Menuliskan Lafadz Al-Qur’an atau Do’a kepada Orang Sakit

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Fatwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdullah Al-Imam

Pertanyaan:

Bolehkah menuliskan lafadz Al-Qur’an kepada orang yang terkena penyakit?

Jawaban:

Sebagian manusia ada yang menuliskan lafadz Al-Qur’an di bagian tubuh yang sedang terkena penyakit, baik di bagian paha, pusar, atau sejenisnya. Mereka menyangka bahwa hal itu diperbolehkan. Dan betapa jauhnya perbuatan tersebut dari diperbolehkan. Bagaimana tidak, orang yang memperbolehkannya tidak memiliki dalil apa pun, baik (dalil dari) Allah Ta’ala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pula (tidak ada dalil) dari para sahabat, tabi’in, dan para pengikut mereka semuanya.

Adapun yang diriwayatkan oleh Al-Maruzi, dia berkata,

“Kabar kedatanganku sampai kepada Abu ‘Abdillah, yaitu Ja’far Ash-Shadiq, dan dia lalu menuliskan untukku di sebuah papan karena aku sakit demam, tertulis:

بسم الله الرحمن الرحيم، بسم الله، وبالله، محمد رسول الله

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, dengan menyebut nama Allah, Muhammad adalah utusan Allah,

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

“Kami berfirman, ‘Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 69-70)

اللهم رب جبرائيل، وميكائيل، وإسرافيل، اشف صاحب هذا الكتاب بحولك وقوتك وجبروتك، إله الحق آمين.

Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, Israfil, sembuhkanlah orang yang aku tuliskan di tubuhnya ini, dengan daya dan kekuatan-Mu, kekuasaan-Mu, sesembahan seluruh makhluk, aamiin.” Dikutip dari Zaadul Ma’aad (4/291).

Kisah ini disebutkan oleh Al-Hamawi di kitab beliau, Al-Ahkaam An-Nabawiyyah, juga Ibnul Qayyim di Thibb Nabawi, juga disebutkan oleh Adz-Dzahabi di Ath-Thibb. Namun kisah ini tidak shahih. Karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama ‘Amr bin Majma’ As-Sukuniy. Ibnu ‘Adi berkata tentang ‘Amr, “Mayoritas riwayat beliau tidak memiliki mutaba’ah.” Juga dinilai dha’if oleh Ad-Daruquthni, Ar-Razi, Ibnu Syahin, dan selain mereka. Lihat Lisaanul Mizan (4/433).

Terdapat juga kisah yang lain dari Al-Khallal, beliau berkata, “Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, “Aku melihat bapakku (yaitu Imam Ahmad, pen.) menuliskan di sebuah gelas berwarna putih kepada wanita yang kesulitan melahirkan, beliau menulis hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

لا إله إلا الله الحليم الكريم، سبحان الله رب العرش العظيم، الحمد لله رب العالمين:

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha pemurah, Yang Maha mulia. Maha suci Allah, Rabb pemilik ‘arsy yang agung. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam:

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi’at [79]: 46)

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ

“Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari.” (QS. Al-Ahqaaf [46]: 35)

Al-Khallal menyebutkan bahwa Imam Ahmad berdalil dengan riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘nhuma, beliau berkata,

مر عيسى عليه السلام على بقرة قد اعترض ولدها في بطنها، فقالت: يا كلمة الله! ادع الله لي أن يخلصني مما أنا فيه، فقال: يا خالق النفس من النفس، ويا مخلص النفس من النفس، ويا مخرج النفس من النفس، خلصها. قال: فرمت بولدها، فإذا هي قائمة تشمه»

“Isa berjalan melewati seekor sapi betina yang tampak kesakitan karena hendak melahirkan anak di perutnya. Sapi betina itu berkata, “Wahai kalimat Allah (yaitu Nabi Isa, pen.), berdoalah kepada Allah untuk mengeluarkan apa yang ada di perutku ini.” Lalu Nabi Isa berkata, “Wahai Pencipta jiwa, yang membebaskan jiwa, yang mengeluarkan jiwa, keluarkanlah.” Isa berkata, “Sapi betina itu mendorong anaknya (keluar), kemudian dia berdiri menciumnya.“

Aku (Syaikh Muhammad bin ‘Abdullah Al-Imam) berkata, “Ini termasuk kisah israiliyat, yang tidak dapat divalidasi dan tidak boleh berdalil dengan kisah-kisah yang tidak shahih dari bani Israil.”

***

Diselesaikan ba’da ashar, Rotterdam NL, 9 Sya’ban 1439/ 26 April 2018

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Diterjemahkan dari kitab Ahkaam At-Ta’aamul ma’a Al-Jinn wa Adaabu Ar-Ruqa Asy-Syar’iyyah hal. 96-97, karya Syaikh Abu Nashr Muhammad bin ‘Abdullah Al-Imam, penerbit Maktabah Al-Imam Al-Wadi’i, Shan’a (Yaman), cetakan pertama tahun 1434.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply