Nikmat Sehat yang Sering Dilalaikan dan Dilupakan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Memang nikmat kesehatan adalah kenikmatan yang sering kita lalaikan, jarang disyukuri dengan mengisinya dengan hal-hal bermanfaat sebagai rasa syukur kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

نِعْمَتَانِمَغْبُونٌفِيهِمَاكَثِيرٌمِنَالنَّاسِ،الصِّحَّةُوَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”[1]

Bahkan kesehatan adalah salah satu dari tiga nikmat yang jika benar-benar disyukuri, maka kita akan menjadi raja dunia. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْأَصْبَحَمِنْكُمْمُعَافًىفِيجَسَدِهِآمِنًافِيسِرْبِهِعِنْدَهُقُوتُيَوْمِهِفَكَأَنَّمَاحِيزَتْلَهُالدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan
[1] sehat badannya
[2] aman pada dirinya,
[3] dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu,
maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.”[2]
Ya, Kenikmatan tersebut perlu kita renungi bersama adalah Kesehatan

Jika ingin sangat mensyukuri nikmat kesehatan, maka lihatlah penderitaan dan kesempitan orang yang sakit. Misalnya penderitaan pedih orang yang sulit buang air Kecil. Bagi tenaga medis mungkin sering melihat pasien dengan keluhan susah buang air kecil bisa akibat kencing batu, pembesaran prostat atau infeksi saluran kencing. Penyakit ini penuh penderitaan, mulai dari yang “katanya” agak ringan, misalnya anyang-anyangan atau perasaan bahwa kencing tidak puas, masih ada kencing yang tersisa. Ini cukup menganggu konsentrasi dan pekerjaan.

Belum lagi mereka yang mengalami retensi urin, yaitu kencing menumpuk di kandung kemih dn tidak bisa keluar. Pasiennya bisa teriak-teriak kesakitan seharian, bahkan semalaman tidak bisa tidur. Rasa nyerinya tidak bisa digambarkan. Wal’iaydzu billah.

Karena doa keluar dari WC atau toilet isinya adalah meminta ampun, di mana penjelasan ulama alasannya adalah kita jarang sekali mensyukuri nikmat kesehatan misalnya kemudahan BAB dan BAK .

Doa tersebut adalah:

غُفْرَانَكَ

 “Ghufranaka (Aku meminta ampunanmu Ya Allah)”.

Syaik Abdul Aziz bin Baz rahimahullahmenjelaskan,

والحكمة في ذلك والله أعلم أن الله سبحانه قد أنعم عليه بما يسر له من الطعام والشراب، ثم أنعم عليه بخروج الأذى، والعبد محل التقصير في الشكر فشرع له عند زوال الأذى بعد حضور النعمة بالطعام والشراب أن يستغفر الله، وهو سبحانه يحب من عباده أن يشكروه على نعمته

“Hikmah dari doa ini –wallahu a’lam- Allah telah memberikan kenikmatan berupa mudahnya bagi hamba makan dan minum. Kemudian Allah memberikan kenikmatan mudahnya kotoran keluar. Seorang hamba sering meremehkan bersyukur, maka disyariatkan baginya agar beristigfar meminta ampun ketika hilangnya kotoran setelah mendapat nikmat berupa makanan dan minuman. Allah Suhanu mencintai hambanya yang mensyukuri nikmatnya.”[3]

Syaikh Al-Mubarakfuri (ulama dari India penulis sirah nabawiyah yang terkenal) rahimahullah menyebutkan dua hikmah, beliau berkata,

أحدهما : أنه استغفر من الحالة التي اقتضت هجران ذكر الله تعالى فإنه يذكر الله تعالى في سائر حالاته إلا عند الحاجة .
وثانيهما : أن القوة البشرية قاصرة عن الوفاء بشكر ما أنعم الله عليه من تسويغ الطعام والشراب وترتيب الغذاء على الوجه المناسب لمصلحة البدن

Pertama: meminta Ampun kepada Allah, karena keadaan yang menuntut tidak boleh berdzikir (karena di WC tidak boleh berdzikir), karena (seharusnya) ia berdizkir kepada Allah di semua kondisi kecuali ketika ada hajat (yang menghalangi berdizkir)

Kedua: kemampuan manusia terbatas untuk mensyukuri nikmat Allah berupa kemudahan makanan dan minuman serta tertib waktu makan yang sesuai dengan mashlahat badan.[4]

 

penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.kesehatanmuslim.com

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

jika ingin konsultasi gratis, silahkan kirim pertanyaan di sini

 

[1] HR. Bukhari no. 6412

[2]HR. Ibnu majah, no: 4141, dihasankan oleh syaikh al-albani di dalam shahih al-jami’ush shaghir no. 5918

[3] Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/2274

 

[4] Tuhfatul Ahwadzi 1/42,  Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Syamilah

Share.

About Author

alumni Fakultas Kedokteran UGM, sedang menempuh pendidikan spesialis patologi klinik di FK UGM

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.