Merubah Gaya Hidup Untuk Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Oleh : dr. Rano Irmawan, Sp.JP, FIHA (2022)

Apa itu Hipertensi?

Hipertensi adalah kondisi meningkatnya tekanan darah, yaitu tekanan sistolik > 140 mmHg, dan tekanan diastolic > 90 mmHg. Definisi tersebut berlaku untuk dewasa, sedangkan kriteria hipertensi untuk anak-anak dan remaja berdasarkan nilai persentil.

Hipertensi merupakan faktor resiko yang penting untuk Penyakit Jantung Koroner (penyebab kematian nomer 1 di Amerika), Stroke (penyebab kematian nomer 3 di Amerika), Gagal Jantung Kongestif, Gagal Ginjal dan Penyakit Pembuluh Darah Perifer.

Penegakan diagnosis hipertensi berdasarkan pemeriksaan tekanan darah sebanyak dua kali dalam satu kali periksa ke dokter dan minimal dua kali periksa ke dokter.

Hipertensi Primer(Essensial) dan Sekunder

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua macam, yakni hipertensi primer dan hipertensi sekunder.

  • Hipertensi Sekunder: Hipertensi yang disebabkan oleh kerusakan organ, diantaranya gangguan pada ginjal, pembuluh darah dan endokrin.
  • Hipertensi Primer/Essensial: Hipertensi yang tidak bisa/ sulit diketahui penyebabnya, yang ini mungkin disebabkan oleh penyebab genetic atau lingkungan. Hipertensi Primer/Essensial merupakan 90-95% kasus hipertensi pada dewasa, sedangkan Hipertensi Sekunder merupakan 2-10% kasus hipertensi pada dewasa.
Penyebab Hipertensi Primer/Essensial

Penyebab Hipertensi Primer/Essensial adalah multifactorial dan kompleks, diantaranya:
1. Genetic
2. Konsumsi Garam Berlebih
3. Stress Lingkungan
4. Obesitas
5. dsb

Perubahan Gaya Hidup (Life Style) untuk Penanganan Hipertensi

Perubahan gaya hidup, termasuk salah satu hal yang pokok dalam penangan hipertensi. Penelitian penelitian menyebutkan bahwa efek dari perubahan gaya hidup setara dengan monoterapi obat. Walaupun hal ini penting, namun perubahan gaya hidup ini tidak menghalangi untuk pemberian obat sebagai terapi hipertensi. Perubahan gaya hidup ini juga berfungsi untuk mencegah terjadinya hipertensi pada subhyek yang belum menderita hipertensi.

Perubahan gaya hidup ini adalah:
1. Batasi konsumsi garam
2. Hindari konsumsi alcohol
3. Banyak makan sayuran dan buah dan makanan rendah lemak
4. Penurunan berat badan dan mempertahankan berat badan sehat
5. Olahraga fisik secara rutin
6. Hindari merokok
7. Hindari stress

Batasi Konsumsi Garam

Penelitian yang ada menunjukkan adanya hubungan antara meningkatnya konsumsi garam dengan meningkatnya hipertensi dan konsumsi garam yang berlebihan akan menyebabkan hipertensi resisten. Mekanisme nya adalah dengan meningkatnya volume ekstraseluler, meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer akibat dari aktivasi simpatis.

Umumnya konsumsi garam adalah 9-12 g/hari (1-1,5 sendok teh garam). Bila konsumsi garam diturunkan menjadi 5 g/hari akan menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 1-2 mmHg pada orang yang tidak menderita hipertensi dan menurunkan 4-5 mmHg pada penderita hipertensi.

Disarankan konsumsi garam per hari adalah 5-6 g (1/2 sendok teh garam).

Cara melakukan restriksi garam adalah dengan mengurangi konsumsi garam dapur, dan makanan asin, selain itu pabrik makanan juga sebaiknya mengurangi kandungan garam pada makanan yang mengandung ‘garam tersembunyi’ yaitu roti, daging olahan, keju, margarin dan sereal.

Hindari Konsumsi Alkohol

Hubungan banyaknya konsumsi alcohol berbanding lurus dengan peningkatan tekanan darah. Alkohol akan meningkatkan tekanan darah dan meningkatkan resiko stroke. Penurunan konsumsi alcohol akan menurunkan tekanan darah sistolik 12mmHg dan diastolic 0,7mmHg setelah 6 bulan.

Alkohol yang terkandung dalam makanan ataupun sebagai campuran obat tidak membahayakan karena jumlah yang sangat kecil, batas konsumsi ethanol untuk laki2 < 20-30g/hari (<140g/minggu), Wanita <10-20g/hari (<80g/minggu).

Banyak makan sayuran dan buah dan makanan rendah lemak

Penderita hipertensi disarankan untuk makanan buah dan sayuran, produk daging rendah lemak, makanan tinggi serat, gandum, dan protein dari sumber tumbuhan. Disarankan pula untuk mengurangi makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol. Pasien dengan hipertensi disarankan untuk makan ikan minimal 2 kali seminggu dan buah–sayuran 300-400 g/hari. Jika pasien menghendaki minum susu, lebih disarankan susu kedelai daripada susu sapi.

Bagaimana dengan KOPI??

Ternyata penelitian yang sudah dilakukan, yaitu 10 RCT dan 5 kohort, tidak menemukan bahwa konsumsi kopi meningkatkan/ menurunkan tekanan darah.

Penurunan berat badan dan mempertahankan berat badan sehat

Hipertensi berhubungan erat dengan berat badan yang berlebih. Patogenesis kelebihan berat badan akan meningkatkan tekanan darah adalah:
1. Sel-sel lemak akan melepaskan angiotensinogen yang merupakan substrat system renin-angiotensin
2. Meningkatnya volume darah karena massa tubuh yang meningkat
3. Meningkatnya viskositas darah karena sel-sel lemak melepaskan fibrinogen dan plasminogen activator inhibitor-1.

Penurunan berat badan sebesar 5,1 kg akan menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 4,4 mmHg dan tekanan diastolic sebesar 3.6 mmHg. Berat badan yang sehat adalah BMI 25 kg/m2 dan lingkar pinggang laki2 < 102 cm dan Wanita <88 cm. Dengan mencapai berat badan yang sehat akan mencegah hipertensi pada orang yang sehat dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.

Olahraga fisik rutin

Olahraga yang bersifat aerobic (Jalan, Jogging, Sepedaan dan Renang) akan mencegah hipertensi dan menurunkan tekanan darah. Dengan olahraga rutin akan menurunkan tekanan darah sistolik 3 mmHg dan diastolic 2.4 mmHg pada orang sehat dan menurunkan sistolik sebesar 6,9 mmHg dan diastolic 4.9 mmHg pada penderita hipertensi. Penderita hipertensi disarankan untuk olahraga 30 menit sebanyak 5-7 kali selama seminggu.

Stop Rokok

Merokok akan meningkatkan tekanan darah dan kecepatan nadi secara akut, yaitu saat merokok dan sampai 15 menit setelah merokok. Merokok akan meningkatkan simulasi system saraf simpatis yang akan meningkatkan tekanan darah. Terapi dengan nicotine replacement therapy seperti bupropion atau varenicline bisa diberikan.

Hindari Stres

Terdapat penelitian cohort yang menunjukkan bahwa 15,9% subjek penelitian yang diberi stressor mental akan menderita hipertensi. Stress mental akan meningkatkan reaktivitas kortisol yang ini akan mempengaruhi fungsi hipotalamus-kelenjar pituitary-kelenjar adrenal yang kemudian akan meningkatkan tekanan darah.

Daftar Pustaka

2013. Mancia, G. ESH/ESC Guidelines for The Management of Arterial Hypertension. European Heart Journal
2019. Alexander, M. S. Hypertension. Medscape
2011. Lilly, L.S.. Pathophysiology of Heart Disease.

Share.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.