Penggunaan Human Cell Line dalam Produksi Vaksin Virus (01)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Setiap kali menjelang bulan kampanye imunisasi, kontroversi tentang vaksinasi selalu saja dihembuskan oleh para antivaks. Dalam bulan imunisasi vaksin measles-rubella (vaksin MR), salah satu isu yang diangkat adalah penggunaan sel manusia (cell line) yang berasal dari janin yang diaborsi (aborted fetus). Tentu saja hal ini menyebabkan ketakutan dan kengerian bagi sebagian orang, dan akhirnya digunakan sebagai salah satu alasan untuk menolak vaksinasi. Oleh karena itu, untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat awam, kami berusaha untuk menjelaskan dalam tulisan singkat ini.

Teknik untuk Mengkultur Virus

Sebagian vaksin dibuat dengan metode atenuasi (melemahkan atau melumpuhkan) atau dengan mematikan (inaktivasi) virus. Untuk memproduksi vaksin dalam jumlah besar, stok virus yang ada tentu harus diperbanyak atau dikembangbiakkan terlebih dahulu dalam jumlah (skala) yang sangat besar di perusahaan produsen vaksin. Untuk mengembangbiakkan virus ini, tentu dibutuhkan teknik dan metode yang sesuai.

Virus adalah organisme yang unik. Virus hanya bisa hidup dan berkembang biak di organisme dan jenis sel tertentu yang sesuai. Sifat ini dikenal dengan istilah “tropisme”. Virus hewan hanya mampu hidup dan berkembang (menginfeksi) di sel hewan. Virus hewan (secara umum) tidak bisa menginfeksi manusia, kecuali virus tersebut telah mengalami mutasi dan proses adaptasi sehingga bisa menginfeksi manusia. Penularan virus dari hewan ke manusia ini dikenal dengan isttilah zoonosis. Yang harus dipahami, virus berbeda dengan bakteri yang bisa ditumbuhkan dalam media agar buatan, baik media cair ataupun media padat.

Demikian pula, virus hanya mampu menginfeksi sel-sel tertentu dan hidup optimal di sel tersebut. Jika berada di luar sel hidup (disebut dengan “sel host), virus tersebut akan mati dan tidak akan bisa berkembang biak. Misalnya, virus hepatitis yang menyebabkan penyakit liver, hanya bisa ditumbuhkan di sel hepar (hepatosit) dan sebagian jenis sel lainnya, namun akan mati jika ditumbuhkan di sel jenis lain. Rotavirus, yang menyebabkan diare, paling baik dikultur di sel epitel usus. Dan demikianlah seterusnya.

Oleh karena itu, tantangan bagi para peneliti yang ingin meneliti virus adalah menemukan jenis sel yang sesuai sehingga virus tersebut dapat tumbuh, berkembang biak dan menginfeksi sel tersebut sehingga dapat dipelajari proses terjadinya penyakit infeksi virus pada manusia (proses patogenesis penyakit). Demikian juga untuk memproduksi vaksin dalam jumlah besar. Stok virus yang ada di perusahaan vaksin harus ditumbuhkan dam dikembangbiakkan dulu dalam jumlah besar untuk menghasilkan jutaan dosis (vial) vaksin. Perlu diketahui bahwa sampai saat ini, beberapa jenis virus yang belum mampu dikultur karena mereka belum menemukan jenis sel yang sesuai dan menjadi tantangan besar untuk para peneliti virus, sampai saat ini. [Bersambung]

***

Diselesaikan menjelang dzuhur, Rotterdam NL 15 Dzulqa’dah 1438/8 Agustus 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply