Mengenal Virus Hepatitis E

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Virus hepatitis E merupakan salah satu penyebab penyakit hepatitis akut (infeksi pada organ hati atau liver). Selain virus hepatitis E, kita juga mengenal virus hepatitis A, virus hepatitis B, virus hepatitis C dan virus hepatitis D.

Virus hepatitis non-A dan non-B

Pada zaman dahulu, ilmu kedokteran hanya mengenal virus hepatitis A dan B. Ketika itu, terdapat wabah penyakit kuning dalam jumlah yang sangat besar (sekitar 29.000 pasien) di India pada era tahun 1950-an. Karakteristik penting wabah tersebut adalah angka kematian yang sangat tinggi pada wanita hamil. Ketika dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi virus hepatitis A dan B, ternyata hasilnya negatif. Karena virus penyebab belum teridentifikasi, ketika itu para ilmuwan memberi nama patogen penyebab wabah tersebut dengan nama virus hepatitis non-A dan non-B.

Virus hepatitis E baru ditemukan pada tahun 1991. Setelah penemuan itu, berbagai macam koleksi sampel wabah zaman dahulu pun diperiksa kembali apakah wabah virus non-A dan non-B tersebut disebabkan oleh virus hepatitis E. Dan ternyata berbagai wabah tersebut memang benar disebabkan oleh virus hepatitis E. Pada saat ini, wabah virus hepatitis E terutama terjadi di kamp-kamp pengungsian di Afrika, karena akses sanitasi yang buruk.

Virus hepatitis E: penyebab terbanyak hepatitis akut

Data-data epidemiologis dari seluruh dunia menunjukkan bahwa virus hepatitis E merupakan virus terbanyak penyebab infeksi akut pada liver, lebih tinggi dibandingkan virus hepatitis A dan B. Virus hepatitis E menular melalui sumber air dan makanan yang terkontaminasi.

Pada umumnya, seseorang yang terinfeksi virus hepatitis E dapat sembuh sendiri dan tidak menimbulkan komplikasi berat. Oleh karena itu, obat-obatan anti-virus spesifik juga tidak dibutuhkan. Akan tetapi, perhatian penting perlu diberikan kepada kelompok ibu hamil. Karena jika terinfeksi virus ini, angka kematian mencapai 20-30% dan juga menimbulkan komplikasi serius pada ibu maupun janin yang dikandung.

Virus hepatitis E menyebabkan infeksi kronis pada pasien dengan gangguan sistem imunitas

Pada awalnya, ilmuwan mengira virus hepatitis E hanya menyebabkan hepatitis akut. Akan tetapi, berbagai laporan dari negara-negara maju semakin banyak menunjukkan bahwa virus hepatitis E dapat menyebabkan infeksi kronis. Infeksi kronis virus hepatitis E (menetap lebih dari 6 bulan) terutama dijumpai pada pasien dengan sistem imunitas yang lemah (imunosupresi). Misalnya pasien-pasien organ transplantasi yang mengkonsumsi obat-obatan untuk menekan sistem imunitas. Juga pada penderita kanker. Berbeda dengan negara berkembang, penularan virus hepatitis E di negara maju terutama melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi virus hepatitis E.

Pencegahan infeksi virus hepatitis E

Saat ini, pencegahan utama penularan virus hepatitis E adalah dengan menjaga kebersihan sumber air minum dan makanan yang dikonsumsi setiap harinya. Vaksin untuk mencegah virus hepatitis E sudah ditemukan oleh para ilmuwan di Cina (nama paten: Hecolin). Namun, penggunaannya masih terbatas di Cina karena produsesn vaksin tersebut belum lolos standar pre-kualifikasi yang ditetapkan oleh WHO sehingga belum bisa mendistribusikan vaksin produksinya ke luar negeri.

***

Diselesaikan menjelang shalat Jumat, 14 Jumadil tsani 1439/ 2 Maret 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.

 

Referensi:

Hakim MS, Wang W, Bramer WM, Geng J, Huang F, de Man RA, Peppelenbosch MP, Pan Q. The global burden of hepatitis E outbreak: A systematic review. Liver International 2017; 37(1): 19-31.

Hoofnagle JH, Nelson KE, Purcell RH. Hepatitis E. N Engl J Med 2012; 367: 1237-1244.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply