Menggunakan ASI sebagai Obat Tetes Mata dan Telinga, Bolehkah?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Di antara praktek yang cukup menyebar luas di masyarakat adalah penggunaan ASI untuk obat tetes mata atau telinga anak yang sakit. ASI memang mengandung bahan-bahan yang dapat membunuh mikroorganisme penyebab infeksi mata dan telinga. Namun, penggunaan ASI sebagai obat tetes mata dan telinga perlu ditelaah secara mendalam dari sisi medis tentang potensi manfaat dan bahayanya.

Mata merah (disertai nyeri) bisa disebabkan karena adanya radang pada selaput luar luar mata (konjugtiva). Peradangan ini bisa disebabkan karena iritasi mata karena zat-zat kimia tertentu, umumnya karena pemakaian sabun, bedak, atau sampo. Bisa juga disebabkan oleh infeksi bakteri (Chlamydia trachomatis, gonorrhea, dan sebagainya) atau virus tertentu. Penyebab lain yang lebih jarang adalah karena alergi bahan-bahan tertentu.

Sebagaimana telah kita ketahui, untuk merekomendasikan sebuah bentuk terapi, perlu ditelaah terlebih dulu berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada. Bukan hanya sekedar pengalaman atau testimoni dari orang per orang. Sampai saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan adanya manfaat positif pemberian tetes ASI sebagai obat penyakit mata. Oleh karena itu, dokter sampai saat ini tidak menganjurkan (merekomendasikan) penggunaannya.

Sebaliknya, penggunaan ASI sebagai obat tetes mata justru mengandung potensi bahaya (efek merugikan) bagi mata. Hal ini bisa dilihat dari dua poin berikut ini:

  1. Sterilitas ASI

Perlu diketahui, ASI bukanlah bahan yang steril (bebas kuman). Di dalam ASI, terkandung berbagai jenis mikroorganisme (mikrobiota atau bakteri “baik”) yang berasal dari saluran pencernaan sang ibu. Bakteri-bakteri “baik” yang berada di saluran pencernaan (usus) ibu ini kemudian ditransfer kepada sang bayi melalui ASI. Bayi sangat membutuhkan mikrobiota ini untuk perkembangan dan pematangan saluran pencernaan dan sistem pertahanan tubuhnya. Bakteri yang umum dijumpai di ASI antara lain Lactobacillus rhamnosus GG, Bifidobacteria infantis, Streptococcus thermophilus, Bacillus subtilis, dan Bifidobacteria bifidus. Oleh karena itu, pada bayi yang mendapatkan ASI, ~95% mikrobiota di usus bayi terdiri dari bakteri Lactobacillus sp. dan Bifidobacterium sp.

Perlu diketahui, bakteri-bakteri tersebut menjadi “bakteri baik” ketika berada di saluran pencernaan bayi. Hal ini karena sesuai dengan pengaturan fisiologisnya. Jika bakteri tersebut berpindah dari tempat tinggalnya yang normal (misalnya ke mata atau telinga), bisa jadi justru menyebabkan penyakit alias infeksi. Apalagi kondisi mata ketika itu sedang mengalami proses inflamasi aktif (peradangan). Oleh karena itu, meneteskan ASI ke mata justru menyimpan potensi bahaya, yang tidak kita sadari. Karena faktor ini pula, menggunakan ASI sebagai tetes telinga, juga sangat tidak dianjurkan.

  1. Tonisitas dan Derajat Keasaman (pH) ASI.

Sediaan tetes mata juga memiliki syarat isotonis dengan selaput lendir mata dan memiliki pH sesuai dengan pH air mata (∼7.4). ASI juga tidak memenuhi kedua syarat ini karena pH ASI sekitar 7.1, sedikit lebih rendah dibandingkan pH air mata sehingga tetap ada potensi menyebabkan iritasi pada mata.

Fungsi ASI untuk memperkuat tubuh melawan penyakit infeksi adalah karena manfaatnya yang memperkuat sistem pertahanan tubuh bayi di saluran cerna dan di seluruh tubuh secara umum. Ini didapatkan setelah ASI masuk ke bayi melalui proses menyusui, bukan melalui jalan lain, termasuk ketika diberikan sebagai tetes mata atau tetes telinga.

Jika bayi sakit, biasanya akan menyusu lebih sering sehingga pastikan ibu tetap menyusui tanpa dibatasi dengan melakukan observasi kondisi klinisnya. Bayi mungkin lebih rewel sehingga carilah posisi menyusui yang nyaman. Jika bayi sulit menyusu, maka perah ASI kemudian berikan menggunakan sendok atau gelas dengan aman. Anak lebih besar yang sudah mendapat MPASI tetap diberikan makan yang lembut, bervariasi, menggugah selera dan disukai olehnya. Bawa bayi yang sakit untuk periksa konsultasi ke dokter yang terpercaya. Jangan lupa meminta nasihat perawatan jika rawat jalan di rumah. Segera bawa bayi periksa ke fasilitas kesehatan terdekat jika sulit minum, menolak menyusu, memuntahkan semua asupannya atau terdapat tanda bahaya lainnya. Bayi sakit harus tetap mendapatkan perawatan kesehatan rasional yang tepat sehingga lekas sembuh. Sakit berkepanjangan berisiko menyebabkan anak kurang gizi. Pemberian obat, vitamin, mineral juga cairan rehidrasi yang diperlukan bayi sesuai indikasi kesehatan tidak akan merusak status ASI eksklusif sehingga ibu tidak perlu khawatir.

Kesimpulan

ASI adalah nutrisi terbaik yang Allah Ta’ala anugerahkan untuk bayi sejak awal kehidupannya. Berbagai penelitian pun telah banyak menunjukkan manfaat yang sangat besar bagi bayi, sehingga para ahli pun mengakuinya. Oleh karena itu, manfaat ASI hendaknya dikembalikan sebagaimana fungsi awalnya sebagai nutrisi (bahan makanan). Bukan sebagai vaksin, obat tetes mata, tetes telinga, atau fungsi lain yang tidak pernah dibuktikan kebenarannya atau justru menyimpan potensi bahaya. Wallahu Ta’ala a’lam.

***

Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 29 Dzulhijjah 1438/20 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc dan dr. Annisa Karnadi, IBCLC

 

Referensi:

American Academy of Pediatrics. Breastfeeding and the use of human milk. Executive Summary. Section on breastfeeding. Pediatrics 2012; 129: e827–e841.

Lawrence RA, Lawrence RM. Breastfeeding: a guide for the medical profession. Seventh Edition. Elsevier Mosby: Missouri, 2005.

Rodriguez JM. The origin of human milk bacteria: Is there a bacterial entero-mammary pathway during late pregnancy and lactation? Adv Nutr 2014; 5: 779-784.

UNICEF. Improving breastfeeding, complementary foods and feeding practice. 2017. Dapat diakses di:

https://www.unicef.org/nutrition/index_breastfeeding.html

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply