotterdam, Belanda, yang pertama kali berhasil mengisolasi dan mempublikasikan penemuan virus tersebut dari dahak (sputum) penderita radang paru (pneumonia) di Arab Saudi pada tahun 2012.

Sebagian besar pasien yang dilaporkan terinfeksi MERS-CoV mengalami penyakit pernapasan akut yang berat (severe acute respiratory illness). Pasien mengalami gejala demam, batuk, dan kesulitan bernapas. Meskipun demikian, ada juga yang hanya mengalami gejala ringan (mild illness) atau bahkan tidak bergejala (asimptomatik). Kurang lebih 30% pasien yang terinfeksi MERS-CoV meninggal dunia. Sampai saat ini, belum ada vaksin yang dapat mencegah infeksi virus MERS-CoV dan tidak ada terapi khusus yang direkomendasikan untuk mengobati infeksi virus MERS-CoV.

Dari April 2012 sampai tanggal 24 April 2014, WHO telah menerima laporan 254 kasus pasien yang dinyatakan positif terinfeksi MERS-CoV, dengan kematian sejumlah 93 orang (angka kematian ±37%). Sejak pertengahan Maret 2014, terdapat peningkatan kasus yang dilaporkan di Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UEA). Terdapat enam negara di semenanjung Arab yang melaporkan kejadian MERS-CoV, yaitu Jordania, Kuwait, Oman, Qatar, Kerajaan Saudi Arabia (KSA), dan Uni Emirat Arab (UEA). Negara-negara yang melaporkan kasus MERS-CoV yang berkaitan dengan riwayat perjalanan atau bepergian ke negara-negara Arab tersebut antara lain Perancis, Jerman, Yunani, Italia, Inggris (untuk negara di kawasan Eropa); Tunisia (negara di Afrika utara); Malaysia dan Filipina (negara di Asia). Baru-baru ini, tanggal 2 Mei 2014, seorang warga Amerika Serikat yang tinggal di Indiana terbukti positif terinfeksi virus MERS-CoV setelah pulang dari Arab Saudi.

Infeksi MERS-CoV sangat mungkin untuk terus menyebar ke negara-negara lainnya melalui turis, pelancong, pekerja, atau jamaah haji dan umrah. Ketika virus MERS-CoV masuk ke suatu negara tertentu, maka apakah virus MERS-CoV tersebut akan menjadi semakin menyebar di negara tersebut ataukah tidak, sangat bergantung pada kecepatan negara tersebut untuk mendeteksi, mendiagnosis, dan menerapkan kebijakan yang tepat untuk mengontrol penularan dan penyebaran virus tersebut. Meskipun demikian, pengalaman penanganan infeksi virus MERS-CoV beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa penularan atau transmisi virus ini tidak berlangsung secara terus-menerus.

Virus ini menular dari orang yang terinfeksi ke orang lain (yang sebelumnya masih sehat) melalui kontak langsung (close contact, human-to-human transmission). Sebanyak 75% kasus baru yang dilaporkan tampaknya merupakan kasus sekunder, artinya mereka terinfeksi karena penularan dari orang lain yang telah terinfeksi MERS-CoV. Mayoritas kasus sekunder ini adalah petugas kesehatan yang mendapatkan infeksi tersebut di fasilitas atau tempat layanan kesehatan, seperti di rumah sakit. Demikian juga, pasien yang dirawat di rumah sakit karena penyakit lain, juga dapat terinfeksi MERS-CoV di rumah sakit.

Kurang lebih seperempat kasus merupakan kasus primer. Mekanisme penularan ke manusia yang (mungkin) berasal dari binatang atau lingkungan masih dalam tahap penelitian oleh para ahli. Analisis genetik terhadap HCoV EMC/2012 menunjukkan bahwa virus tersebut sangat dekat kekerabatannya (100% identik) dengan coronavirus yang ditemukan di kelelawar. Oleh karena itu, kelelawar sangat mungkin berperan dalam transmisi HCoV EMC/2012. Karena bagaimana mekanisme pasti virus tersebut menular ke manusia masih belum diketahui secara pasti, maka mungkin akan lebih banyak lagi kasus baru yang dilaporkan sampai ditemukan metode yang tepat untuk memutus mata rantai penularan ke manusia berdasarkan mekanisme penularan virus tersebut. Yang menarik, terjadinya kasus baru tampaknya memiliki pola tertentu, yaitu meningkat pada bulan Maret-April dan seterusnya.

[dr. M. Saifudin Hakim, MSc]

 

Referensi:

  1. http://wwwnc.cdc.gov/eid/article/19/11/13-1172_article.htm
  2. http://www.cdc.gov/coronavirus/mers/index.html
  3. http://emergency.cdc.gov/han/han00361.asp
  4. www.who.int/csr/disease/coronavirus_infections/MERS_CoV_RA_20140424.pdf
  5. Zaki AM, van Boheemen S, Bestebroer TM, Osterhaus AD, Fouchier RA. Isolation of a novel coronavirus from a man with pneumonia in Saudi Arabia. N Engl J Med. 2012; 367:1814-20.
  6. van Boheemen S, de Graaf M, Lauber C, Bestebroer TM, Raj VS, Zaki AM, Osterhaus AD, Haagmans BL, Gorbalenya AE, Snijder EJ, Fouchier RA.Genomic characterization of a newly discovered coronavirus associated with acute respiratory distress syndrome in humans.Molecular Bio. 2012 Nov 20;3(6).

 

Artikel www.kesehatanmuslim.com

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

jika ingin konsultasi gratis, silahkan kirim pertanyaan di sini

 

Share.

About Author

Leave A Reply