Pemberian ASI sampai lebih dari dua tahun, apakah berbahaya? (02)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Pemberian ASI ketika usia sudah lebih dari dua tahun dalam tinjauan kesehatan

Sebagaimana aturan syariat, dalam tinjauan medis pun, tidak ada ketentuan khusus harus berhenti menyusui pada usia tertentu. World Health Organization (WHO) sendiri menyatakan bahwa menyusui bayi secara eksklusif sampai usia 6 bulan adalah metode paling optimal untuk nutrisi sang bayi. Hal ini berdasarkan kesimpulan berbagai penelitian dalam masalah ini. Setelah usia 6 bulan, sang bayi harus mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI) dan tetap melanjutkan menyusui sampai usia dua tahun atau bahkan lebih [1].

Sebagian orang menganggap bahwa menyusui lebih dari dua tahun akan menyebabkan karies (kerusakan) gigi. Ini adalah anggapan yang kurang tepat. Tidak ada bukti valid yang menunjukkan bahwa menyusui (ASI) pada usia lebih dari dua tahun dapat menyebabkan karies gigi. Meskipun demikian, seorang bayi yang mendapatkan ASI tetap bisa mengalami karies gigi jika terdapat faktor-faktor risiko yang menyebabkan karies gigi. Di antara faktor utama adalah kebersihan gigi dan rongga mulut secara keseluruhan serta jenis makanan pendamping ASI yang diterima sang bayi.

Salah satu bakteri yang berkaitan dengan karies gigi adalah Streptococccus mutants (S. mutants). Bakteri ini akan menghasilkan asam sehingga dapat merusak gigi. Ketika gigi bayi sudah tumbuh, bayi akan tertular bakteri S. mutants melalui kontak air liur (saliva), baik dari ibu atau pengasuh bayi. Oleh karena itu, untuk menghindari penularan ini, hindari kontak air liur dengan sang bayi, misalnya dengan tidak mencium bayi di bagian bibir, mengunyah (melumat) makanan untuk sang bayi, atau penggunaan sendok dan piring secara bersama-sama [2].

Penelitian tentang efek menyusui terhadap caries gigi memang masih diperdebatkan. UNICEF menyebutkan sebuah penelitian pada 1.576 anak umur 2 sampai 5 tahun di Amerika Serikat bahwa menyusui tidak menjadi faktor risiko terhadap timbulnya caries gigi pada anak usia dini, keparahan caries gigi pada kanak-kanak, maupun gigi ompong. Sebuah penelitian metaanalisis justru menunjukkan bahwa menyusui di masa bayi melindungi anak dari caries gigi. Proses menyusui bahkan bisa membantu pertumbuhan gigi-geligi pada anak. Selain itu, ASI mengandung lactoferrin yang dapat membunuh bakteri S. mutants [2, 3]. Sementara itu, penelitian di Brazil menunjukkan bahwa menyusui lebih dari 24 bulan meningkatkan risiko timbulnya caries, namun hampir separuh anak dalam sampel penelitian tersebut masih memakai botol hingga umur 5 tahun [4].

Proses menyusui secara langsung berbeda dengan pemakaian botol dot. Pada proses menyusui, posisi puting payudara berada di bagian belakang mulut. Terdapat hisapan aktif serta hisapan non-nutritif saat anak menyusu di payudara. ASI hanya akan keluar saat payudara dihisap secara aktif oleh anak. ASI yang keluar dari payudara kemudian merangsang refleks menelan sehingga langsung tertelan oleh anak. Sementara susu di dalam botol akan keluar akibat pengaruh gravitasi meskipun anak tidak aktif menghisap, sehingga kemungkinan menggenang di rongga mulut sangat besar. Di sisi lain, email gigi susu pada anak lebih tipis dibandingkan email gigi permanen. Oleh karena itu, kesehatan gigi anak harus dipersiapkan sejak ibu masih hamil dengan ibu menjaga higienitas rongga mulut, makan makanan bergizi seimbang juga rutin kontrol ke dokter gigi.

Pada kelompok anak umur di atas 12 bulan kejadian caries gigi semakin banyak sebab dipengaruhi juga oleh makanan yang telah dikonsumsi, kebiasaan membersihkan gigi yang kurang baik, serta jarang yang rutin periksa ke dokter gigi. Terlalu berlebihan mengkonsumsi makanan manis akan membuat gigi lebih berisiko berlubang, apalagi banyak anak dibiasakan memakai botol berisi minuman manis saat akan tidur. Tingkat pengetahuan akan kesehatan gigi yang masih sangat kurang juga mempengaruhi kondisi gigi anak. Oleh sebab itu, sangat penting bagi ibu untuk memastikan proses menjaga kebersihan gigi anak sejak bayi, rutin kontrol ke dokter gigi dan memastikan anak mengikuti rekomendasi pola makan sehat sejak dini [5, 6].

Menyapih dengan Cinta (Weaning with Love)

Menyusui masih dianjurkan hingga setidaknya anak berumur 24 bulan. Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) secara bertahap sejak bayi  berumur 6 bulan akan membantu anak untuk mulai terbiasa memakan makanan lain selain susu. Pemberian ASI di atas 12 bulan masih membantu asupan sepertiga kebutuhan kalori harian. Produksi ASI setelah anak berumur di atas 1 tahun memang semakin menurun, namun kandungan kalorinya lebih tinggi. ASI juga masih menjadi sumber multivitamin, mineral juga mengandung faktor pelindung yang membantu kekebalan tubuh anak.  Setelah anak genap berumur 24 bulan, maka ibu bisa memulai proses menyapih dengan cinta [1, 7].

Menyapih dengan cinta dilakukan dengan mengurangi menyusui secara bertahap sehingga anak tidak mengalami trauma serta ibu terlindung dari komplikasi menyapih mendadak yang membuat payudara sakit. Akhiri indahnya momen menyusui ini dengan kenangan manis. Pastikan asupan makan si kecil terpenuhi dengan pola makan bergizi seimbang yang dipantau rutin memakai kurva pertumbuhan WHO. Komunikasikan kesepakatan bersama anak dengan penjelasan singkat yang mudah dipahami. Libatkan suami, keluarga, dokter keluarga, konselor menyusui serta karib kerabat untuk memperlancar proses menyapih dengan cinta. Perbanyak perhatian, pelukan, permainan yang menyenangkan serta aktivitas menarik sebagai pengganti rutinitas menyusui. Menyapih dengan cinta membutuhkan waktu sehingga jadikan sabar dan doa memohon kemudahan menyapih anak sebagai pengawal semangat ibu.

Kesimpulan

  1. Menurut tinjauan hukum Islam, masa menyusui yang sempurna adalah sampai usia dua tahun. Namun, boleh menyusui selama kurang atau lebih dari dua tahun, jika kedua orang tua ridha dan sang bayi juga menginginkannya. Sehingga ketentuan ini adalah ketentuan yang longgar (lapang) dalam syariat.
  2. Klaim sebagian orang bahwa menyusui lebih dari dua tahun berbahaya, adalah klaim yang tidak benar. Tidak ada bukti valid yang menunjukkan bahwa ASI adalah zat penyebab karies (cariogenic).

***

Selesai disusun menjelang maghrib, Rotterdam NL 28 Dzulhijjah 1438/19 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc dan dr. Annisa Karnadi, IBCLC.

 

Catatan kaki:

[1] http://www.who.int/nutrition/topics/exclusive_breastfeeding/en/

[2] Bonyata K. Is breastfeeding linked to tooth decay? Dapat diakses di:

https://kellymom.com/ages/older-infant/tooth-decay/

[3] https://www.unicef.org.uk/babyfriendly/news-and-research/baby-friendly-research/infant-health-research/infant-health-research-dental-health/

[4] Peres KG et al. Impact of prolonged breastfeeding on dental caries: a population-based cohort study. Pediatrics 2017; 140(1):e20162943.

[5] https://www.breastfeeding.asn.au/bfinfo/breastfeeding-and-tooth-decay

[6] https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/teething-tooth-care/Pages/How-to-Prevent-Tooth-Decay-in-Your-Baby.aspx

[7] Ballard O dan Morrow AL. Human milk composition: nutrients and bioactive factors. Pediatr Clin North Am 2013; 60(1): 49-74.

 

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply